Inspiring Words for Bloggers

Seandainya di wordpress ada option “pin this post on the top of your blog” , bakalan aku pin deh postingan ini. Seandainya oh seandainya.
This post is really motivating.

Arip Yeuh!

inspiring words for bloggers

Selamat malam Minggu bagi yg merayakan!

Meminjam judul bukunya Mohammad Fauzil Adhim, Inspiring Words for Writers, saya menyortir berbagai kata-kata motivasi yg diperuntukan buat para penulis, khususnya narablog. Sebenarnya ini dibuat sebagai nutrien saja bagi diri pribadi.

  1. Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. – Pramoedya Ananta Toer
  2. Semua harus ditulis. Apa pun. Jangan takut tidak dibaca atau tidak diterima penerbit. Yang penting tulis, tulis, dan tulis. Suatu saat pasti akan berguna.Pramoedya Ananta Toer
  3. Karena kau menulis. Suaramu takkan padam ditelan angin, akan abadi, sampai jauh, jauh di kemudian hari.Pramoedya Ananta Toer
  4. Ikatlah ilmu dengan menuliskannya.Ali bin Abi Thalib
  5. Jika kamu bukan seorang raja, Jika kamu bukan seorang ulama besar, Jadilah seorang penulis! – Imam Ghozali
  6. Mungkin ada orang yang menulis untuk mengatakan kata hatinya, maafkan aku kalau salah, karena…

View original post 519 more words

Campus Party Oh Campus Party

Malam ini.. iya.. benar-benar detik ini.. akan ada campus party di salah satu tempat clubbing terbaik di Bandung.

Sesuai dengan namanya.. CAMPUS party. Kolaborasi tiga kampus yang mengadakan party bersama. Di sebuah club. Clubbing.

Perlu diperjelas di awal dulu ya, gue sama sekali ngga mikir negatif yang aneh-aneh tentang anak club. Gue, sesuai dengan moto gue, selalu berusaha netral. Karena segala sesuatu ada baik dan buruknya. Be neutral. Keep being neutral.

Ngga tau deh.. kayaknya ini kali pertama gue bener-bener curhat tanpa pake saringan.. (pake disaring ngga ya??)

Ya mau curhat aja di blog sendiri.. boleh kan ya?

Iya, sejujurnya.. gue PENGEN banget ikut campus party itu. Nyobain clubbing. Sama temen-temen gue yang ikut ke sana. Ada lah sekitar lima sampe tujuh temen gue yang ke sana. Pengen banget having fun bareng sama mereka.

Iya, sejujurnya.. gue BODO amat ke tempat clubbing pake kerudung juga. Toh a friend of mine told me that he once saw a girl using her veil in the club. Toh gue juga udah biasa diliatin dengan tatapan aneh tiap kali gue sama temen-temen gue main ke tempat billiard yang penuh dengan rokok dan minuman keras. Belum lagi, kalo inget kalo gue karaoke, gue udah bodo amat dengan tatapan mbak-mbak tempat karaoke yang sering kali dikunjungi oleh perempuan-perempuan minim belaian dan minim pakaian, apalagi uang.

Iya, sejujurnya.. 2013 2014 ini bakalan jadi tahun TERAKHIR gue kuliah. Tahun-tahun terakhir gue bisa bebas ngapain aja sebelum akhirnya gue lulus dan mikirin hal-hal yang lebih jauh dan lebih penting untuk masa depan gue.

Iya, sejujurnya.. terjadi pergolakan batin di diri gue.. ikut.. ngga.. ikut.. ngga.. ikut.. ngga.. grrr..

Tapi..

Setelah gue pikir-pikir lagi.. otak gue terus-menerus mempertanyakan satu hal..

“Buat apa??”

Buat apa lo ikut campus party?? Oh? Buat seneng-seneng sama temen-temen lo? Emangnya harus banget ke campus party itu supaya lo bisa seneng-seneng sama temen lo? Emangnya lo yakin, setelah lo ke campus party itu lo bakalan fun? Coba pikir lagi, yang bisa bikin lo seneng saat ini tuh cuma satu.. lo bisa nyelesaiin tugas akhir lo. Iya kan?

