Passion for Live.

Feb 17, ’11 11:39 AM

Hai teman.
Aku ingin menceritakan dongeng sebelum tidur.
Bukan cerita yang menarik untuk disimak, namun..

—mulai—

Kisah ini dimulai ketika aku menjatuhkan bola kristalku.
Ceroboh.

Kupikir bola kristal itu akan menggelinding seperti bola pada umumnya. Ternyata bola kristal itu justru pecah.
Bodoh.

Aku tidak menangis. Tidak ada rasa marah. Hanya kecewa.
Bola kristal kesayanganku hancur berkeping-keping.

Menatapinya lama..
Meratapinya selalu..

Tapi Tuhan sayang padaku.
Dia taburkan kristal-kristal-Nya yang berbeda di muka bumi.

Kristal pertama, jatuh tepat di depan tempatku berdiri, di antara beling-beling bola kristalku.
Aku pungut..
Aku perhatikan..
Aku rasakan..

Hemm..
Manis.
Itu gula.

Lalu aku bertekad mencari manis-manis yang lain.

Aku berjalan..
Terus berjalan..
Berjalan hingga bosan..
Berjalan hingga lupa apa yang sedang aku cari..
Lalu aku kembali meratapi bola kristalku.

Tuhan masih sangat sayang padaku.

Aku menemukan sebuah kristal baru.
Aku cicipi ia.
Puhh!!
Pedas! Tapi dingin.
Itu rasa mint.

Beberapa saat kemudian, puluhan kristal mint berjatuhan dari langit.
Aku pun segera memakannya.
Enak.
Enak.
Enak… tapi…
Pedas!
Huuhh.. Huuhhh..
Pedas!!!

Aku mencari air.
Aku terlalu tamak.
Aku kepedasan.

Tuhan menunjukkan arah air padaku.
Kumpulan air yang sangat luas yang berujung dengan matahari tenggelam.

Segera kuminum air itu.
Puhh!!
Asin!

—selesai—

Itulah kisahku.
Itulah bagaimana Tuhanku memberiku semangat untuk tetap hidup. Dia memberiku kristal-kristal baru sebagai pengganti bola kristalku yang telah pecah.

Passion for live.

Untukmu Malaikat Kecilku.

Sep 23, ’10 5:19 AM

Malaikat kecilku..
Tak ada dzat lain seindah kamu melainkan Allah, Tuhanmu..
Dalam diammu kau mampu mengangkat semua rasa lelahku.
Terlebih dengan tawamu. Kilauan-kilauan tawamu mampu mencairkan semua beku di hati ini.

Sungguh, aku tidak ingin ini berganti. Sungguh, jika aku mampu, aku akan menghentikan waktu demi tetap bersamamu di umurmu yang masih berbau surga. Namun aku tak mampu sayang.

Tak mampu aku menghentikan waktu karena aku bukan Tuhan. Yang mampu ku lakukan hanyalah mendekapmu erat dalam pelukanku. Menggenggam tanganmu ketika kamu sedang bermain.

Maaf jika kau merasa terkurung di rumah kenangan ini. Maaf jika karenaku, kau menjadi bahan olokan teman sepermainanmu. Maaf.. Maaf.. Maaf..

Aku hanya tidak ingin kau terkontaminasi dengan keruhnya dunia. Aku hanya ingin kau tetap murni dalam senyummu.
Maafkan aku malaikat kecilku.

-BUNDA-

Sebuah Gambar Bergerak.. Otak.

Oct 6, ’09 5:07 AM

aku melihatnya..

dia membelah tengkoraknya..
kemudian mengeluarkan seluruh isi otaknya..

maka taukah kamu bahwa otaknya terpotong kotak-kotak?

lalu disimpannya potongan-potongan otak itu di atas meja..

mengerikan untuk dilihat.. namun menyenangkan saat memegang dan memperhatikan otak yang terkotak-kotak tersebut.

Sebuah Sesuatu.

Oct 4, ’09 1:24 AM

dan tadi malam..
perlahan-lahan dia menelanjangiku..
melepaskan pakaianku satu persatu..

sedang aku hanya diam tak berkutik.
melihat terlalu banyak tatoo menghiasi tubuhku..
menikmati dia menyentuh tubuhku..
membaca seluruh arti yang tersirat dalam tatoo ku..
hingga dia menemukan sebuah luka..
kembali dia memainkan jari jemarinya.. dan aku kesakitan..

namun ini lah yang aku butuhkan.

sakit namun inilah yang ku cari..

Journal of Jogja Trip, February 2, 2013

Gerah!

Aku meraih handphoneku.

04.47

Apa-apan ini?
Aku terbangun di subuh hari bahkan sebelum alarm handphoneku berteriak?
Sungguh sesuatu. -_-

Gerah!
Segeralah aku mengambil air wudhu untuk menyegarkan tubuhku, sekaligus untuk solat subuh.
Mmm.. sebelumnya aku pernah bilang bahwa aku tidak begitu suka mandi, bukan? 😐

“Beh.. bangun, Beh.. Solat subuh.” Aku membangunkan Sendika alias Babeh.

“Hemm..” Sendika membuka matanya sebentar, kemudian dia kembali ke alam bawah sadarnya. Bahkan mungkin dia tidak sadar ketika mengatakan ‘Hemm..’ itu.

“Ril.. bangun, Ril.. Udah subuh. Ayo solat.” Kini Nuril yang tidur di single bed sebelah Sendika menjadi sasaranku. Dia membuka matanya sebentar, kemudian berkedip sebanyak dua kali, lalu dia kembali tidur.

