A romantic Wednesday with VCF

Hai warga wordpress!
Kali ini aku mau cerita tentang Rabu Romantis bersama VCF.

Kencan Rabu Romantis ini dimulai dengan brunch di KFC Buah Batu. Ceritanya mumpung KFC lagi ada diskon #RabuSpesial diskon 50% Super Besar 2 šŸ˜€ (Kita pecinta diskon!) Sebenernya sih brunch kali ini seperti sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui. *apadah* Selain untuk mengisi perut kami yang memang sejak pagi belum diisi, brunch kali ini bertujuan untuk menaikkan berat badan kami secara instan! Yaaa meskipun aku tau, paling banyak pertambahan berat badan setelah makan itu sekitar 1 kilogram. Tapi kan lumayan lah ya, supaya ngga ditolak pas donor darah nanti. šŸ˜€

pic20140108113048

Makan dulu genk! šŸ˜€

Setelah dirasa cukup bertambah berat badan ini, segeralah aku dan VCF merealisasikan agenda donor darah yang sudah direncanakan sejak satu minggu lalu. Donor darah kali ini cukup spesial karena ini adalah pertama kalinya VCF akan melakukan donor darah dan ini adalah pertama kalinya aku mendonorkan darah langsung di PMI. Ohiya, sekedar informasi, PMI Bandung yang kami kunjungi terletak di Jl Aceh No. 79. Silahkan cek di Google Map dengan koordinat 06Ā°54’31.6”S 107Ā°37’11.4ā€E.

Pertanyaannya kali ini adalah… apakah VCF berhasil mendapat izin PMI untuk mendonorkan darahnya? Sebagai informasi, tidak semua orang bisa melakukan donor darah. Syarat-syarat donor darah yang aku tau selama ini adalah:
1. Berbadan sehat
2. Berusia 17-60 tahun
3. Berat badan lebih dari 47 kg (berdasarkan yang tertera di PMI Bandung)
4. Memiliki tekanan darah yang memenuhi standar minimal
5. Memiliki kadar hemoglobin yang memenuhi standar minimal
6. Bagi wanita: tidak dalam keadaan sedang hamil, menyusui, atau menstruasi
7. Jarak waktu donor darah minimal 3 bulan

Let’s check it one by one. Untuk poin nomor satu, alhamdulillah VCF sedang sehat. Secara fisik. Tapi kalo secara hati? Perasaan? Atau bahkan kejiwaan? Ehm.. sepertinya diragukan. *peace* Untuk poin nomor dua, VCF, 21 tahun, dan single. Nah untuk poin nomor tiga, VCF lulus (atau lolos?). Sebenarnya aku tidak terlalu yakin berat VCF mencapai berat minimun yang ditentukan, tapi berhubung si bapak resepsionis PMI hanya bertanya berapa berat kami tanpa meminta kami menimbang terlebih dahulu untuk mengecek kebenaran jawaban kami, ya sudah… enteng saja VCF jawab, ” -sensor- kilo.” Harus disensor. Berat badan adalah topik yang cukup sensitif bagi wanita pada umumnya. Yang jelas, VCF lolos syarat nomor tiga. Masuk ke syarat nomor empat. Syarat inilah yang justru menghalangi niat baik VCF donor darah. Tekanan darah VCF terlalu rendah. Lebih rendah dari standar minimal tekanan darah yang diizinkan PMI. VCF ditolak PMI. VCF sedih.

Praktis, hanya aku yang donor darah.

Selesai dengan urusan yang berdarah-darah, kami melanjutkan kencan kami ke sebuah Panti Asuhan yang terletak di Jl Purnawarman No. 25. Panti Asuhan Bayi Sehat Muhammadiyah namanya. Sudah lama sekali aku dan VCF tidak main-main ke panti ini. Waktu itu jam di handphoneku menunjukkan pukul dua belas siang lebih. Aku tau, pada jam segini anak-anak di panti pasti sedang tidur siang. Jadwal rutin mereka. Maka dari itu aku tidak terlalu berharap bisa bermain dengan mereka, tapi setidaknya, sekedar mengunjungi pun tidak ada salahnya, bukan?

“Yaudah, jadi mau kemana? Lawangwangi atau Selasar Sunaryo?” tanya VCF. Sembari menunggu pukul tiga sore, kami memutuskan untuk pergi ke suatu tempat. Tapi kemana? Lawangwangi atau Selasar Sunaryo? Baik Lawangwangi atau Selasar Sunaryo sama-sama mengusung tema seni, dan keduanya adalah tempat yang belum pernah aku datangi selama hampir empat tahun aku tinggal di Bandung. Ohiya, kenapa kami membunuh waktu menunggu pukul tiga sore? Jadi, sebenarnya aku dan VCF masih berhasrat untuk bermain dengan adek-adek di panti yang unyu-unyu itu, dan pukul tiga sore adalah jadwal adek-adek itu bangun dari tidur siangnya dan mandi.

