You

Biarkan aku mengenangmu. ๐Ÿ™‚

Santolo. 31 Desember 2014 – 1 Januari 2015.

I Did Love You

Hari ini aku iseng buka folder-folder yang ada di laptop. Tak disangka, ternyata keisenganku berujung pada sebuah nostalgia.

Inisialnya adalah BPP. Mantan keduaku. Mantan terindah.
Aku dan dia berpacaran tanggal 1 September, dan memutuskan untuk berpisah pada hari ke-27 di bulan dan tahun yang sama. Terlalu singkat? Memang.

Saat ini aku sedang membaca chat antara aku dan dia yang sempat aku abadikan di laptopku.

hey hacker-ku sayang..
aku suka kamu deh.. hhi..

OH. MY. GOD. Aku penasaran, ketika aku bilang ke dia seperti itu, apakah dia hanya menganggap itu hanyalah sebuah candaan?
OH. MY. GOD. Aku berani jamin, bahwa saat itu aku benar-benar suka sama dia. I DID love him. Dan mungkin sampe sekarang aku masih suka sama dia, meskipun rasa suka saat ini sudah berbeda dibandingkan rasa suka pada waktu dulu.

Aku pernah cerita tentang BPP ini ke Danang. Kurang lebih seperti ini:

Aku: “Kita jadian cuma 27 hari. Gue ngga pernah tau dia suka juga atau ngga sama gue. Gue yang suka dia. Gue yang nembak. Dia nerima setelah gue ngajak jadian empat kali. Sampe hari ke-27, dia ngajakin putus. With no reason. Sejak beberapa hari sebelumnya dia udah ngajakin putus tapi gue ngga mau. Tapi ngga tau kenapa pas tanggal 27 itu gue malah ngelepasin dia. Ah stupid me. Sebel.”
Danang: “No, you did the right thing.”
Aku: “Really? Why?”
Danang: “Pertama, kamu udah jatuhin harga dirimu. Kedua, dia ngga tegas menentukan sikap. Ketiga, hidupmu masih panjang. Biasanya cowo kalo ngga yakin, lebih berharap nemu cewe yang lebih. Intinya cowok rata-rata suka kalo mendapatkan cewek dengan effort. Dan ketika ada cewe mendekat dan dia ngga srek, dia bakal geje antara iya atau tidak.”
Aku: “Lalu? Udah gitu aja? Mungkin dia belum yakin sama perasaannya kan? Mungkin kalo aku tahan dia agak lama, dia bakalan ngerasain hal yang sama kayak aku.”
Danang: “Udah, ngga bakal kok. Ngeperjuangin cinta itu hanya ada di ftv sama abg. Kalo udah gede kan bakal lebih rasional aja. Kalo suka bilang suka. Udah.”
Aku: “Hahahaha… Kamu sukses ngancurin imajinasi aku tentang dia. Hahahha… Sedih. Hahahha… Penyakit orang jatuh hati… Delusional. Hahhaha.”

Kalian tau, aku ini orang yang cuek, tapi bisa saja sekali waktu aku menjadi sangat sensitif. ๐Ÿ˜ฆ

Duh aku kangen dia.

Dan masih, aku baca chat antara aku dan dia. Dia terlalu sabar. Dia terlalu baik. Aku suka dia. Tapi mau gimana atuh? Da aku mah apa atuh? Dia anak baik dan aku super bandel. Ngga cocok banget. Yasudahlah.

Another Waiting

Hai hai… Kalian udah baca tulisan aku Be Careful Of What You Wish For?
Di situ aku bilang kaloย menunggu di hari Sabtu mengharap datangnya hari Senin itu rasanya SANGAT MENYIKSA. Dan hari ini, tepat di detik ini. Lagi-lagi aku harus menunggu, dan yang lebih menyebalkan lagi adalah aku harus menunggu sampai hari Rabu tiba. Rabu. Melebihi hari Senin. Oh God.

Pagi ini aku berangkat ke PMI dengan penuh percaya diri, berbekal hasil lab dari sebuah rumah sakit dan sebuah lab, yang keduanya mengatakan bahwa darahku non-reaktif terhadap penyakit leukemia. (Jangan lupa ya, ini bukan benar-benar sakit leukemia!) Niat hati sih ingin menunjukkan pada pihak PMI bahwa aku sehat tubuhku kuat karena aku adalah anak Indonesia, tak lupa sekalian aku mendonorkan darah yang sempet tertunda minggu lalu.