Argh!! Kenapa mereka susah sekali untuk bangun?
“Nuriiill.. ayo banguuunn,” bujukku. “Nuriiiillll…”

Nuril membuka matanya. Kali ini dia meraih handphonenya lalu melihat layar handphonenya sebentar, kemudian dia bangun.

“Ayo solat. Udah subuh.” kataku pada Nuril. Alhamdulillah, satu orang sudah terbangunkan. Masih ada dua lagi. Sendika dan Dwi.

“Babeeeeehhhh!!” Aku mengguncang-guncangkan tubuh Sendika yang gempal itu. “Babeeeehhhhh!” Kali ini aku menguncang-guncangkan tubuh Sendika lebih kencang. Dia membuka matanya.

“Ayo solat!” kataku pada Sendika. Alhamdulillah, satu lagi sudah tersadar. Next person, Dwi.

“Dwi! Ayo bangun!” kataku.

Kali ini aku menyerah. Aku sudah mengguncang-guncangkan tubuh Dwi, menggelitiki tubuh Dwi, bahkan memanggil dengan suara lebih lantang, namun Dwi tidak kunjung bangun. Kuserahkan saja Dwi pada Nia, pacarnya, yang tidur di bunk bed bawah -Dwi tidur di bunk bed atas.

Sebentar, siapa itu yang tidur di bunk bed di atasku? Bagas? Oh, Bagas pindah kamar toh.

Semalam, kesebelasan kami bertambah satu orang dengan hadirnya salah satu teman kami Andoko atau yang biasa dipanggil Docon.
Kamarku yang tadinya hanya berisi lima orang, mau tak mau harus bertambah penghuni menjadi enam orang, sesuai dengan kapasitas maksimum kamar.

“Gas, bangun, Gas,” aku menguncang-guncangkan tubuh Bagas. “ayo subuh.” Alhamdulillah, untuk ‘pasien’ kali ini, aku tidak perlu mengeluarkan tenaga dan kesabaran ekstra dalam membangunkannya.

Selesai membangunkan mereka, aku kembali melanjutkan tidurku. Aku merasa seperti ayam saat itu. -_-

Ntah pukul berapa, aku terbangun kembali. Sama seperti sebelumnya, aku lah yang paling cepat bangun di antara teman-teman sekamarku. Aku membuka pintu kamar lebar-lebar, mengizinkan udara pagi yang segar dan cahaya matahari yang menyapa dengan hangat agar leluasa memasuki kamar.

“Hai, Con!” sapaku sambil mengambil dan menyantap sarapan yang telah tersedia. Tumben sekali, ada penghuni kamar sebelah yang sudah bangun.

Agenda hari ini, kami akan menyambangi Goa Pindul sekaligus mampir ke Pantai Indrayanti. (atau Indriyanti? Indriyani? Entahlah.)
Demi kenyamanan keduabelas anak muda menuju Goa Pindul yang letaknya cukup jauh di Gunung Kidul sana, Andoko menyewa satu lagi mobil rental seharga Rp300.000,- per 24 jam.

“Udah siap-siap, belum? Baju ganti udah? Daleman udah? Alat mandi?” Aku menanyakan pertanyaan yang sama ke kesebelas teman-temanku. Aku merasa seperti seorang ibu saat itu. -_-

Pukul 10.00 kami berangkat menuju Gunung Kidul.
Dengan dua mobil yang ada, otomatis kami dibagi menjadi dua kelompok.
Kelompok 1 terdiri dari aku, Nuril, Sendika, Nia, dan Dwi sebagai penumpang, Bagas dan GPS sebagai navigator, serta Miftah sebagai driver. B)
Kelompok 2 adalah lima orang sisanya, yaitu Yusran sebagai driver, Andoko, Adhita, Haditiyo, dan Anjar sebagai penumpang.

“Gas, kalo mau ke pindul biasanya bukannya ada yang nge-guide ya?” Tanya Sendika kepada Bagas.

“Iya Beh, biasanya kayak gitu.” jawab Bagas yang masih tetap sibuk memperhatikan GPS.

Tak lama kemudian, Bagas berbicara pada seseorang melalui handphonenya.

“Iya Mas, kita mau kesana nih, bisa ketemuan dimana ya? Oh, alun-alun Wonogiri? Iya.. Iya. Iya mas. Makasih.”

Aku tersenyum dalam hati.
Ahh.. dia masih sama seperti yang dulu. Tidak berkata banyak namun selalu melakukan apa yang seharusnya dia lakukan. Salah satu sifatnya yang membuatku jatuh hati empat tahun lalu.
Aku bahkan masih ingat ketika aku kesulitan memainkan DS miliknya. Dia datang ke sampingku, tanpa suara, dan tanpa diminta, meraih DS-nya dan menunjukkan padaku bagaimana menyelesaikan permainan di bagian itu. Aku terperangah. Terpesona. Dan, ya! Hatiku tersenyum.
Sebuah masa yang indah, kenangku.

Sekitar pukul 13.00 kami tiba di lokasi wisata Goa Pindul.
Tempatnya biasa saja, tidak seindah bayanganku.
Wajar! Karena aku masih berada di tempat parkir mobil! 😀
Bersabarlah sedikit dengan berjalan kaki sebentar, maka sebuah tulisan “WIRAWISATA” yang besar akan menyambut dengan sebuah panggung musik yang wah, seperti memaksa pinggul ini ikut bergoyang. -_-

“Wah, beda ya sama terakhir kali gue kesini.” ujar Nuril.

