Journal of Jogja Trip – February 1, 2013

Welcome February!!!
Berbeda dengan Februari-Februari sebelumnya, Februari kali ini adalah Februari istimewa.
Membuka mata di pagi hari, berada di Jogja, dan melihat teman-teman tercinta tertidur dengan polosnya, membuat Februari kali ini terasa lebih sesuatu. -_-

Pada pagi pertama di bulan Februari ini aku dikejutkan oleh kedatangan dua orang pelayan kamar yang membawakan sebelas piring nasi goreng dan sebelah teh manis. Sarapan termasuk dalam pelayanan kamar katanya.
Well, untuk sebuah penginapan seharga Rp42.000,- per malam per orang dengan sarapan termasuk dalam pelayanan kamar, menurutku itu adalah hal yang sangat mengesankan. Setidaknya, kami bisa menghemat beberapa ribu rupiah karena kami tidak perlu membeli sarapan pagi di luar.

Tidak lama kemudian, kesunyian dan keheningan pagi berubah menjadi riuh ricuh ketika sepuluh anak muda lainnya terbangun dan mulai menggasak sarapan yang sudah tersedia bagaikan kucing liar yang belum makan selama berhari-hari. -_-

Sembari menunggu mobil rental datang, kami mengisi waktu dengan kegiatan masing-masing. Sebagian dari kami ada yang menghisap rokok sambil bercanda-canda dengan yang lain, sebagian lagi ada yang mandi, dan yang lainnya? Entahlah aku tidak ingat. πŸ˜€
Namun satu yang kuingat.. Aku, Haditiyo, Yusran, dan Adhita memilih untuk berjalan kaki berkeliling melihat kondisi di sekitar penginapan sekalian mencari mesin ATM dan minimarket.

“Pak, minimarket di sekitar sini ada dimana ya?” tanya Adhita pada penjaga penginapan.

“Oh, di sana Mas. Dari perempatan ini sekitar 500 meter.”

Oke, 500 meter itu setengah kalinya 1 km bukan sih?
Liburan kali ini tampaknya akan membuat betis-betis kami semakin besar dan berkembang. -_-

Seperti ada udang di balik batu, belum sampai kami di minimarket yang jauhnya subhanallah itu, ternyata Allah mempertemukan kami berempat dengan “AYODYA. Refleksi, Massage, & Spa” yang mengadakan promo diskon 50% untuk service full body massange. *ini bukan promosi*
Tanpa pikir panjang, kami langsung masuk ke tempat tersebut.
Tiga puluh enam ribu rupiah. Itulah harga yang harus kami keluarkan untuk mendapatkan layanan pijat sebadan. Well, aku tidak tau apakah harga segitu tergolong murah atau justru mahal, tapi yang aku tau badanku sangat menikmati pijatan demi pijatan dari gadis terapis bernama Anita. *kalau tidak salah ingat*
Selesai memanjakan tubuh dengan full body massage, kami langsung menyambangi mini market yang letaknya dari tempat pijat masih tergolong jauh menurutku. -_-

Kembali ke penginapan, aku langsung mandi. Ya. Mandi.
Yap! Waktu sudah menunjukkan pukul 12.10, aku sudah keliling sekitar penginapan, seluruh tubuhku sudah dipijat, tetapi aku masih belum mandi. πŸ˜€
Kurasa aku sudah pernah menyantumkannya sebelumnya bahwa aku tidak begitu suka mandi. -_-

Selesai aku mandi, mereka para lelaki selesai juga solat jum’at.
Tadinya kupikir mobil rental kami akan datang bersamaan dengan selesainya mereka solat jum’at, namun ternyata pikiranku salah. Hingga pukul 13.00, mobil rental seharga Rp350.000,- per 24 jam itu tidak kunjung tiba.
Sambil mengisi waktu luang menunggu mobil harapan datang, entah bagaimana awalnya, aku, Nia, Nuril, Dwi, dan Sendika sudah berkumpul di sudut kamar penginapan dan sedang melakukan sesi “Curhat bersama Papah Babeh”.
Curhat tentang cinta.
Semacam nostalgia.
πŸ˜€

Mobil rental itu baru datang sekitar pukul 14.00
Kedatangannya disambut bak idola yang sudah ditunggu-tungguΒ  penggemarnya dalam acara Meet and Greet. -_-
Tidak perlu berlama-lama, sebelas anak muda yang sudah tidak sabar untuk menjamah kota Jogja itu langsung memperkosa mobil itu dengan liar. -_-
Memperkosa. Ya, memperkosa. Bagaimana tidak, satu mobil avanza itu dipaksakan muat menampung sebelas anak muda yang badannya lebih besar daripada aku. -___-
Bayangkan. Coba bayangkan. -_-

Tujuan pertama kami adalah mencari makan siang.
Jadilah kami mendatangi pusat gudeg di Jogja, tepatnya di Gudeg Wijilan Bu Widodo. *oke, sekali lagi, ini bukan promosi*
Setelah makan malam kami malam sebelumnya ditanggung oleh Sendika, makan siang kami kali ini ditanggung oleh Bagas. Yep. Mereka berdua terlahir di bulan Januari dengan perbedaan tanggal lahir lima hari saja.