Buat apa lo ikut campus party?? Oh? Lo ngga masalah ke tempat clubbing pake kerudung? Coba pikir lagi.. Lo nya ngga masalah, tapi orang-orang di sekitar lo mempermasalahkan ngga?? Apa? Mereka fine-fine aja? Coba pikir lagi, mereka fine karena mereka bener-bener fine atau karena mereka ngga enak sama elo? Lo ngga lupa kan, ketika lo pernah minta saran ke salah satu temen lo tentang sebuah gaya berpakaian, dan respon temen lo itu justru di luar prediksi lo? Dia bilang, “Buat apa lo make kerudung kalo lo make baju kayak gitu??” Dan semoga lo ngga lupa kalo temen lo yang ngomong kayak gitu berjenis kelamin laki-laki. Dan semoga juga, lo ngga terlalu bego untuk sadar bahwa kalimat dia bisa aja dirubah jadi, “Buat apa lo make kerudung kalo lo tetep aja clubbing??”

Buat apa lo ikut campus party?? Oh? Ini tahun-tahun terakhir kuliah?? Ohiya ya.. ini tahun-tahun terakhir kuliah. Seperti yang lo bilang sebelumnya, ini bakalan jadi tahun-tahun terakhir bisa bebas ngapain aja. BEBAS ngapain aja ya?? Oh.. nanti pas di tempat clubbing, beli minumannya pake uang siapa ya?? Apah? Dibeli pake uang orang tua?? Emangnya orang tua lo ridho uangnya dipake buat beli minuman pas lo lagi clubbing?? Iya, gue tau, seperti yang udah di-state di awal, lo netral sama yang namanya clubbing, tapi.. apakah orang tua lo senetral itu juga tentang yang namanya clubbing?? I don’t think so. Masih inget kan respon orang tua lo tentang perokok? Masih inget kan kalo respon orang tua lo, khususnya nyokap, itu sangat negatif terhadap perokok? Dan waktu itu, status lo masih perokok. Itu baru ngerokok loh, belum clubbing. Masih inget kan betapa kecewanya beliau ketika tau bahwa lo itu.. ah sudahlah. Intinya, lo masih inget kan?? Okelah, ngga usah pake mikirin inget atau ngga inget.. Coba pikirin gini.. apakah lo tega, ikut campus party, clubbing sampe malem bahkan pagi, seneng-seneng, padahal orang tua lo di rumah lagi istirahat tidur malam karena capek nyariin uang buat nafkahin hidup lo. Sumpah, lo tega?? Gue sih ngga tega. (pah, mah, tari kangen..)

Dengan berat hati, gue harus melambaikan tangan ke teman-teman gue yang berangkat ke campus party itu.

Dengan berat hati, gue melangkahkan kaki ke motor gue dan mengendarainya kembali ke kosan gue.

Dengan tujuan mengurangi keberatan hati gue ini, gue curhat di blog ini.. dan di akhir penulisan ini, gue sadar satu hal..

Gue telah memilih keputusan yang benar.

 

Tertanda:

Beki, yang ditinggal teman-temannya party.

Dear You

Kehilangan seseorang yang dicintai itu memilukan.

Ini bukan tentang pacar. Bukan tentang diputusin atau diselingkuhin.

Ini tentang seorang manusia yang pernah tinggal di rahim Ibumu.

Berhenti bersedih karena diputusin pacar. Rasa sedih karena diputusin pacar atau karena diselingkuhin pacar itu ngga ada apa-apanya jika dibandingkan dengan kehilangan anggota keluarga.

Berhenti juga mencari pengganti dari orang yang telah pergi itu. Dia tidak akan pernah terganti. Tak akan bisa diganti.

Jangan.. Jangan menangis..