Tak perlu pengalaman untuk membandingkan tempat ini saat dulu dengan saat sekarang, aku tau bahwa tempat ini sudah dikelola dengan baik.
Hal itu terlihat dari fasilitas-fasilitas yang sudah terletak dengan rapi. Kamar mandi, kamar ganti baju, mushola, loket, dsb.

Di lokasi wisata Goa Pindul ini terdapat beberapa paket wisata yang bisa dipilih.
Untuk lebih lengkapnya, bisa bertanya langsung ke @goapindul_GK atau ke websitenya di http://www.goapindul.info/

Setelah aku dan kesebelas temanku dibekali dengan pengaman, seperti rompi pelampung dan ban pelampung, kami semua segera menuju goa dipandu oleh pemandu kami, errr.. aku tidak ingat namanya. 😀

Petualanganpun dimulai! XD

IMG_4189

“Nah, disini kalo mau loncat dari atas boleh kok.” kata sang pemandu ketika kami tiba di perut goa. Di sana terdapat dinding goa yang bisa dipanjat, dan jika sudah sampai di atas, pengunjung diperbolehkan untuk lompat dari atas sana ke dalam air.

Awalnya aku sempat ragu untuk mencoba, namun melihat Sendika, Andoko, Anjar, dan yang lainnya dengan bersemangat memanjat dinding goa, kutepis ragu dan takutku.
Mungkin ini hanya kali ini aku berkunjung ke sini, dan bisa dipastikan aku akan menyesalinya jika aku tidak mencobanya, begitu pikirku.
Daaaannn… akhirnya aku memanjat dinding itu juga. -_-

Gemetar.
Itu yang kurasakan.
Ingin mundur, tapi ahhh.. kebencianku akan sebuah penyesalan muncul kembali.
Ku coba teguhkan hati dan menguatkan kaki untuk melompat.

“Gas! Gas!”-Aku memanggil Bagas si tukang foto-“Fotoin!”

Oke, aku mengucapkan sesuatu yang seharusnya tidak kuucapkan. Tentu saja Bagas akan memfoto! Jika tidak, untuk apa dia memegang kamera!

“Gas! Gue mesti lompat itungan keberapa??” Oke, kali ini aku basa-basi. Mengulur waktu agar aku tidak segera melompat. Rasa takut itu masih ada.

“Ah Bek, buruan!” sela seseorang di belakangku yang sudah tidak sabar mengantri untuk lompat.

Ah, baiklah.
Ku tutup mataku, kemudian aku melompat. BYURRRR!!!!

Tenggelam sesaat, namun aku segera muncul ke permukaan air.
Hah? Udah? Gini doang? Pikirku saat itu.
Laaagiiiiii….

Jadilah aku kembali memanjat dinding goa untuk kedua kalinya. -_-
Dan mengantri untuk kedua kalinya pula.

“Ini harus dipake?” tanya Bagas, menunjuk rompi pelampungnya. Dia tertantang untuk melompat juga.

“Iya lah!” kata Sendika. Iya, jika aku tidak salah ingat, Sendika mengantri di depanku.

“Buka ah.” Bagas membuka satu pengunci rompi.

“Gas, jangan.” kata Sendika.

“Gas, pake ih!” Aku menyela.

Sambil melirik ke arah sang pemandu, Bagas membuka satu persatu pengunci rompi pelampungnya.

“Gas! PAKE!” kataku berusaha terdengar lebih tegas. Aku takut sesuatu yang buruk akan terjadi padanya jika dia melompat ke air yang kedalamannya mencapai 6m tanpa menggunakan pengaman satupun.

Bagas mengambil kuda-kuda untuk melompat, kemudian dia… salto.

Oh my God!
Salto! Ya dia salto!

Aku kembali tersenyum dalam hati.
Bagas.. lagi-lagi dia belum berubah. Masih sama seperti yang dulu. dengan sifat dan sikapnya yang tidak pernah bisa aku tebak. Salah satu hal yang membuatku jatuh hati padanya.. empat tahun lalu.

Dengan Bagas sebagai tukang foto kali ini, sejujurnya aku sangat menikmati perjalanan kali ini.
Kenapa?
Karena aku bisa dengan santai memanggil namanya meskipun dengan dalih meminta untuk difoto. 😛 *centil dasar!

Ini akuuuuuuu… say cheese!! XD

IMG_4274

Selesai dari Goa Pindul, kami melanjutkan perjalanan ke Pantai-Entah-Apa-Nama-Sebenarnya.

“Ayok! Berenang lagi!” seruku pada Nuril.

“Yeeee ngaco! Ini tuh pantai selatan, Bek! Bukan pantai utara!” kata Nuril.

“Lah terus kenapa kalo ini pantai selatan?” tanyaku pada Nuril. Dia tampak kesal dengan pertanyaanku.

“Ya ngga boleh berenang!” jawab Nuril mulai ketus.

“Iya kenapa ngga boleh? Itu liat, mereka berenang tuh!” Aku mulai seperti anak kecil. Tetapi itulah aku. Tidak suka dilarang tanpa alasan yang jelas.

“Liat, mereka berenang cuma di pinggir-pinggir, ngga jauh-jauh. Arus pantai selatan itu bahaya. Lo mau ketarik?” Nuril, sahabatku sejak 2007, menjelaskan dengan sabar. Aku rasa, dia sangat mengerti alasan aku merengek tadi seperti anak kecil.