“Selasar Sunaryo aja deh,” jawabku setelah melalui kegalauan panjang. *apadah*

Nah.. sampailah kami di Selasar Sunaryo Art Space. Kegiatan pertama yang kami lakukan adalah mengunjungi ruang pamer karya seni / galery. Fyi, ini pertama kalinya aku ke galery seni. Eh.. mmm.. beberapa bulan lalu pernah liat galery kampus sebelah sih, tapi.. itu ngga masuk itungan. Haha. Namanya juga ruang pamer karya seni, jadi ruangannya penuh dengan karya seni yang keren-keren, unik-unik, bahkan abstrak! Sayangnya di galery Selasar Sunaryo ini, pengunjung dilarang untuk memotret isi galery, apalagi sampai menyentuh benda karya Sunaryo. Yasudah.. mau dikata apalagi. Coba buka ini deh : Thawaf (Movement Towards Oneness of God) Karya seni paling keren di Selasar Sunaryo, menurut aku. šŸ™‚

Anyway.. kalo kalian lagi hangout sama temen kalian, jangan lupa untuk tetap solat ya! šŸ˜€

“Teh, tempat solatnya dimana ya?” tanyaku pada karyawan penjaga galery.
“Lewat tangga ini turun, terus aja ke sana,” jawabnya.

Kalian tau, saat karyawan itu memberikan petunjuk lokasi mushola, yang aku pikirkan bukan hanya tentang dimana mushola itu berada tetapi juga seperti apa mushola itu bentuknya. Maksudku, ini Selasar Sunaryo ART Space loh.. hanya penasaran saja sih. Dugaanku, tempat solatnya pasti cozy seperti tempat solat di salah mall besar di Jakarta. Well, dugaanku tidak sepenuhnya salah sih. Iya, tempat solatnya memang didesain cozy, TAPI yang membuatku terpesona adalah tempat solatnya pun masih berbau-bau seni. Unik! Coba deh kalian main-main solat di mushola Selasar Sunaryo. Mungkin kalian akan ketawa-tawa. šŸ˜€

1389206227518

VCF Khusyu’.

Di Selasar Sunaryo Art Space pun terdapat sebuah cafe. Sebuah cafe dengan pemandangan hijaunya bukit di Bandung. Tempatnya cozy, asik untuk diskusi, dan seperti cafe-cafe pada umumnya, milkshake strawberry plus hot cappucino dihargai total lima puluh tiga ribu sembilan ratus rupiah. Sudah, jangan ditanya lagi.

1389206250495

Pink Strawberry.

“Ah jangan!” Tanganku bergerak segera menahan tangan VCF yang seperti akan mengganti lagu yang terdengar sayup-sayup dari speaker mobilnya. Jeda beberapa mili detik, ternyata VCF justru menambah volume suara speakernya. “Lagunya pas banget!” seru VCF. Kings of Convenience – Cayman Island. Kami berada dalam mobil. Meninggalkan Selasar Sunaryo Art Space, tidak memiliki tujuan. Mata yang sudah terpuaskan oleh pemandangan bukit hijau, kini dimanjakan lagi oleh hujan rintik yang sedang menari berkolaborasi dengan kabut tipis pengunungan. Ditambah lagu Kings of Convenience? Lengkap sudah, seharusnya. Jika saja..
“Aaaaaahhh kenapa mesti sama elo siihh??? Harusnya gue sama cowo! Lo tuh harusnya cowo!”
Kami berdua berpikiran sama. Seandainya moment seperti ini dinikmati dengan seorang lelaki. Lelaki pujaan. Lelaki idaman yang tak kunjung datang karena tak kunjung mengerti jalan pikiran kita. Ah sudahlah..

“Karaoke yuk?” tanya VCF.
“YUK!” jawabku.

Kami karaoke. Dua jam. Dua gadis lajang. Ah sudahlah..

“Abis ini makan yuk!” ajak VCF.
“Emm.. yaudah deh,” jawabku. Meskipun aku masih merasa kenyang setelah makan sebelumnya, tapi tak apalah.. toh waktupun sudah menunjukkan pukul 17:30 . Anggap saja sebagai makan malam. Apa? Jam tiga ke panti asuhan lagi? Kami lupa. -_-

Akhirnya, kencan kami hari itu diakhiri dengan almost-dinner-time dinner dan ditutup dengan obrolan-panjang-lebar-pembunuh-sepi-dikala-mobil-terjebak-macet-saat-pulang-menuju-Sukabirus.

Terima kasih.. šŸ™‚

Advertisements

9 thoughts on “A romantic Wednesday with VCF

  1. Pingback: Be Careful Of What You Wish For | Berbagi Beki

  2. Pingback: Her Name is Vanessa | Berbagi Beki

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s