Sesampainya aku di PMI, aku langsung bertemu dokter yang minggu lalu memvonisku dengan penyakit leukemia. Aku tunjukkan hasil tes lab ku.

Respon dokter tsb adalah: “Ini metode tes nya beda ya? Coba deh jangan tes di rs ini. Coba tes di Lab XYZ, yang metode tesnya sama.” Oh men… Dia meragukan hasil lab yang menyatakan bahwa aku sehat.

Aku: “Tapi dok, kemaren aku juga tes di lab ABC, hasilnya juga non-reaktif kok. Metodenya juga beda dari ini.” Maksudku, metode tes nya berbeda dari tes di PMI dan di rs terkenal itu.

Dokter: “Oh gitu… Yaudah gini aja, sekarang coba kamu donor dulu, biar nanti sekalian di tes lagi darahnya. Nanti saya kasih kamu nomor labunya.”

Otomatis aku langsung seneng kan ya? Yes!!! Aku bisa donor darah lagi.
Ealaaahh sayang namun sayang, hari itu aku tetep ngga bisa donor karena paginya aku abis minum obat pengurang nyeri. -_- Fyi, kalo mau donor itu, pendonor ngga boleh minum obat sejak 3 jari sebelumnya.
Jadilah aku harus menunggu sampe obatnya habis, yaitu besok pas habis obatnya, dan aku juga harus menunggu tiga hari setelah konsumsi obat-obatan itu. Ya kalo aku hitung-hitung, minimal hari Rabu aku baru bisa donor sekalian cek darah di PMI.

Oke. Perasaan aku kali ini agak cemas, namun tidak separah minggu lalu. Berbekal hasil 2 tes sebelumnya, aku percaya bahwasannya aku ini sehat! Meskipun, ya aku tidak bisa berbohong bahwa ada sekelibat perasaan ragu. Namun, tetap saja… Seperti kata Om Iwan di komennya pada postinganku sebelumnya bahwa kita adalah apa yang kita pikirkan, maka dari itu kali ini aku benar-benar tidak ambil pusing. Berpikiran positif sajalah.

Btw… Aku mau nanya nih, siapa di sini yang bisa jawab pertanyaanku tentang penyakit dalam tubuh? Yuk kita private contact yuk… Aku butuh pencerahan. ๐Ÿ™‚

Salam hangat di tengah dinginnya Bandung! Ciao!

Be Careful Of What You Wish For

Hai hai… Selamat tahun baru! Semoga tahun 2014 kemaren berjalan dengan penuh arti ya! Aamiin.
Ohiya, ngomongin soal tahun baru, biasanya muncul pertanyaan umum tentang resolusi di tahun baru. Nah, aku mau nanya nih… Apa sih harapan-harapan kalian di tahun 2015 ini?
Tunggu tunggu… Sebelum kalian menjabarkan harapan-harapan kalian di tahun 2015 ini, aku pengen ngingetin nih bahwa mempunyai harapan itu penting, tapi lebih penting lagi kalo kita semua berhati-hati atas apa yang akan kita panjatkan ke Allah. Di postingan kali ini aku mau sharing pengalaman aku yang “nekat” ngarepin sesuatu yang buruk hanya karena alasan penasaran.

Ceritanya, selama ini aku sering ngebayangin kalo tiba-tiba aku divonis sakit keras. -_- (Plis, jangan dicontoh!)
Aku penasaran aja gitu sama sensasi shock-nya ketika dokter ngasih tau. Apakah bener kayak di film-film drama gitu ataukah gimana?? Seperti apa?? Sungguh rasa penasaran yang ngga penting.
Perlu digarisbawahi ya, aku tidak secara resmi meminta kepada Allah, TAPI aku sering ngebayanginnya. Dan rasa-rasanya tidak jarang ketika aku kepikiran sesuatu, Allah langsung ngejawab apa yang aku pikirin dengan kejadian nyata di depan mata. Udah paham banget dong kalo Allah itu Maha Mengetahui? Dan kali ini, Sabtu, 27 Desember 2014, Allah kembali beraksi menunjukkan kuasa-Nya.

