Journal of Jogja Trip, February 2, 2013

Gerah!

Aku meraih handphoneku.

04.47

Apa-apan ini?
Aku terbangun di subuh hari bahkan sebelum alarm handphoneku berteriak?
Sungguh sesuatu. -_-

Gerah!
Segeralah aku mengambil air wudhu untuk menyegarkan tubuhku, sekaligus untuk solat subuh.
Mmm.. sebelumnya aku pernah bilang bahwa aku tidak begitu suka mandi, bukan? 😐

“Beh.. bangun, Beh.. Solat subuh.” Aku membangunkan Sendika alias Babeh.

“Hemm..” Sendika membuka matanya sebentar, kemudian dia kembali ke alam bawah sadarnya. Bahkan mungkin dia tidak sadar ketika mengatakan ‘Hemm..’ itu.

“Ril.. bangun, Ril.. Udah subuh. Ayo solat.” Kini Nuril yang tidur di single bed sebelah Sendika menjadi sasaranku. Dia membuka matanya sebentar, kemudian berkedip sebanyak dua kali, lalu dia kembali tidur.

Argh!! Kenapa mereka susah sekali untuk bangun?
“Nuriiill.. ayo banguuunn,” bujukku. “Nuriiiillll…”

Nuril membuka matanya. Kali ini dia meraih handphonenya lalu melihat layar handphonenya sebentar, kemudian dia bangun.

“Ayo solat. Udah subuh.” kataku pada Nuril. Alhamdulillah, satu orang sudah terbangunkan. Masih ada dua lagi. Sendika dan Dwi.

“Babeeeeehhhh!!” Aku mengguncang-guncangkan tubuh Sendika yang gempal itu. “Babeeeehhhhh!” Kali ini aku menguncang-guncangkan tubuh Sendika lebih kencang. Dia membuka matanya.

“Ayo solat!” kataku pada Sendika. Alhamdulillah, satu lagi sudah tersadar. Next person, Dwi.

“Dwi! Ayo bangun!” kataku.

Kali ini aku menyerah. Aku sudah mengguncang-guncangkan tubuh Dwi, menggelitiki tubuh Dwi, bahkan memanggil dengan suara lebih lantang, namun Dwi tidak kunjung bangun. Kuserahkan saja Dwi pada Nia, pacarnya, yang tidur di bunk bed bawah -Dwi tidur di bunk bed atas.

Sebentar, siapa itu yang tidur di bunk bed di atasku? Bagas? Oh, Bagas pindah kamar toh.

Semalam, kesebelasan kami bertambah satu orang dengan hadirnya salah satu teman kami Andoko atau yang biasa dipanggil Docon.
Kamarku yang tadinya hanya berisi lima orang, mau tak mau harus bertambah penghuni menjadi enam orang, sesuai dengan kapasitas maksimum kamar.

“Gas, bangun, Gas,” aku menguncang-guncangkan tubuh Bagas. “ayo subuh.” Alhamdulillah, untuk ‘pasien’ kali ini, aku tidak perlu mengeluarkan tenaga dan kesabaran ekstra dalam membangunkannya.

Selesai membangunkan mereka, aku kembali melanjutkan tidurku. Aku merasa seperti ayam saat itu. -_-

Ntah pukul berapa, aku terbangun kembali. Sama seperti sebelumnya, aku lah yang paling cepat bangun di antara teman-teman sekamarku. Aku membuka pintu kamar lebar-lebar, mengizinkan udara pagi yang segar dan cahaya matahari yang menyapa dengan hangat agar leluasa memasuki kamar.

“Hai, Con!” sapaku sambil mengambil dan menyantap sarapan yang telah tersedia. Tumben sekali, ada penghuni kamar sebelah yang sudah bangun.

Agenda hari ini, kami akan menyambangi Goa Pindul sekaligus mampir ke Pantai Indrayanti. (atau Indriyanti? Indriyani? Entahlah.)
Demi kenyamanan keduabelas anak muda menuju Goa Pindul yang letaknya cukup jauh di Gunung Kidul sana, Andoko menyewa satu lagi mobil rental seharga Rp300.000,- per 24 jam.

“Udah siap-siap, belum? Baju ganti udah? Daleman udah? Alat mandi?” Aku menanyakan pertanyaan yang sama ke kesebelas teman-temanku. Aku merasa seperti seorang ibu saat itu. -_-

Pukul 10.00 kami berangkat menuju Gunung Kidul.
Dengan dua mobil yang ada, otomatis kami dibagi menjadi dua kelompok.
Kelompok 1 terdiri dari aku, Nuril, Sendika, Nia, dan Dwi sebagai penumpang, Bagas dan GPS sebagai navigator, serta Miftah sebagai driver. B)
Kelompok 2 adalah lima orang sisanya, yaitu Yusran sebagai driver, Andoko, Adhita, Haditiyo, dan Anjar sebagai penumpang.