Awalnya setelah kami makan siang, kami berencana untuk mengunjungi Prambanan. Namun apa daya, ternyata Prambanan sudah tutup. Kami datang terlalu sore tampaknya. 😐

Sekitar magrib, kami tiba di Museum Benteng Vredeburg Malioboro.
Selesai solat magrib di sana, kami langsung jalan-jalan menyusuri sepanjang Jl.Malioboro.

“Njar, ih mau masuk ke dalem,” rengekku pada Anjar.

“Tutup, Bek,” kata Anjar. ‘Beki’, begitulah biasanya teman-temanku memanggilku.

“Yaudah besok aja kalo gitu kita kesini lagi.”

“Dih, Bek.. itu tuh isinya cuma benteng sama diorama-diorama aja,” kata Anjar.

Disitulah akhirnya aku paham arti dari diorama -setelah sebelumnya aku selalu bingung dengan kata ‘diorama’ dalam lagu Tulus. -___-

Di tengah keasyikan aku dan teman-temanku menyusuri Jl.Malioboro, kami bertemu dengan segerombolan orang yang memainkan musik dengan satu penari laki-laki yang asyik menikmati tariannya sendiri. Aaaahh… melihatnya menari, rinduku untuk menari muncul kembali.

‘Kangen.’
Begitulah aku meng-update status bbm ku. πŸ˜€

Menari. Aku bukan penari profesional.
Aku juga bukan penggila tari yang terobsesi untuk menarikan semua tari-tarian daerah.
Aku hanyalah seorang gadis biasa yang mudah terpesona oleh hal-hal yang unik, dan menari adalah salah satunya.
Sama seperti bermusik, aku suka melihat orang lain menari. Karena ketika seseorang itu menikmati tariannya ataupun musiknya, akan muncul sebuah ekspresi kepuasan dari wajah orang itu. Sebuah ekspresi yang aku tangkap ketika seseorang sedang melakukan hubungan intim. *oke aku ngaku, aku pernah nonton film esek-esek.* -_______________-

Masih di tempat yang sama, aku dan sepuluh teman-temanku itu akhirnya bertemu dengan teman lama kami semua. Dialah Bondan, yang juga sama-sama sedang berlibur di Jogja.
Bersama Bondan, kami melanjutkan perjalanan kaki kami sampai ke Stasiun Tugu Jogja.
Disana kami duduk di warung pinggir jalan dan memesan beberapa minuman hangat.

Setelah puas bercengkrama di warung pinggir jalan itu, kami kembali ke Benteng Vredeburg tempat kami memarkir mobil kami. Kali ini kami berpisah dengan Bondan. Tidak mungkin rasanya dengan tubuh sebesar dia bergabung dalam satu mobil dengan kami bersebelas. -_-
Tak peduli waktu yang sudah menunjukkan lebih dari pukul 22.00 , kami melanjutkan perjalanan kami ke Alun-alun Kidul Jogja.
Seperti turis-turis lain pada umumnya, ya! Kami menyewa dua kereta sepeda lampu -karena satu sepeda tidak sanggup menampung lebih dari lima orang. Untuk olahraga betis kali ini, kami diharuskan membayar Rp25.000,- per sepeda per 2 keliling alun-alun.

Dwi tampak lelah.
Kereta sepeda lampuku menampung aku, Nuril, Sendika, dan Dwi sebagai penumpang tetap, serta Bagas sebagai penumpang tidak tetap alias berpindah ke kereta sepeda yang lain karena dialah pemegang kamera.
Aku dan Nuril duduk di kursi belakang, Sendika dan Dwi duduk di kursi depan, sedangkan Nia duduk di tempat duduk paling depan yang tidak ada pedal sepedanya. Bisa terlihat, hanya ada dua lelaki di kereta sepeda ini dan praktis, aku dan Nuril ogah-ogahan menggowes sepeda.

“Woy gowes woooyy!!” seru Dwi.

Bukannya menggowes, aku dan Nuril justru tertawa-tawa melihat reaksi Dwi yang sangat lucu.
Dwi, temanku yang satu ini memang sangat unik. Dia mempunyai wajah mesum, namun dia juga mempunyai ekspresi lucu tiap kali mengutarakan sesuatu. Lucu dan mesum. Sebuah kombinasi yang aneh.. eh, unik, maksudku. πŸ˜€

Tak hanya menjajal kereta sepeda lampu, aku pun juga mencoba berjalan lurus dengan mata tertutup melewati antara dua pohon besar yang terkenal itu. Sukses atau gagal?
Gagal.

“Dih, udah mau jam dua belas jek!” seru Dwi. “Ngga kerasa ya.”

Kami terlalu asyik bermain tampaknya.

Jalan-jalan kami hari itu ditutup dengan menyantap mie goreng seharga Rp17.000,-
Sudah jangan tanyakan lagi.
Cerita hari ini, selesai.

Advertisements

2 thoughts on “Journal of Jogja Trip – February 1, 2013

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s