“Jadi, lo mau berenang ngga?” tanya Nuril. Dari nada bicaranya, aku tau bahwa dia akan menemaniku berenang jika aku mengiyakan pertanyaannya. Tetapi sudahlah, aku tau Nuril tidak ingin berenang lagi seperti di goa tadi.

“Ngga usah deh.”

Aku bersyukur Ya Allah, atas karunia-Mu ini, Nuril Fitriyana.

Tidak banyak yang bisa kami lakukan di pantai itu selain berfoto, mengingat matahari sudah mulai tenggelam.

Entah ada apa denganku hari ini, aku merasa sangat sensitif saat itu.
Aku melihat Nuril dan Bagas berjalan bersamaan dengan jarak layaknya teman, namun tampak akrab satu sama lain di mataku, dan ahhh.. aku cemburu!!
Ya ampun, perasaan suka itu sudah lama berlalu, seharusnya rasa cemburu tidak perlu datang setiap kali aku melihat Bagas lebih akrab dengan Nuril!
Bisa gila aku dibuatnya!

Skip.
Aku malas menceritakannya lagi.

Singkat cerita, sekitar pukul 19.00 kami meninggalkan pantai tersebut dan kembali ke Jogja.

Eits, tunggu dulu..
Perjalanan kami belum selesai.

“Taman Lampion.” Itulah jawaban yang aku terima ketika aku bertanya kita-mau-kemana.

Sesuai dengan namanya, Taman Lampion itu dipenuhi lampion-lampion dengan berbagai bentuk. Ada yang berbentuk bunga, hewan, bahkan wajah manusia yang sangat familiar di otak kita, wajah sang presiden. Mataku menikmati tiap warna-warni cahaya yang ditangkapnya.
Tak hanya mata, kulitku pun menikmati tiap sentuhan angin malam Jogjakarta dan hidungku menikmati bau khas malam itu. Tak ketinggalan, otakku turut merekam tiap moment yang terjadi saat itu. Bahkan moment yang buruk sekalipun.

Di sebelah sana, dengan jarak sekitar dua meter dariku, aku melihat dia, Bagas Prasetya Putra, memegang sebatang rokok yang sudah menyala kemudian menghisapnya.
Deg deg deg… Jantungku berdebar kencang melihatnya dan otakku masih aktif mengingat setiap detail emosi yang aku rasakan saat itu.

Sejak kapan? Sejak kapan Bagas merokok?

Kesal.. kesal setengah mati aku melihatnya.
Senyum ceriaku terhapuskan seketika dan tergantikan dengan senyuman yang dipaksakan demi menutupi kekesalanku.
Sempat terpikir olehku untuk bertanya langsung pada Bagas saat itu juga, namun rasa kesalku seperti memaksaku untuk menjauh darinya.

Perlu dijelaskan disini.
Aku TIDAK MEMBENCI perokok. Sama sekali tidak.
Tetapi yang kubenci adalah fakta bahwa temanku yang bukan perokok kini berubah menjadi perokok dengan apapun itu alasannya.
Dan kebencianku itu tidak hanya menyangkut rokok.
Secara garis besar, aku membenci fakta bahwa teman-temanku melakukan hal buruk, padahal aku mengenal mereka sebagai anak baik. -_-

“Ih bau menyan!” seru salah satu temanku.

“Eh, ada rumah hantu tuh!” Temanku yang lain menunjuk ke arah bau dupa itu berasal.

“Ayo masuk yuk!”

Okelah sip..
Jadilah kita bersebelas minus Nia, masuk ke rumah hantu itu.

Deg deg deg..
Iya aku takut!
Aku masih berhaha-hihi menutupi rasa takutku ketika sedang berjalan menuju pintu masuk rumah hantu. Namun, rasa takut itu tidak lagi bisa kututupi ketika aku mulai memasuki rumah hantu tsb dan mendapati peti mati plus mayat dengan suara-suara yang membuat bulu kuduk merinding, menyambut kedatangan kami.
Sontak aku memegang erat lengan Dwi di sebelah kananku dan menggenggam erat tangan Sendika di sebelah kiriku.
AKU TAKUT!!

Dalam keadaan ketakutan sambil berlari, aku melepaskan genggaman tangan kiriku. Praktis, aku hanya memegang erat lengan Dwi di sebelah kanan.
Namun, ketika Dwi sangat ketakutan dan berlari lebih cepat dariku, meninggalkanku di belakang, aku dengan refleks secepat kilat menarik siapapun yang berada di dekatku untuk kujadikan tameng dari hantu-hantu itu. -_-

Merah.
Berbaju merah.
Tameng baruku kali ini berbaju merah. BERKAUS merah lebih tepatnya.
Dan tameng baruku itu jauh lebih tinggi dariku.

“Ini siapa? Ini siapa???” tanyaku yang mengumpat ketakutan dibelakangnya sambil membenamkan wajahku di kausnya, membuatku tidak mengetahui siapa pemilik kaus merah itu sebenarnya.