“Gas, kalo mau ke pindul biasanya bukannya ada yang nge-guide ya?” Tanya Sendika kepada Bagas.

“Iya Beh, biasanya kayak gitu.” jawab Bagas yang masih tetap sibuk memperhatikan GPS.

Tak lama kemudian, Bagas berbicara pada seseorang melalui handphonenya.

“Iya Mas, kita mau kesana nih, bisa ketemuan dimana ya? Oh, alun-alun Wonogiri? Iya.. Iya. Iya mas. Makasih.”

Aku tersenyum dalam hati.
Ahh.. dia masih sama seperti yang dulu. Tidak berkata banyak namun selalu melakukan apa yang seharusnya dia lakukan. Salah satu sifatnya yang membuatku jatuh hati empat tahun lalu.
Aku bahkan masih ingat ketika aku kesulitan memainkan DS miliknya. Dia datang ke sampingku, tanpa suara, dan tanpa diminta, meraih DS-nya dan menunjukkan padaku bagaimana menyelesaikan permainan di bagian itu. Aku terperangah. Terpesona. Dan, ya! Hatiku tersenyum.
Sebuah masa yang indah, kenangku.

Sekitar pukul 13.00 kami tiba di lokasi wisata Goa Pindul.
Tempatnya biasa saja, tidak seindah bayanganku.
Wajar! Karena aku masih berada di tempat parkir mobil! 😀
Bersabarlah sedikit dengan berjalan kaki sebentar, maka sebuah tulisan “WIRAWISATA” yang besar akan menyambut dengan sebuah panggung musik yang wah, seperti memaksa pinggul ini ikut bergoyang. -_-

“Wah, beda ya sama terakhir kali gue kesini.” ujar Nuril.

Tak perlu pengalaman untuk membandingkan tempat ini saat dulu dengan saat sekarang, aku tau bahwa tempat ini sudah dikelola dengan baik.
Hal itu terlihat dari fasilitas-fasilitas yang sudah terletak dengan rapi. Kamar mandi, kamar ganti baju, mushola, loket, dsb.

Di lokasi wisata Goa Pindul ini terdapat beberapa paket wisata yang bisa dipilih.
Untuk lebih lengkapnya, bisa bertanya langsung ke @goapindul_GK atau ke websitenya di http://www.goapindul.info/

Setelah aku dan kesebelas temanku dibekali dengan pengaman, seperti rompi pelampung dan ban pelampung, kami semua segera menuju goa dipandu oleh pemandu kami, errr.. aku tidak ingat namanya. 😀

Petualanganpun dimulai! XD

IMG_4189

“Nah, disini kalo mau loncat dari atas boleh kok.” kata sang pemandu ketika kami tiba di perut goa. Di sana terdapat dinding goa yang bisa dipanjat, dan jika sudah sampai di atas, pengunjung diperbolehkan untuk lompat dari atas sana ke dalam air.

Awalnya aku sempat ragu untuk mencoba, namun melihat Sendika, Andoko, Anjar, dan yang lainnya dengan bersemangat memanjat dinding goa, kutepis ragu dan takutku.
Mungkin ini hanya kali ini aku berkunjung ke sini, dan bisa dipastikan aku akan menyesalinya jika aku tidak mencobanya, begitu pikirku.
Daaaannn… akhirnya aku memanjat dinding itu juga. -_-

Gemetar.
Itu yang kurasakan.
Ingin mundur, tapi ahhh.. kebencianku akan sebuah penyesalan muncul kembali.
Ku coba teguhkan hati dan menguatkan kaki untuk melompat.

“Gas! Gas!”-Aku memanggil Bagas si tukang foto-“Fotoin!”

Oke, aku mengucapkan sesuatu yang seharusnya tidak kuucapkan. Tentu saja Bagas akan memfoto! Jika tidak, untuk apa dia memegang kamera!

“Gas! Gue mesti lompat itungan keberapa??” Oke, kali ini aku basa-basi. Mengulur waktu agar aku tidak segera melompat. Rasa takut itu masih ada.

“Ah Bek, buruan!” sela seseorang di belakangku yang sudah tidak sabar mengantri untuk lompat.

Ah, baiklah.
Ku tutup mataku, kemudian aku melompat. BYURRRR!!!!

Tenggelam sesaat, namun aku segera muncul ke permukaan air.
Hah? Udah? Gini doang? Pikirku saat itu.
Laaagiiiiii….

Jadilah aku kembali memanjat dinding goa untuk kedua kalinya. -_-
Dan mengantri untuk kedua kalinya pula.

“Ini harus dipake?” tanya Bagas, menunjuk rompi pelampungnya. Dia tertantang untuk melompat juga.