Sabtu itu aku dan temanku, Yudha, sepakat untuk melakukan donor darah di PMI Jl.Aceh, Bandung. Ini adalah kali pertama untuk temanku mendonorkan darahnya, dan merupakan entah kali keberapa untukku mendonorkan darahku. Seperti yang pernah aku posting di sini, terdapat beberapa syarat yang harus dipenuhi sebelum pendonor mendonorkan darahnya.
Semua berjalan normal, awalnya. Seperti biasa, kegiatan donor darah diawali dengan mengisi formulir data diri pendonor, yang kemudian dilanjut dengan mengecek tekanan darah pendonor. Tahap pengecekan tekanan darah selalu membuatku gelisah. Bagaimana tidak… aku pernah tidak diijinkan donor darah karena tekanan darahku terlalu rendah di bawah standar. Mungkin waktu itu aku kurang tidur. (Eh? Emangnya ngaruh ya? -_-)

“Tekanan darahnya normal ya,” kata Si Dokter Tampan. Yes!!! Aku senang, tekanan darahku kali ini memenuhi standar untuk donor darah. Tapi sayangnya, kesenanganku sedikit memudar ketika aku melihat sebuah kertas putih di atas meja dokter yang membuat Si Dokter Ganteng berkata, “Ke lab dulu yah. Di cek dulu hasil darah sebelumnya.” Kemudian kertas putih itu diberikan kepadaku untuk diserahkan ke bagian lab.

Dengan santai, aku berjalan menuju lab. Sesampainya aku di lab, kertas putih itu kuberikan ke bagian lab.
Pada saat itu, aku tidak merasa terlalu khawatir, karena toh sebelumnya aku pernah dipanggil ke lab hanya untuk diberi tau jenis kantong darah apa yang sebaiknya digunakan olehku. (Aku lupa nama jenis kantong darahnya.)
Di tengah-tengah menunggu informasi dari lab, aku masih sempat terpikir kalau-kalau berita yang aku terima dari lab adalah berita buruk bahwa aku mengidap penyakit mematikan seperti di film-film. Duh. Seriously, jangan dicontoh. -_-
Setelah lama menunggu di depan lab, akhirnya seorang dokter perempuan datang menghampiriku. Di sini aku mulai merasa heran. Kenapa untuk kali ini sang dokter harus menghampiriku, sedangkan terakhir kali aku ke lab ini, aku hanya langsung disodorkan kantong darah baru? Kemudian was-was ketika sang dokter berkata, “Yuk, ikut saya ke ruang dokter!” Nah loh?

“Ini Sitia, dari hasil cek darah Anda, terindikasi Anda mengidap penyakit leukemia. Saran saya, silahkan Anda konsultasi ke dokter penyakit dalam. Jangan donor darah dulu ya.”

HIYAK!!! JEDHUAARRR JEDDDERRR!!! TRALALA TRILILI~
Mimpi apa aku semalem kok tiba-tiba aku divonis mengidap penyakit ini??

Ohiya, sebagai catatan, nama penyakit yang dikasih tau dokter ke aku tuh sebenernya BUKAN leukemia, melainkan penyakit lain yang sama-sama berbahaya, obatnya mahal, dan menular pula. Tapi supaya para pembaca bisa merasakan sensasi horornya, nama penyakitnya aku ganti jadi leukemia, yang lebih dikenal oleh masyarakat. Ho ho ho…

Kalian mau tau gimana rasanya jadi aku setelah denger kabar itu? Baiklah, aku jabarkan… Coba kalian bayangkan sebuah gedung bertingkat yang megah nan kokoh. Gedung tersebut menjulang tinggi gagah ke angkasa. Atau gampangnya, coba kalian bayangkan hotel Burj Al Arab aja deh. Nih, aku sertain fotonya ya!

Burj-Al-Arab-hotel

Hotel Burj Al Arab dan pemandangan di sekitarnya.

Keren banget kan hotelnya? Nah… anggap aja, hotel Burj Al Arab itu adalah gambaran masa depan aku, yang insyaAllah bakalan indah dan keren banget. Namun hotel Burj Al Arab itu tak lagi indah ketika sang dokter memberi tau aku tentang sakitku, yang kurang lebih rasanya seperti video di bawah ini…

Yap. Runtuh seketika. Gedung megah representasi masa depan aku runtuh seketika. Tiba-tiba aku ngga bisa mikirin masa depan. Hancur sudah rencana-rencanaku di masa depan.