Get Well Dressed

Ngerandom malam-malam. Terpengaruh oleh tweet seorang teman, saya memutuskan untuk blogwalking ke rumah virtual seseorang. Sebut saja seseorang itu adalah Baiquni.

Become A Superior Man, tulisnya. Sesuai dengan judulnya, dia menulis tentang bagaimana menjadi pria keren yang berkharisma. Meskipun dari judulnya dia menyebut kata Man yang berarti Pria, tapi tips-tips yang dia berikan bisa berlaku general baik untuk pria ataupun wanita kok. 🙂

Poin pertama yang dia tulis dan paling menarik perhatian saya adalah GET WELL DRESSED.
G-E-T   W-E-L-L   D-R-E-S-S-E-D. Berpakaianlah dengan baik.
Kenapa poin ini menjadi sangat menarik -sekaligus menggelitik- untuk saya?
Jawabannya adalah.. karena saya bukanlah tipe orang yang suka memperhatikan penampilan. *sigh*
Coba tanya saya tentang apa jenis pakaian yang paling saya suka.. maka jawaban saya adalah piyama. Iya. P-I-Y-A-M-A. Piyama yang baju tidur itu. *sigh*
Seberapa suka saya sama pakaian yang namanya piyama? Mari kita ingat-ingat.. Saya sering keluar rumah berbalut piyama. Keluar rumah di sini termasuk ketika saya jalan-jalan ke mall. Iya, saya jalan-jalan ke mall pake piyama. Tidak selalu.. tapi sering. *sama aje*

Saya ingat, kali pertama ibu saya menyadari ‘keunikan’ anak perempuannya dalam berpakaian.. Kala itu, saya sedang bersiap di luar rumah hendak berangkat ke sekolah. Iya, tenang.. saya pake seragam sekolah kok. 🙂 Saat itu saya memang mengenakan seragam sekolah saya TAPI saya juga menggunakan celana tidur kesukaan saya dibalik rok panjang saya.
“Ri, pake celana yang bener sih! Itu masa celananya balapan sama roknya??” protes Sang Ratu. Ibu saya. Rupanya, celana tidur saya yang panjangnya melebihi panjang rok semata kaki saya itu terlalu menarik perhatian, menurut beliau.
“Gapapa. Biarin..” jawab saya sekenanya. Gapapa, biarin.. aku suka kok. Piyama itu kan nyaman. Itu yang ada di pikiran saya waktu itu. -_-
Untuk selanjut-selanjutnya, Beliau membiarkan saya jalan-jalan berbalut piyama. Beliau sudah mengerti kepiyamaan saya. *kepiyamaan?? -_-*
Eh sebentar.. pernah deh, suatu saat saya kesal sekali pada ibu saya. Masalahnya ya, itu.. piyama. Entah kenapa, saat itu ibu saya keukeuh menyuruh saya mengganti piyama saya ketika kami hendak berkunjung ke rumah nenek sekaligus jalan ke mall untuk membeli beberapa kebutuhan rumah. Beliau meminta saya mengganti pakaian saya, padahal beliau tau bahwa saya sangat suka piyama dan saya sudah biasa keluar rumah dengan piyama. Saya sangat tidak mengerti kenapa saat itu beliau meminta saya untuk mengganti pakaian, bahkan beliau sampai memberi ultimatum, “Kamu ganti baju, atau kamu ngga usah ikut! Jaga rumah, ngga boleh kemana-mana!” What the..? I am grounded?? Gara-gara masalah piyama?? Dan akhirnya saya kalah. -_-

Sejak SMP hingga kuliah sekarang, saya masih tetap suka dengan piyama. Tidak ada berubah mengenai kecintaan saya terhadap piyama. Yang sedikit berubah adalah cara berpikir saya.
Dulu saya berpikir sederhana.. piyama itu nyaman. Berpakaian pun juga harus nyaman. Berarti, ber-piyama saja! Berpiyama atau gunakan saja apapun yang nyaman untuk dikenakan! Ha! 😀
Dulu saya tidak ambil pusing dengan tatapan aneh orang-orang yang berarti, “Kamu saltum anak muda.. salah kostum!”
Dulu.. dulu.. dan dulu..
Tapi seiring dengan berjalannya waktu, terdapat beberapa momen yang berhasil mengikis sedikit demi sedikit pemikiran saya tentang berpakaian. Dan momen-momen itu terjadi di masa kuliah sekarang.