“Iya lah!” kata Sendika. Iya, jika aku tidak salah ingat, Sendika mengantri di depanku.

“Buka ah.” Bagas membuka satu pengunci rompi.

“Gas, jangan.” kata Sendika.

“Gas, pake ih!” Aku menyela.

Sambil melirik ke arah sang pemandu, Bagas membuka satu persatu pengunci rompi pelampungnya.

“Gas! PAKE!” kataku berusaha terdengar lebih tegas. Aku takut sesuatu yang buruk akan terjadi padanya jika dia melompat ke air yang kedalamannya mencapai 6m tanpa menggunakan pengaman satupun.

Bagas mengambil kuda-kuda untuk melompat, kemudian dia… salto.

Oh my God!
Salto! Ya dia salto!

Aku kembali tersenyum dalam hati.
Bagas.. lagi-lagi dia belum berubah. Masih sama seperti yang dulu. dengan sifat dan sikapnya yang tidak pernah bisa aku tebak. Salah satu hal yang membuatku jatuh hati padanya.. empat tahun lalu.

Dengan Bagas sebagai tukang foto kali ini, sejujurnya aku sangat menikmati perjalanan kali ini.
Kenapa?
Karena aku bisa dengan santai memanggil namanya meskipun dengan dalih meminta untuk difoto. 😛 *centil dasar!

Ini akuuuuuuu… say cheese!! XD

IMG_4274

Selesai dari Goa Pindul, kami melanjutkan perjalanan ke Pantai-Entah-Apa-Nama-Sebenarnya.

“Ayok! Berenang lagi!” seruku pada Nuril.

“Yeeee ngaco! Ini tuh pantai selatan, Bek! Bukan pantai utara!” kata Nuril.

“Lah terus kenapa kalo ini pantai selatan?” tanyaku pada Nuril. Dia tampak kesal dengan pertanyaanku.

“Ya ngga boleh berenang!” jawab Nuril mulai ketus.

“Iya kenapa ngga boleh? Itu liat, mereka berenang tuh!” Aku mulai seperti anak kecil. Tetapi itulah aku. Tidak suka dilarang tanpa alasan yang jelas.

“Liat, mereka berenang cuma di pinggir-pinggir, ngga jauh-jauh. Arus pantai selatan itu bahaya. Lo mau ketarik?” Nuril, sahabatku sejak 2007, menjelaskan dengan sabar. Aku rasa, dia sangat mengerti alasan aku merengek tadi seperti anak kecil.

“Jadi, lo mau berenang ngga?” tanya Nuril. Dari nada bicaranya, aku tau bahwa dia akan menemaniku berenang jika aku mengiyakan pertanyaannya. Tetapi sudahlah, aku tau Nuril tidak ingin berenang lagi seperti di goa tadi.

“Ngga usah deh.”

Aku bersyukur Ya Allah, atas karunia-Mu ini, Nuril Fitriyana.

Tidak banyak yang bisa kami lakukan di pantai itu selain berfoto, mengingat matahari sudah mulai tenggelam.

Entah ada apa denganku hari ini, aku merasa sangat sensitif saat itu.
Aku melihat Nuril dan Bagas berjalan bersamaan dengan jarak layaknya teman, namun tampak akrab satu sama lain di mataku, dan ahhh.. aku cemburu!!
Ya ampun, perasaan suka itu sudah lama berlalu, seharusnya rasa cemburu tidak perlu datang setiap kali aku melihat Bagas lebih akrab dengan Nuril!
Bisa gila aku dibuatnya!

Skip.
Aku malas menceritakannya lagi.

Singkat cerita, sekitar pukul 19.00 kami meninggalkan pantai tersebut dan kembali ke Jogja.

Eits, tunggu dulu..
Perjalanan kami belum selesai.

“Taman Lampion.” Itulah jawaban yang aku terima ketika aku bertanya kita-mau-kemana.

Sesuai dengan namanya, Taman Lampion itu dipenuhi lampion-lampion dengan berbagai bentuk. Ada yang berbentuk bunga, hewan, bahkan wajah manusia yang sangat familiar di otak kita, wajah sang presiden. Mataku menikmati tiap warna-warni cahaya yang ditangkapnya.
Tak hanya mata, kulitku pun menikmati tiap sentuhan angin malam Jogjakarta dan hidungku menikmati bau khas malam itu. Tak ketinggalan, otakku turut merekam tiap moment yang terjadi saat itu. Bahkan moment yang buruk sekalipun.

Di sebelah sana, dengan jarak sekitar dua meter dariku, aku melihat dia, Bagas Prasetya Putra, memegang sebatang rokok yang sudah menyala kemudian menghisapnya.
Deg deg deg… Jantungku berdebar kencang melihatnya dan otakku masih aktif mengingat setiap detail emosi yang aku rasakan saat itu.

Sejak kapan? Sejak kapan Bagas merokok?