Dengan penuh ketidaksabaran, saat itu juga setelah Yudha selesai donor darah, aku dan Yudha menuju sebuah rumah sakit ternama di kota Bandung. Sesampainya aku di rumah sakit, aku langsung mendaftarkan diri di loket pendaftaran.

“Teh, dokter penyakit dalamnya ada ngga sekarang?” tanyaku.

“Maaf Mbak, dokternya sudah ngga ada di tempat.” Ah kesel!

“Kalo besok, dokternya ada jam berapa?” tanyaku.

“Kalo Minggu, ngga ada dokter spesialis Mbak.” AH MAKIN KESEL!!!

Di hari itu aku juga baru tau bahwa hari Minggu adalah hari liburnya para dokter spesialis. -_-
Kalian harus tau ya, menunggu di hari Sabtu mengharap datangnya hari Senin itu rasanya SANGAT MENYIKSA. Jeda satu hari di hari Minggu terasa amat lama. Apalagi kondisiku adalah abu-abu cenderung kehitaman. Aku masih percaya ngga percaya sama hasil lab PMI. (Mungkin ini fase denial? -_-)

Entah berapa kali sudah aku menangis di hari itu. Ngga mau terima kenyataan. Dalam hati berteriak minta tolong untuk dibangunin karena otak ngga terima kalo ini nyata dan hanya mau nganggep berita buruk ini hanya sebuah mimpi. Baca postingan aku yang ini. Postingan itu aku tulis ketika super shock, super galau, super putus asa, super serba super. -_-

Oh… mungkin kalian berpikir, kenapa ngga dibawa fun aja sih???
Ho ho ho… Jangan salah sayang… SUDAH! SUDAH aku bawa fun! SUDAH aku lakukan hobi yang biasa kulakukan untuk mengusir stress, yaitu KARAOKE! SUDAH! SUDAH AKU LAKUKAN. Tapi apa hasilnya?? Aku tetap sedih. Tawaku tidak lepas, dan bahagiaku tidak ikhlas, itulah yang aku rasakan. Dan lagi-lagi, cuma bisa nangis. (Maapin ya aku lemah..)

SKIP Hari Minggu, langsung Hari Senin.

Senin pagi, sebelum aku berangkat ke rumah sakit, aku sempat membaca sebuah postingan inspiratif di facebook yang kemudian mendorongku untuk menulis di blog, dan jadilah postingan ini. Kembali mengumpulkan tenaga untuk menjadi kuat lagi seperti sediakala. Jadilah aku ke rumah sakit di hari Senin itu.

Kalian mau tau, apa kata dokter penyakit dalam kepadaku ketika aku konsultasi dan sudah menyiapkan mental untuk jawaban terburuk??

“Cek lagi aja yah!” Haaaaahhh… nyawaku berasa lagi dimain-mainin. Aku harus menunggu satu hari lagi, karena hasil lab baru bisa keluar dan dianalisa oleh sang dokter keesokan harinya.

SELASA.

Ku terima hasil lab, kemudian aku baca…







Parameter 1 = NORMAL
Parameter 2 = NORMAL





Tes Penyakit 1 = NON REAKTIF
Tes Penyakit 2 = NON REAKTIF





Dokter RS = “Ah ini non reaktif kok. Normal semua. Gapapa ini mah. Sehat. Udah sana pulang!”
Gue = *facepalm*

picard-facepalm

Oh. My. God.

Selesai.

Begitulah kisah aku yang (alhamdulillah hanya sedikit) pemikiranku dikabulkan oleh-Nya, padahal aku belum tentu sanggup ngejalaninnya. And, back to the first advice, mempunyai harapan itu penting, tapi lebih penting lagi apabila kita semua berhati-hati atas apa yang akan kita panjatkan ke Allah.

Dear PMI JL.ACEH BANDUNG… ARE YOU KIDDING ME??? INI HASIL TES LAB AKU NORMAL SEMUA WEY! AKU TUH SEHAT-SEHAT AJA WEY!! Kesel.