Satu.
“Bek, ketika lo datang ke suatu acara pake baju rapih dan bagus, itu artinya lo menghargai dan menghormati si pembuat acara.” – diucapkan oleh seorang teman, sebut saja namanya Nuril. Mungkin dia sudah terlalu jengah melihat saya yang sering cuek dalam berpakaian.. mengenakan apa saja baju yang nyaman menurut saya ketika menghadiri sebuah acara di kampus.
Seriously.. saya ngga pernah tau ada rule tak tertulis seperti itu. Ketika saya berpakaian seadanya (atau senyamannya??) ke sebuah acara, itu bukan berarti saya tidak menghargai si pembuat acara. Simple saja.. saya ingin nyaman. *sigh*

Dua.
Di kampus, saya punya dua teman, sebut saja namanya Ain dan Nashi. Keduanya mempunyai jenis kelamin yang berbeda, namun memiliki satu kebiasaan yang sama, yaitu.. mereka sangat memperhatikan penampilan. Saya agak bingung menceritakan mereka, intinya.. mereka sangat memperhatikan penampilan. Mereka memperhatikan hal-hal yang menurut saya sepele. Mereka sering sekali berganti baju, ngerapihin baju yang mereka kenakan, ngerapihin rambut mereka, mereka terlihat sangat peduli dengan penampilan mereka. Awalnya saya merasa gemas geregetan melihat kebiasaan mereka, tapi lama kelamaan, saya tersadar satu hal.. saya teringat satu hal yang dulu pernah saya singgung di blog multiply saya.. People judge a book by its cover. Diakui atau tidak.. disetujui atau tidak.. diSADARI atau tidak.. most of people judge you from your appearence. Dan judgement itu.. penilaian dari orang-orang itu bisa memberi pengaruh ke hal-hal lain dari diri kita. Makanya kalian pasti pernah denger kalimat ‘The first impression is important.’ alias ‘Kesan pertama itu penting.’

Tiga.
Pernah, dua kali saya kejadian menggunakan pakaian kece ketika menghadiri acara. Saat itu pemikiran lama saya tentang berpakaian dan piyama sudah agak terkontaminasi dengan pemikiran-pimikiran baru. Awalnya, seperti biasa, saya tidak ingin mengenakan pakaian ribet, atau dengan kalimat lain, saya hanya ingin mengenakan pakaian nyaman saya. Tapi, kondisi pada saat hari H acara membuat saya menanggalkan pakaian nyaman saya dan beralih ke pakaian kece saya. Saya berusaha untuk tampil maksimal (meskipun ogah-ogahan). Tidak disangka, saya yang ogah-ogahan di awal, justru sangat bersyukur di akhir  karena saya telah berpenampilan maksimal. *tsaaaahh*
Alasan saya bersyukur? Karena di acara itu terjadi sesuatu. Terjadi apa? Ada deh. Rahasia. :p

Itu aja sih sebenernya.. tiga alasan yang membuat pemikiran saya mulai memperhatikan penampilan. Super ngga penting ya posting kali ini?? Hahaha.. Maaf telah menyia-nyiakan waktu kalian.. 😀

Jika kalian bisa sebegitu peduli akan penampilan kalian di depan manusia..
Kenapa kalian tidak melakukan hal yang sama di depan Tuhan kalian? Kenapa kalian tidak mengenakan pakaian kece terbaik kalian ketika kalian hendak bertandang ke masjid? Kenapa kalian lebih memusingkan penampilan kalian ketika kalian hendak bertemu seseorang di sebuah acara, dibandingkan ketika kalian hendak bertemu Allah di dalam solat? Kenapa?
Tanya kenapa.