Dalam kehebohan dan ketakutan saat itu, tidak ada jawaban untukku sama sekali. *iyalah!*

Kemudian aku teringat sesuatu.
Merah.. Berbaju merah.. Seingatku yang berbaju merah pada malam itu ada dua orang, yaitu Anjar dan Bagas. -_-
Dan seperti kisah sinetron-sinetron pada umumnya, entah keberuntungan apa yang sedang menemaniku malam itu, tameng baruku itu ternyata adalah Bagas, sang mantan-27-hari.
Uuu~ *ganjen*

“Sekarang udah boleh foto-foto nih sama hantunya.” kata penjaga rumah hantu itu. Rumah hantu macam apa ini, sempat-sempatnya melakukan sesi foto bersama para hantu. -_-

DSC_1415 DSC_1417
-Ngga tau Mas nya yang ngga bisa make kamera mahal, atau gimana..  fotonya burem ngga jelas-

Keluar dari rumah hantu, kami duduk di tempat yang telah di sediakan.
Bagaikan teman lama yang sedang bernostalgia, masing-masing sibuk menceritakan kembali pengalamannya di dalam rumah hantu tersebut.

“Sandal gue.. sandal gue ilang sebelah!” Andoko menunjukkan sandalnya yang hanya tinggal sebelah. Dia tampak seperti Cinderella malam itu. -_-

“Eh, hape Yusran ilang!” Yak! Seruan kali ini membuat sebagian dari kami kembali masuk ke rumah hantu, mencari handphone Yusran yang terjatuh. -_-
Alhamdulillah ketemu.

Lelah.
Itulah yang aku yakini, sedang kami rasakan malam itu.
Namun apa daya, rasa lapar kami mengalahkan rasa lelah kami yang sudah bermimpi mencumbu tempat tidur masing-masing. -_-

Kami pun mencari makan malam di Jogja, tanpa seorang pun yang mengetahui letak warung makan yang buka lewat dari jam sepuluh malam.
Jadilah, dua jam kemudian setelah berputar-putar di tengah jalan tanpa arah, barulah kami menemukan tempat makan itu.
Sebuah warung sate.

Selesai.

Ps: cerita hari pertama dan hari kedua di Jogja bisa dibaca di sini dan di sini ya!

Suara karang putih.

Kamu tau, dia bilang padaku bahwa dia menemukanmu di salah satu emperan toko di Jl.Malioboro.
Dan apakah kamu tau darimana aku berasal?

Pantai. Sebuah pantai.
Indriyani.

Dia selalu mengatakan padaku bahwa dia jatuh hati padamu sejak pertama dia menemukanmu. Dan gejolak itu, tidak bisa ditahannya.
Entah berapa hargamu, yang jelas kini kau miliknya.

Dan aku?
Dia menimbang..
Dia mengumpulkan..
Dan dia menyeleksi siapa yang hendak dibawa pulangnya.
Pilihannya jatuh padaku setelah melewati pemikiran-pemikirannya yang entah apa itu.
Yang jelas, dia memilihku.
Tak berbayar.

Wajarkah jika aku cemburu?
Sebuah karang putih indah bersaing cinta dengan sebuah kalung hitam tak bermotif.

Kupikir itu wajar.
Namun sebentar lagi, itu bukan masalah untukku karena dia bilang, dia akan memberikanmu kepada seseorang.
Dan aku tau, hanya akan ada aku yang selalu bertengger di sisinya.

Isi hati sebuah karang putih.

Kamu. Kabut.

Kabut..
Kamu tau kabut?
Masih ingatkah kamu kalimat-kalimat  tentang kabut yang keluar dari mulutku?

Dan kamu masih tetap seperti kabut untukku.
Mengurangi jarak pandangku, membuatku sulit melihat benda-benda yang berada di depanku..
Memaksaku berjalan lambat-lambat, bahkan ketika keadaan memaksaku untuk berlari kencang.

Dan lagi-lagi, kamu masih menjadi kabut untukku.
Menyegarkan namun penuh dengan ketidakpastian.

Untuk kamu, Kabut.

Journal of Jogja Trip – February 1, 2013

Welcome February!!!
Berbeda dengan Februari-Februari sebelumnya, Februari kali ini adalah Februari istimewa.
Membuka mata di pagi hari, berada di Jogja, dan melihat teman-teman tercinta tertidur dengan polosnya, membuat Februari kali ini terasa lebih sesuatu. -_-

Pada pagi pertama di bulan Februari ini aku dikejutkan oleh kedatangan dua orang pelayan kamar yang membawakan sebelas piring nasi goreng dan sebelah teh manis. Sarapan termasuk dalam pelayanan kamar katanya.
Well, untuk sebuah penginapan seharga Rp42.000,- per malam per orang dengan sarapan termasuk dalam pelayanan kamar, menurutku itu adalah hal yang sangat mengesankan. Setidaknya, kami bisa menghemat beberapa ribu rupiah karena kami tidak perlu membeli sarapan pagi di luar.

Tidak lama kemudian, kesunyian dan keheningan pagi berubah menjadi riuh ricuh ketika sepuluh anak muda lainnya terbangun dan mulai menggasak sarapan yang sudah tersedia bagaikan kucing liar yang belum makan selama berhari-hari. -_-

Sembari menunggu mobil rental datang, kami mengisi waktu dengan kegiatan masing-masing. Sebagian dari kami ada yang menghisap rokok sambil bercanda-canda dengan yang lain, sebagian lagi ada yang mandi, dan yang lainnya? Entahlah aku tidak ingat. 😀
Namun satu yang kuingat.. Aku, Haditiyo, Yusran, dan Adhita memilih untuk berjalan kaki berkeliling melihat kondisi di sekitar penginapan sekalian mencari mesin ATM dan minimarket.

“Pak, minimarket di sekitar sini ada dimana ya?” tanya Adhita pada penjaga penginapan.

“Oh, di sana Mas. Dari perempatan ini sekitar 500 meter.”

