Get Well Dressed

Ngerandom malam-malam. Terpengaruh oleh tweet seorang teman, saya memutuskan untuk blogwalking ke rumah virtual seseorang. Sebut saja seseorang itu adalah Baiquni.

Become A Superior Man, tulisnya. Sesuai dengan judulnya, dia menulis tentang bagaimana menjadi pria keren yang berkharisma. Meskipun dari judulnya dia menyebut kata Man yang berarti Pria, tapi tips-tips yang dia berikan bisa berlaku general baik untuk pria ataupun wanita kok. 🙂

Poin pertama yang dia tulis dan paling menarik perhatian saya adalah GET WELL DRESSED.
G-E-T   W-E-L-L   D-R-E-S-S-E-D. Berpakaianlah dengan baik.
Kenapa poin ini menjadi sangat menarik -sekaligus menggelitik- untuk saya?
Jawabannya adalah.. karena saya bukanlah tipe orang yang suka memperhatikan penampilan. *sigh*
Coba tanya saya tentang apa jenis pakaian yang paling saya suka.. maka jawaban saya adalah piyama. Iya. P-I-Y-A-M-A. Piyama yang baju tidur itu. *sigh*
Seberapa suka saya sama pakaian yang namanya piyama? Mari kita ingat-ingat.. Saya sering keluar rumah berbalut piyama. Keluar rumah di sini termasuk ketika saya jalan-jalan ke mall. Iya, saya jalan-jalan ke mall pake piyama. Tidak selalu.. tapi sering. *sama aje*

Saya ingat, kali pertama ibu saya menyadari ‘keunikan’ anak perempuannya dalam berpakaian.. Kala itu, saya sedang bersiap di luar rumah hendak berangkat ke sekolah. Iya, tenang.. saya pake seragam sekolah kok. 🙂 Saat itu saya memang mengenakan seragam sekolah saya TAPI saya juga menggunakan celana tidur kesukaan saya dibalik rok panjang saya.
“Ri, pake celana yang bener sih! Itu masa celananya balapan sama roknya??” protes Sang Ratu. Ibu saya. Rupanya, celana tidur saya yang panjangnya melebihi panjang rok semata kaki saya itu terlalu menarik perhatian, menurut beliau.
“Gapapa. Biarin..” jawab saya sekenanya. Gapapa, biarin.. aku suka kok. Piyama itu kan nyaman. Itu yang ada di pikiran saya waktu itu. -_-
Untuk selanjut-selanjutnya, Beliau membiarkan saya jalan-jalan berbalut piyama. Beliau sudah mengerti kepiyamaan saya. *kepiyamaan?? -_-*
Eh sebentar.. pernah deh, suatu saat saya kesal sekali pada ibu saya. Masalahnya ya, itu.. piyama. Entah kenapa, saat itu ibu saya keukeuh menyuruh saya mengganti piyama saya ketika kami hendak berkunjung ke rumah nenek sekaligus jalan ke mall untuk membeli beberapa kebutuhan rumah. Beliau meminta saya mengganti pakaian saya, padahal beliau tau bahwa saya sangat suka piyama dan saya sudah biasa keluar rumah dengan piyama. Saya sangat tidak mengerti kenapa saat itu beliau meminta saya untuk mengganti pakaian, bahkan beliau sampai memberi ultimatum, “Kamu ganti baju, atau kamu ngga usah ikut! Jaga rumah, ngga boleh kemana-mana!” What the..? I am grounded?? Gara-gara masalah piyama?? Dan akhirnya saya kalah. -_-

Sejak SMP hingga kuliah sekarang, saya masih tetap suka dengan piyama. Tidak ada berubah mengenai kecintaan saya terhadap piyama. Yang sedikit berubah adalah cara berpikir saya.
Dulu saya berpikir sederhana.. piyama itu nyaman. Berpakaian pun juga harus nyaman. Berarti, ber-piyama saja! Berpiyama atau gunakan saja apapun yang nyaman untuk dikenakan! Ha! 😀
Dulu saya tidak ambil pusing dengan tatapan aneh orang-orang yang berarti, “Kamu saltum anak muda.. salah kostum!”
Dulu.. dulu.. dan dulu..
Tapi seiring dengan berjalannya waktu, terdapat beberapa momen yang berhasil mengikis sedikit demi sedikit pemikiran saya tentang berpakaian. Dan momen-momen itu terjadi di masa kuliah sekarang.

