Be Careful Of What You Wish For

Hai hai… Selamat tahun baru! Semoga tahun 2014 kemaren berjalan dengan penuh arti ya! Aamiin.
Ohiya, ngomongin soal tahun baru, biasanya muncul pertanyaan umum tentang resolusi di tahun baru. Nah, aku mau nanya nih… Apa sih harapan-harapan kalian di tahun 2015 ini?
Tunggu tunggu… Sebelum kalian menjabarkan harapan-harapan kalian di tahun 2015 ini, aku pengen ngingetin nih bahwa mempunyai harapan itu penting, tapi lebih penting lagi kalo kita semua berhati-hati atas apa yang akan kita panjatkan ke Allah. Di postingan kali ini aku mau sharing pengalaman aku yang “nekat” ngarepin sesuatu yang buruk hanya karena alasan penasaran.

Ceritanya, selama ini aku sering ngebayangin kalo tiba-tiba aku divonis sakit keras. -_- (Plis, jangan dicontoh!)
Aku penasaran aja gitu sama sensasi shock-nya ketika dokter ngasih tau. Apakah bener kayak di film-film drama gitu ataukah gimana?? Seperti apa?? Sungguh rasa penasaran yang ngga penting.
Perlu digarisbawahi ya, aku tidak secara resmi meminta kepada Allah, TAPI aku sering ngebayanginnya. Dan rasa-rasanya tidak jarang ketika aku kepikiran sesuatu, Allah langsung ngejawab apa yang aku pikirin dengan kejadian nyata di depan mata. Udah paham banget dong kalo Allah itu Maha Mengetahui? Dan kali ini, Sabtu, 27 Desember 2014, Allah kembali beraksi menunjukkan kuasa-Nya.

Sabtu itu aku dan temanku, Yudha, sepakat untuk melakukan donor darah di PMI Jl.Aceh, Bandung. Ini adalah kali pertama untuk temanku mendonorkan darahnya, dan merupakan entah kali keberapa untukku mendonorkan darahku. Seperti yang pernah aku posting di sini, terdapat beberapa syarat yang harus dipenuhi sebelum pendonor mendonorkan darahnya.
Semua berjalan normal, awalnya. Seperti biasa, kegiatan donor darah diawali dengan mengisi formulir data diri pendonor, yang kemudian dilanjut dengan mengecek tekanan darah pendonor. Tahap pengecekan tekanan darah selalu membuatku gelisah. Bagaimana tidak… aku pernah tidak diijinkan donor darah karena tekanan darahku terlalu rendah di bawah standar. Mungkin waktu itu aku kurang tidur. (Eh? Emangnya ngaruh ya? -_-)

“Tekanan darahnya normal ya,” kata Si Dokter Tampan. Yes!!! Aku senang, tekanan darahku kali ini memenuhi standar untuk donor darah. Tapi sayangnya, kesenanganku sedikit memudar ketika aku melihat sebuah kertas putih di atas meja dokter yang membuat Si Dokter Ganteng berkata, “Ke lab dulu yah. Di cek dulu hasil darah sebelumnya.” Kemudian kertas putih itu diberikan kepadaku untuk diserahkan ke bagian lab.

Dengan santai, aku berjalan menuju lab. Sesampainya aku di lab, kertas putih itu kuberikan ke bagian lab.
Pada saat itu, aku tidak merasa terlalu khawatir, karena toh sebelumnya aku pernah dipanggil ke lab hanya untuk diberi tau jenis kantong darah apa yang sebaiknya digunakan olehku. (Aku lupa nama jenis kantong darahnya.)
Di tengah-tengah menunggu informasi dari lab, aku masih sempat terpikir kalau-kalau berita yang aku terima dari lab adalah berita buruk bahwa aku mengidap penyakit mematikan seperti di film-film. Duh. Seriously, jangan dicontoh. -_-
Setelah lama menunggu di depan lab, akhirnya seorang dokter perempuan datang menghampiriku. Di sini aku mulai merasa heran. Kenapa untuk kali ini sang dokter harus menghampiriku, sedangkan terakhir kali aku ke lab ini, aku hanya langsung disodorkan kantong darah baru? Kemudian was-was ketika sang dokter berkata, “Yuk, ikut saya ke ruang dokter!” Nah loh?

“Ini Sitia, dari hasil cek darah Anda, terindikasi Anda mengidap penyakit leukemia. Saran saya, silahkan Anda konsultasi ke dokter penyakit dalam. Jangan donor darah dulu ya.”

HIYAK!!! JEDHUAARRR JEDDDERRR!!! TRALALA TRILILI~
Mimpi apa aku semalem kok tiba-tiba aku divonis mengidap penyakit ini??

Ohiya, sebagai catatan, nama penyakit yang dikasih tau dokter ke aku tuh sebenernya BUKAN leukemia, melainkan penyakit lain yang sama-sama berbahaya, obatnya mahal, dan menular pula. Tapi supaya para pembaca bisa merasakan sensasi horornya, nama penyakitnya aku ganti jadi leukemia, yang lebih dikenal oleh masyarakat. Ho ho ho…

Kalian mau tau gimana rasanya jadi aku setelah denger kabar itu? Baiklah, aku jabarkan… Coba kalian bayangkan sebuah gedung bertingkat yang megah nan kokoh. Gedung tersebut menjulang tinggi gagah ke angkasa. Atau gampangnya, coba kalian bayangkan hotel Burj Al Arab aja deh. Nih, aku sertain fotonya ya!