Oke, 500 meter itu setengah kalinya 1 km bukan sih?
Liburan kali ini tampaknya akan membuat betis-betis kami semakin besar dan berkembang. -_-

Seperti ada udang di balik batu, belum sampai kami di minimarket yang jauhnya subhanallah itu, ternyata Allah mempertemukan kami berempat dengan “AYODYA. Refleksi, Massage, & Spa” yang mengadakan promo diskon 50% untuk service full body massange. *ini bukan promosi*
Tanpa pikir panjang, kami langsung masuk ke tempat tersebut.
Tiga puluh enam ribu rupiah. Itulah harga yang harus kami keluarkan untuk mendapatkan layanan pijat sebadan. Well, aku tidak tau apakah harga segitu tergolong murah atau justru mahal, tapi yang aku tau badanku sangat menikmati pijatan demi pijatan dari gadis terapis bernama Anita. *kalau tidak salah ingat*
Selesai memanjakan tubuh dengan full body massage, kami langsung menyambangi mini market yang letaknya dari tempat pijat masih tergolong jauh menurutku. -_-

Kembali ke penginapan, aku langsung mandi. Ya. Mandi.
Yap! Waktu sudah menunjukkan pukul 12.10, aku sudah keliling sekitar penginapan, seluruh tubuhku sudah dipijat, tetapi aku masih belum mandi. 😀
Kurasa aku sudah pernah menyantumkannya sebelumnya bahwa aku tidak begitu suka mandi. -_-

Selesai aku mandi, mereka para lelaki selesai juga solat jum’at.
Tadinya kupikir mobil rental kami akan datang bersamaan dengan selesainya mereka solat jum’at, namun ternyata pikiranku salah. Hingga pukul 13.00, mobil rental seharga Rp350.000,- per 24 jam itu tidak kunjung tiba.
Sambil mengisi waktu luang menunggu mobil harapan datang, entah bagaimana awalnya, aku, Nia, Nuril, Dwi, dan Sendika sudah berkumpul di sudut kamar penginapan dan sedang melakukan sesi “Curhat bersama Papah Babeh”.
Curhat tentang cinta.
Semacam nostalgia.
😀

Mobil rental itu baru datang sekitar pukul 14.00
Kedatangannya disambut bak idola yang sudah ditunggu-tunggu  penggemarnya dalam acara Meet and Greet. -_-
Tidak perlu berlama-lama, sebelas anak muda yang sudah tidak sabar untuk menjamah kota Jogja itu langsung memperkosa mobil itu dengan liar. -_-
Memperkosa. Ya, memperkosa. Bagaimana tidak, satu mobil avanza itu dipaksakan muat menampung sebelas anak muda yang badannya lebih besar daripada aku. -___-
Bayangkan. Coba bayangkan. -_-

Tujuan pertama kami adalah mencari makan siang.
Jadilah kami mendatangi pusat gudeg di Jogja, tepatnya di Gudeg Wijilan Bu Widodo. *oke, sekali lagi, ini bukan promosi*
Setelah makan malam kami malam sebelumnya ditanggung oleh Sendika, makan siang kami kali ini ditanggung oleh Bagas. Yep. Mereka berdua terlahir di bulan Januari dengan perbedaan tanggal lahir lima hari saja.

Awalnya setelah kami makan siang, kami berencana untuk mengunjungi Prambanan. Namun apa daya, ternyata Prambanan sudah tutup. Kami datang terlalu sore tampaknya. 😐

Sekitar magrib, kami tiba di Museum Benteng Vredeburg Malioboro.
Selesai solat magrib di sana, kami langsung jalan-jalan menyusuri sepanjang Jl.Malioboro.

“Njar, ih mau masuk ke dalem,” rengekku pada Anjar.

“Tutup, Bek,” kata Anjar. ‘Beki’, begitulah biasanya teman-temanku memanggilku.

“Yaudah besok aja kalo gitu kita kesini lagi.”

“Dih, Bek.. itu tuh isinya cuma benteng sama diorama-diorama aja,” kata Anjar.

Disitulah akhirnya aku paham arti dari diorama -setelah sebelumnya aku selalu bingung dengan kata ‘diorama’ dalam lagu Tulus. -___-

Di tengah keasyikan aku dan teman-temanku menyusuri Jl.Malioboro, kami bertemu dengan segerombolan orang yang memainkan musik dengan satu penari laki-laki yang asyik menikmati tariannya sendiri. Aaaahh… melihatnya menari, rinduku untuk menari muncul kembali.

‘Kangen.’
Begitulah aku meng-update status bbm ku. 😀

Menari. Aku bukan penari profesional.
Aku juga bukan penggila tari yang terobsesi untuk menarikan semua tari-tarian daerah.
Aku hanyalah seorang gadis biasa yang mudah terpesona oleh hal-hal yang unik, dan menari adalah salah satunya.
Sama seperti bermusik, aku suka melihat orang lain menari. Karena ketika seseorang itu menikmati tariannya ataupun musiknya, akan muncul sebuah ekspresi kepuasan dari wajah orang itu. Sebuah ekspresi yang aku tangkap ketika seseorang sedang melakukan hubungan intim. *oke aku ngaku, aku pernah nonton film esek-esek.* -_______________-

Masih di tempat yang sama, aku dan sepuluh teman-temanku itu akhirnya bertemu dengan teman lama kami semua. Dialah Bondan, yang juga sama-sama sedang berlibur di Jogja.
Bersama Bondan, kami melanjutkan perjalanan kaki kami sampai ke Stasiun Tugu Jogja.
Disana kami duduk di warung pinggir jalan dan memesan beberapa minuman hangat.