Kesal.. kesal setengah mati aku melihatnya.
Senyum ceriaku terhapuskan seketika dan tergantikan dengan senyuman yang dipaksakan demi menutupi kekesalanku.
Sempat terpikir olehku untuk bertanya langsung pada Bagas saat itu juga, namun rasa kesalku seperti memaksaku untuk menjauh darinya.

Perlu dijelaskan disini.
Aku TIDAK MEMBENCI perokok. Sama sekali tidak.
Tetapi yang kubenci adalah fakta bahwa temanku yang bukan perokok kini berubah menjadi perokok dengan apapun itu alasannya.
Dan kebencianku itu tidak hanya menyangkut rokok.
Secara garis besar, aku membenci fakta bahwa teman-temanku melakukan hal buruk, padahal aku mengenal mereka sebagai anak baik. -_-

“Ih bau menyan!” seru salah satu temanku.

“Eh, ada rumah hantu tuh!” Temanku yang lain menunjuk ke arah bau dupa itu berasal.

“Ayo masuk yuk!”

Okelah sip..
Jadilah kita bersebelas minus Nia, masuk ke rumah hantu itu.

Deg deg deg..
Iya aku takut!
Aku masih berhaha-hihi menutupi rasa takutku ketika sedang berjalan menuju pintu masuk rumah hantu. Namun, rasa takut itu tidak lagi bisa kututupi ketika aku mulai memasuki rumah hantu tsb dan mendapati peti mati plus mayat dengan suara-suara yang membuat bulu kuduk merinding, menyambut kedatangan kami.
Sontak aku memegang erat lengan Dwi di sebelah kananku dan menggenggam erat tangan Sendika di sebelah kiriku.
AKU TAKUT!!

Dalam keadaan ketakutan sambil berlari, aku melepaskan genggaman tangan kiriku. Praktis, aku hanya memegang erat lengan Dwi di sebelah kanan.
Namun, ketika Dwi sangat ketakutan dan berlari lebih cepat dariku, meninggalkanku di belakang, aku dengan refleks secepat kilat menarik siapapun yang berada di dekatku untuk kujadikan tameng dari hantu-hantu itu. -_-

Merah.
Berbaju merah.
Tameng baruku kali ini berbaju merah. BERKAUS merah lebih tepatnya.
Dan tameng baruku itu jauh lebih tinggi dariku.

“Ini siapa? Ini siapa???” tanyaku yang mengumpat ketakutan dibelakangnya sambil membenamkan wajahku di kausnya, membuatku tidak mengetahui siapa pemilik kaus merah itu sebenarnya.

Dalam kehebohan dan ketakutan saat itu, tidak ada jawaban untukku sama sekali. *iyalah!*

Kemudian aku teringat sesuatu.
Merah.. Berbaju merah.. Seingatku yang berbaju merah pada malam itu ada dua orang, yaitu Anjar dan Bagas. -_-
Dan seperti kisah sinetron-sinetron pada umumnya, entah keberuntungan apa yang sedang menemaniku malam itu, tameng baruku itu ternyata adalah Bagas, sang mantan-27-hari.
Uuu~ *ganjen*

“Sekarang udah boleh foto-foto nih sama hantunya.” kata penjaga rumah hantu itu. Rumah hantu macam apa ini, sempat-sempatnya melakukan sesi foto bersama para hantu. -_-

DSC_1415 DSC_1417
-Ngga tau Mas nya yang ngga bisa make kamera mahal, atau gimana..  fotonya burem ngga jelas-

Keluar dari rumah hantu, kami duduk di tempat yang telah di sediakan.
Bagaikan teman lama yang sedang bernostalgia, masing-masing sibuk menceritakan kembali pengalamannya di dalam rumah hantu tersebut.

“Sandal gue.. sandal gue ilang sebelah!” Andoko menunjukkan sandalnya yang hanya tinggal sebelah. Dia tampak seperti Cinderella malam itu. -_-

“Eh, hape Yusran ilang!” Yak! Seruan kali ini membuat sebagian dari kami kembali masuk ke rumah hantu, mencari handphone Yusran yang terjatuh. -_-
Alhamdulillah ketemu.

Lelah.
Itulah yang aku yakini, sedang kami rasakan malam itu.
Namun apa daya, rasa lapar kami mengalahkan rasa lelah kami yang sudah bermimpi mencumbu tempat tidur masing-masing. -_-

Kami pun mencari makan malam di Jogja, tanpa seorang pun yang mengetahui letak warung makan yang buka lewat dari jam sepuluh malam.
Jadilah, dua jam kemudian setelah berputar-putar di tengah jalan tanpa arah, barulah kami menemukan tempat makan itu.
Sebuah warung sate.

Selesai.

Advertisements

5 thoughts on “Journal of Jogja Trip, February 2, 2013

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s