Satu.
“Bek, ketika lo datang ke suatu acara pake baju rapih dan bagus, itu artinya lo menghargai dan menghormati si pembuat acara.” – diucapkan oleh seorang teman, sebut saja namanya Nuril. Mungkin dia sudah terlalu jengah melihat saya yang sering cuek dalam berpakaian.. mengenakan apa saja baju yang nyaman menurut saya ketika menghadiri sebuah acara di kampus.
Seriously.. saya ngga pernah tau ada rule tak tertulis seperti itu. Ketika saya berpakaian seadanya (atau senyamannya??) ke sebuah acara, itu bukan berarti saya tidak menghargai si pembuat acara. Simple saja.. saya ingin nyaman. *sigh*

Dua.
Di kampus, saya punya dua teman, sebut saja namanya Ain dan Nashi. Keduanya mempunyai jenis kelamin yang berbeda, namun memiliki satu kebiasaan yang sama, yaitu.. mereka sangat memperhatikan penampilan. Saya agak bingung menceritakan mereka, intinya.. mereka sangat memperhatikan penampilan. Mereka memperhatikan hal-hal yang menurut saya sepele. Mereka sering sekali berganti baju, ngerapihin baju yang mereka kenakan, ngerapihin rambut mereka, mereka terlihat sangat peduli dengan penampilan mereka. Awalnya saya merasa gemas geregetan melihat kebiasaan mereka, tapi lama kelamaan, saya tersadar satu hal.. saya teringat satu hal yang dulu pernah saya singgung di blog multiply saya.. People judge a book by its cover. Diakui atau tidak.. disetujui atau tidak.. diSADARI atau tidak.. most of people judge you from your appearence. Dan judgement itu.. penilaian dari orang-orang itu bisa memberi pengaruh ke hal-hal lain dari diri kita. Makanya kalian pasti pernah denger kalimat ‘The first impression is important.’ alias ‘Kesan pertama itu penting.’

Tiga.
Pernah, dua kali saya kejadian menggunakan pakaian kece ketika menghadiri acara. Saat itu pemikiran lama saya tentang berpakaian dan piyama sudah agak terkontaminasi dengan pemikiran-pimikiran baru. Awalnya, seperti biasa, saya tidak ingin mengenakan pakaian ribet, atau dengan kalimat lain, saya hanya ingin mengenakan pakaian nyaman saya. Tapi, kondisi pada saat hari H acara membuat saya menanggalkan pakaian nyaman saya dan beralih ke pakaian kece saya. Saya berusaha untuk tampil maksimal (meskipun ogah-ogahan). Tidak disangka, saya yang ogah-ogahan di awal, justru sangat bersyukur di akhir  karena saya telah berpenampilan maksimal. *tsaaaahh*
Alasan saya bersyukur? Karena di acara itu terjadi sesuatu. Terjadi apa? Ada deh. Rahasia. :p

Itu aja sih sebenernya.. tiga alasan yang membuat pemikiran saya mulai memperhatikan penampilan. Super ngga penting ya posting kali ini?? Hahaha.. Maaf telah menyia-nyiakan waktu kalian.. 😀

Jika kalian bisa sebegitu peduli akan penampilan kalian di depan manusia..
Kenapa kalian tidak melakukan hal yang sama di depan Tuhan kalian? Kenapa kalian tidak mengenakan pakaian kece terbaik kalian ketika kalian hendak bertandang ke masjid? Kenapa kalian lebih memusingkan penampilan kalian ketika kalian hendak bertemu seseorang di sebuah acara, dibandingkan ketika kalian hendak bertemu Allah di dalam solat? Kenapa?
Tanya kenapa.

Advertisements

4 thoughts on “Get Well Dressed

  1. First long blogpost that I’ve ever read from you. It is a good blogpost.
    Ketika membacanya hingga titik terakhir gue yang sedang jalan santai di taman tiba-tiba terlempar ke langit karena tiba-tiba angin puyuh datang. Ya begitulah metafor perasaan gue ketika baca blogpost ini.

    Kenapa kita gak pakai pakaian kece/keren ketika solat? Ketika hendak ingin bertemu sang pencipta?
    Karena Tuhan ingin bertemu dengan kita dengan apa adanya diri kita. Karena pakaian kece/keren itu menutupi setengah, sebagian dari diri kita sebenarnya.

    • Tapi jabatan Tuhan jauh lebih tinggi dari manusia.
      Sama kayak bos dan anak buahnya. Bos lebih tinggi jabatannya daripada manusia, maka sudah sepatutnya dong kita lebih hormat ke bos kita? (Bukan berarti kita ngga hormat ke sesama anak buahnya ya)

      Anyway.. thx bai! :*

  2. haha… pesannya itu. kalo pndapat saya mah, “berpakaian yang layak”. bagus bagus, bisa berubah pemikirannya ttng berpakaian.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s