Happy GREATduation, Teman!

Pagi itu aku terbangun dari tidurku malas-malas.
Dinginnya udara Bandung pagi itu merupakan alasan kedua aku meninggalkan dunia mimpiku.
Kudapati badan ini tergeletak di atas lantai kamar teman kosku, Ain.
Ya… semalam aku, Ain, dan dua orang temanku memang “bekerja lembur” demi menyelesaikan tugas yang semakin mendekati garis kematiannya. Mungkin lebih tepatnya, mereka yang bekerja lembur dan aku yang tertidur. -_-

Hari itu hari Sabtu.
Hari dimana biasanya aku memanjakan diri bercengkrama dengan kamar kosku, menikmati singgasanaku. *baca:tempat tidur*
Namun hari Sabtu itu berbeda dari Sabtu – Sabtu sebelumnya.
Hari Sabtu itu adalah hari wisuda teman-temanku.

“Ain, ayo ke wisuda!” Ain baru saja bangun dari tidurnya.

“Ayo.” Ain menjawab singkat, kemudian dia kembali menggeliat di atas tempat tidurnya. -____-”

Sabtu itu aku begitu bersemangat! Bagaimana tidak, Sabtu itu aku akan melihat teman-teman sepermainanku diwisuda. Aku akan melihat mereka tampak rupawan dengan toga mereka, serta bunga-bunga yang akan mereka dapatkan. Ohiya.. BUNGA!!! Aku belum membeli bunga satupun!! Oke, selow.  -___________-”

Singkat cerita, aku dan Ain, serta beberapa temanku, Ayu dan Nirak, berangkat ke gedung wisuda. Tak lupa, kubeli beberapa tangkai mawar untuk teman-temanku serta satu buket mawar untuk seseorang yang lebih dari teman. :3

Kalian tau bagaimana suasana kala itu??
Panas berkeringat!!
Dan satu hal yang akan sulit kulupakan adalah ketika aku mencari teman-temanku. Mencari satu persatu teman yang ingin diberikan bunga ketika wisuda itu terasa seperti mencari jarum dalam tumpukan jerami. People everywhere! *yaiyalah!*

Skip

Setelah beberapa kali mencoba menghubungi via telepon genggam, akhirnya aku bisa bertemu dengan teman-temanku.
Ini diaaaa~

wisuda

Dear friends..
Ketika kalian selesai wisuda, pasti akan ada sebagian dari kalian yang kembali ke kampung halaman masing-masing.. dan kita tau, kampung halaman kalian tidaklah berjarak dua-tiga kilometer dari kampus kita. Puluhan. Bahkan ratusan kilometer jarak itu terbentang.
Jika kalian berpikir bahwa aku akan mengatakan betapa sedihnya aku atas kepergian kalian dari kampus ini.. maka kalian salah. Bukan.. bukan kepergian kalian yang membuatku sedih. Toh aku pun juga akan meninggalkan kampus ini, cepat atau lambat.
Aku sedih karena aku takut. Aku takut kenangan kita selama berada di kampus ini akan menghilang. Aku takut rasa kekeluargaan yang telah dipupuk sedemikian lama akan memudar. Aku takut tidak ada lagi alasan bagi kita untuk saling bertemu, bercanda, bercengkrama, saling mengejek namun tetap cinta. Aku takut itu terjadi.
Tapi teman.. siapa yang akan sudi dikuasai rasa takut ketika melihat temannya tersenyum bahagia penuh kebanggaan mengangkat tinggi-tinggi topi toga ditangannya? Siapa yang akan sanggup menunjukkan wajah sedih ketika temannya menyambutnya dengan ceria serta mengajaknya berfoto bersama mengabadikan momen berharga? Ini retorik. Tak perlu jawaban.
Aku harap kalian selalu bahagia dan semakin sukses. Aamiin.
Doakan aku juga agar menyusul kalian ya! Aamiin ya Robb! Aamiin! 🙂