Setelah puas bercengkrama di warung pinggir jalan itu, kami kembali ke Benteng Vredeburg tempat kami memarkir mobil kami. Kali ini kami berpisah dengan Bondan. Tidak mungkin rasanya dengan tubuh sebesar dia bergabung dalam satu mobil dengan kami bersebelas. -_-
Tak peduli waktu yang sudah menunjukkan lebih dari pukul 22.00 , kami melanjutkan perjalanan kami ke Alun-alun Kidul Jogja.
Seperti turis-turis lain pada umumnya, ya! Kami menyewa dua kereta sepeda lampu -karena satu sepeda tidak sanggup menampung lebih dari lima orang. Untuk olahraga betis kali ini, kami diharuskan membayar Rp25.000,- per sepeda per 2 keliling alun-alun.

Dwi tampak lelah.
Kereta sepeda lampuku menampung aku, Nuril, Sendika, dan Dwi sebagai penumpang tetap, serta Bagas sebagai penumpang tidak tetap alias berpindah ke kereta sepeda yang lain karena dialah pemegang kamera.
Aku dan Nuril duduk di kursi belakang, Sendika dan Dwi duduk di kursi depan, sedangkan Nia duduk di tempat duduk paling depan yang tidak ada pedal sepedanya. Bisa terlihat, hanya ada dua lelaki di kereta sepeda ini dan praktis, aku dan Nuril ogah-ogahan menggowes sepeda.

“Woy gowes woooyy!!” seru Dwi.

Bukannya menggowes, aku dan Nuril justru tertawa-tawa melihat reaksi Dwi yang sangat lucu.
Dwi, temanku yang satu ini memang sangat unik. Dia mempunyai wajah mesum, namun dia juga mempunyai ekspresi lucu tiap kali mengutarakan sesuatu. Lucu dan mesum. Sebuah kombinasi yang aneh.. eh, unik, maksudku. 😀

Tak hanya menjajal kereta sepeda lampu, aku pun juga mencoba berjalan lurus dengan mata tertutup melewati antara dua pohon besar yang terkenal itu. Sukses atau gagal?
Gagal.

“Dih, udah mau jam dua belas jek!” seru Dwi. “Ngga kerasa ya.”

Kami terlalu asyik bermain tampaknya.

Jalan-jalan kami hari itu ditutup dengan menyantap mie goreng seharga Rp17.000,-
Sudah jangan tanyakan lagi.
Cerita hari ini, selesai.

Ps: cerita hari pertama dan hari ketiga di Jogja bisa di klik di sini dan di sini loh!

Journal of Jogja Trip – Januari 31, 2013

31 Januari 2012

Perjalanan kami ke Jogja dimulai dengan sesi debat antara Sendika dengan ayahnya. Sang ayah menyarankan Sendika dan aku untuk berangkat ke Stasiun Pasar Senen menggunakan kereta commuter Bekasi – Jakarta. Sedangkan aku dan Sendika, yang tidak yakin akan ada kereta pukul 05.30, lebih memilih pilihan aman menggunakan bus. Seperti perdebatan antara ayah dan anak pada umumnya, sang ayahlah yang menang. Akhirnya aku dan Sendika menuruti saran ayah Sendika. Kami menggunakan kereta menuju Stasiun Pasar Senen yang hanya merogoh kocek sebesar Rp8.500,-.

Setelah sempat tidak tenang di dalam kereta menuju Stasiun Pasar Senen, karena aku takut kami akan terbawa ke stasiun yang salah dan tidak bisa tiba tepat waktu di Stasiun Pasar Senen, akhirnya kami tiba di Stasiun Pasar Senen. Segera kami menemui teman seperjalanan kami yang sudah menunggu kami. Kami berjumlah sebelas orang. Ada aku, Sendika, Adhita, Dwi, Nia, Nuril, Anjar, Bagas, Haditiyo, Yusran, dan Miftah.

Tepat pukul 06.45 kereta kami, tujuan Kutoarjo, berangkat. Ya. Kutoarjo. Bukan Jogja. Awalnya kami ingin menggunakan kereta yang langsung menuju Jogja, namun karena kereta tujuan Jogja sudah penuh, kami memutuskan untuk transit di Kutoarjo terlebih dahulu kemudian lanjut ke Jogja dari sana.

Perjalanan menuju Kutoarjo diawali dengan canda tawa haha hihi di dalam kereta. Kami senang. Kami excited lebih tepatnya. Kami semua duduk dengan manis di kursi penumpang ekonomi seharga Rp28.000,-. Namun kemanisan kami tidak bertahan lama. Beberapa jam kemudian, kami memasuki fase jenuh. Bahan candaan seakan sudah habis terkuras kami tertawakan. Sebagian dari kami mulai beranjak dari kursi masing-masing. Ada yang hanya sekedar meregangkan otot-otot yang tegang, ada yang sengaja memaniskan keasaman mulut dengan rokok, dan ada pula yang hanya berpindah tempat duduk demi melihat pemandangan di luar kereta atau sekedar mencari teman mengobrol yang berbeda.