Burj-Al-Arab-hotel

Hotel Burj Al Arab dan pemandangan di sekitarnya.

Keren banget kan hotelnya? Nah… anggap aja, hotel Burj Al Arab itu adalah gambaran masa depan aku, yang insyaAllah bakalan indah dan keren banget. Namun hotel Burj Al Arab itu tak lagi indah ketika sang dokter memberi tau aku tentang sakitku, yang kurang lebih rasanya seperti video di bawah ini…

Yap. Runtuh seketika. Gedung megah representasi masa depan aku runtuh seketika. Tiba-tiba aku ngga bisa mikirin masa depan. Hancur sudah rencana-rencanaku di masa depan.

Dengan penuh ketidaksabaran, saat itu juga setelah Yudha selesai donor darah, aku dan Yudha menuju sebuah rumah sakit ternama di kota Bandung. Sesampainya aku di rumah sakit, aku langsung mendaftarkan diri di loket pendaftaran.

“Teh, dokter penyakit dalamnya ada ngga sekarang?” tanyaku.

“Maaf Mbak, dokternya sudah ngga ada di tempat.” Ah kesel!

“Kalo besok, dokternya ada jam berapa?” tanyaku.

“Kalo Minggu, ngga ada dokter spesialis Mbak.” AH MAKIN KESEL!!!

Di hari itu aku juga baru tau bahwa hari Minggu adalah hari liburnya para dokter spesialis. -_-
Kalian harus tau ya, menunggu di hari Sabtu mengharap datangnya hari Senin itu rasanya SANGAT MENYIKSA. Jeda satu hari di hari Minggu terasa amat lama. Apalagi kondisiku adalah abu-abu cenderung kehitaman. Aku masih percaya ngga percaya sama hasil lab PMI. (Mungkin ini fase denial? -_-)

Entah berapa kali sudah aku menangis di hari itu. Ngga mau terima kenyataan. Dalam hati berteriak minta tolong untuk dibangunin karena otak ngga terima kalo ini nyata dan hanya mau nganggep berita buruk ini hanya sebuah mimpi. Baca postingan aku yang ini. Postingan itu aku tulis ketika super shock, super galau, super putus asa, super serba super. -_-

Oh… mungkin kalian berpikir, kenapa ngga dibawa fun aja sih???
Ho ho ho… Jangan salah sayang… SUDAH! SUDAH aku bawa fun! SUDAH aku lakukan hobi yang biasa kulakukan untuk mengusir stress, yaitu KARAOKE! SUDAH! SUDAH AKU LAKUKAN. Tapi apa hasilnya?? Aku tetap sedih. Tawaku tidak lepas, dan bahagiaku tidak ikhlas, itulah yang aku rasakan. Dan lagi-lagi, cuma bisa nangis. (Maapin ya aku lemah..)

SKIP Hari Minggu, langsung Hari Senin.

Senin pagi, sebelum aku berangkat ke rumah sakit, aku sempat membaca sebuah postingan inspiratif di facebook yang kemudian mendorongku untuk menulis di blog, dan jadilah postingan ini. Kembali mengumpulkan tenaga untuk menjadi kuat lagi seperti sediakala. Jadilah aku ke rumah sakit di hari Senin itu.

Kalian mau tau, apa kata dokter penyakit dalam kepadaku ketika aku konsultasi dan sudah menyiapkan mental untuk jawaban terburuk??

“Cek lagi aja yah!” Haaaaahhh… nyawaku berasa lagi dimain-mainin. Aku harus menunggu satu hari lagi, karena hasil lab baru bisa keluar dan dianalisa oleh sang dokter keesokan harinya.

SELASA.

Ku terima hasil lab, kemudian aku baca…







Parameter 1 = NORMAL
Parameter 2 = NORMAL





Tes Penyakit 1 = NON REAKTIF
Tes Penyakit 2 = NON REAKTIF





Dokter RS = “Ah ini non reaktif kok. Normal semua. Gapapa ini mah. Sehat. Udah sana pulang!”
Gue = *facepalm*

picard-facepalm

Oh. My. God.

Selesai.

Begitulah kisah aku yang (alhamdulillah hanya sedikit) pemikiranku dikabulkan oleh-Nya, padahal aku belum tentu sanggup ngejalaninnya. And, back to the first advice, mempunyai harapan itu penting, tapi lebih penting lagi apabila kita semua berhati-hati atas apa yang akan kita panjatkan ke Allah.

Dear PMI JL.ACEH BANDUNG… ARE YOU KIDDING ME??? INI HASIL TES LAB AKU NORMAL SEMUA WEY! AKU TUH SEHAT-SEHAT AJA WEY!! Kesel.

Advertisements

9 thoughts on “Be Careful Of What You Wish For

    • Iya mbak. Super serem.
      Tapi bagusnya adalah, skrg otak aku mulai siaga kalo2 mulai mikir yang aneh2. Dan, sekarang mudah2an mental aku tambah kuat ya, kan udah ngerasain mental jatuh terjun bebas tuh kayak apa. Hhe..

  1. Betul sekali, kita adalah apa yang kita pikirkan.
    Saran saya bila Dokter A memberikan hasil positif, Dokter B memberikan hasil negatif, maka pergilah ke Dokter C dan Dokter D. Benchmark itu perlu untuk preventif.

  2. Pingback: Another Waiting | Berbagi Beki

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s