Jam demi jam pun berlalu. Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 12.00. Ya, benar sekali. Panas tiba dan kami berada di kereta ekenomi. Tidak ada pendingin udara, tidak ada sirkulasi udara yang cukup untuk mengusir rasa gerah yang muncul dari sebelas tubuh anak muda yang sudah mulai bermandikan keringat. Apek. Bahkan aku, seseorang yang paling tidak suka mandi saja sampai-sampai mengucapkan kalimat gue-pengen-mandi. -___-

Jarum pendek di jam tangan Sendika kini menunjuk ke angka dua lebih sedikit, sedangkan jarum panjangnya menunjuk angka dua. Oke.. 14.10 dan kami masih dalam keadaan yang sama dengan keadaan dua jam sebelumnya. Gerah. Berkerigat. Apek.
Semua aktivitas, yang bisa kulakuan, sudah kulakukan agar aku bisa melupakan rasa gerah yang menyerang. Mulai dari membaca, tidur, memperhatikan sekitar, makan, bahkan pergi ke toilet pun kulakukan. Namun tetap saja aku tidak bisa mengusir perasaan tidak nyaman dari bajuku yang sudah basah dengan keringat.

“Kita kapan sampe Kutoarjo?” tanyaku tidak sabar pada Sendika, yang biasa.dipanggil Babeh.

“Sebentar lagi,” katanya, “mungkin lima belas sampai setengah jam lah.”

“Oke!” kataku sambil menenangkan hati yang jika saja hatiku ini mempunyai tangan, mungkin dia sudah mengangkat tangannya ke arah kamera dan melambai-lambai pertanda menyerah.

Lima belas menit berlalu, kami tiba dan berhenti di sebuah stasiun-entah-apa-namanya.

“Oke, berarti lima belas menit lagi sampe di tujuan. Oke, sabar.” Aku berbicara pada diriku sendiri.

Lima menit…
Sepuluh menit…
Lima belas menit…
Tiga puluh menit…
Empat puluh menit..

“Ya ampun, kenapa sih kereta ini ngga jalan-jalan juga?!” gerutuku dalam hati. Tak hanya aku, beberapa temanku yang lain pun mengeluhkan hal sama.

Satu hal yang aku lupa dari kereta ekonomi adalah: kereta ekonomi harus “mengalah” jika akan mengunakan jalur yang sama dengan kereta lain dalam waktu yang bersamaan. -_-
Setelah “mengalah” selama hampir satu jam, akhirnya kereta kami melanjutkan perjalannya menuju Kutoarjo. Sekitar pukul 15.00 lewat, akhirnya kami tiba di Stasiun Kutoarjo.

Solat.
Itulah pikiran pertama yang terlintas di otakku.
Maka dari itu, ketika teman-temanku sibuk memperhatikan jadwal keberangkatan kereta menuju Jogja, aku dan Nuril memilih untuk mencari mushola untuk solat. Segar dan tenang rasanya tubuh dan jiwa ini setelah selesai melaksanakan solat.

Berhubung kereta tujuan Jogja dijadwalkan berangkat pukul 17.55, kami memutuskan untuk makan siang terlebih dahulu. Sisa waktu yang ada setelah kami makan siang, aku manfaatkan untuk mengisi ulang batere handphone di salah satu sudut stasiun yang memang sengaja disediakan untuk memenuhi hasrat penumpang-penumpang yang “haus akan sumber listrik” seperti aku ini.

Singkat cerita, akhirnya kereta tujuan Jogja datang dan mengantar kami ke Stasiun Tugu Jogja selama kurang lebih satu jam. Tiket kereta tujuan Jogja yang lebih sering disebut Pramex itu hanya seharga Rp10.000,- saja.
Dari Stasiun Tugu Jogja, kami berjalan ke Jl.Malioboro. Dari sana kami menggunakan TransJogja menuju penginapan kami yang berjarak kurang lebih 6 km. Oke, ternyata 6 km itu cukup jauh saudara-saudara. Aku bersyukur kami tidak jadi nekat berjalan kaki sejauh 6 km -sebelumnya ada yang nekat menyarankan untuk berjalan kaki dari Jl.Malioboro ke penginapan kami. Fiuh. 😀

Belum, saudara-saudara. Kami belum sampai di penginapan.
Dari halte tempat kami turun TransJogja, kami diharuskan berjalan kaki sejauh 1 km untuk bisa sampai di penginapan kami.
-_-

Sesampainya kami di penginapan, hatiku mencelos. Hatiku mencelos bukan karena aku telah berjalan sejauh 1 km, atau karena kondisi penginapan itu tidak seperti yang ku bayangkan, tetapi karena ternyata ada jalan yang lebih singkat untuk ditempuh dari halte tempat kami turun TransJogja ke penginapan kami daripada jarak 1 km yang telah kami tempuh dengan cara berjalan kaki.

Mandi!
Itu satu kata dan satu aktivitas yang sangat ingin aku lakukan pertama kali ketika aku tiba di penginapan.
Penginapan kami ini sangat unik menurutku. Modelnya seperti rumah dengan banyak pintu. Persis seperti kontrakan-kontrakan kecil yang dimiliki oleh Omaku. Isi kamar kami terdiri dari 2 single bed, 2 bunk bed, 1 lemari, beberapa gelas dengan 1 teko di sampingnya, cermin, dan tak ketinggalan, kamar mandi di dalam kamar.
Untuk sebuah penginapan dengan harga Rp42.000,- per malam, per orang kurasa kamar ini cukup memuaskan.

Mandi? Done.
Berkumpul dengan teman-teman? Done.
Makan? Done.
Minum obat? Done.
Mengeluarkan isi otak? Done.
Jam digital di handphoneku menampilkan tulisan 01.21.
Kurasa ini waktunya aku untuk tidur.
Assalammu alaykum. 🙂

Ps: Lanjut ke hari ke-2 trip di Jogja ya!