Short Trip To Jogja in Solitude

PROLOG

Perjalanan gue ke Jogja kali ini diawali dengan sms dari ECC UGM pada tanggal 11 Januari yang isinya adalah undangan tes tertulis untuk seleksi karyawan baru di PT Pembangunan Jaya Ancol (PT PJA). Tes tertulis tersebut akan dilaksanakan pada tanggal 16 Januari 2016, Sabtu, pukul 08.00-10.00. Karena sms itulah gue langsung pesan tiket kereta pergi-pulang, plus booking hotel. Pergi ke Jogja tanggal 15 Januari, menginap di hotel 2 malam, kembali ke Bekasi tanggal 17 Januari. Done. Everything’s under control. Everything’s gonna be fine. I thought.

Well then… Everything’s NOT under control anymore.

Tepat satu hari sebelum gue pergi ke Jogja, gue mendapat sms lanjutan mengenai perubahan jadwal tes tertulis tersebut, yang tadinya akan dilaksanakan tanggal 16 Januari dirubah menjadi tanggal 15 Januari. Great.

Aslina… setelah gue dapet sms itu, gue langsung galau tingkat rendah. Gue bingung, antara gue tetap ke Jogja meskipun udah tau bakalan ngga bisa ikut tes tertulis, atau gue ngga usah ke Jogja sekalian karena toh satu-satunya alasan gue ke Jogja untuk ikut tes tertulis udah lenyap.

Setelah banyak pertimbangan, termasuk yang paling dipikirin adalah biaya tiket dan hotel yang udah terlanjur dibayar, akhirnya gue memutuskan untuk tetap pergi ke Jogja. Anggap sajalah liburan. Duh.

Jadilah rencana gue untuk tes kerja di Jogja berubah menjadi rencana jalan-jalan sendirian di Jogja. *sigh*

BAB I – Man Jadda…

Sesuai jadwal, hari Jumat kemarin gue pergi ke Jogja. Kereta gue dijadwalkan berangkat pada pukul 6.45, which means kalo gue ngga mau ketinggalan kereta, gue harus berangkat subuh dari Bekasi ke Stasiun Pasar Senen.

Gajahwong – Gerbong 5 – Kursi 11D. Itulah singgasana yang gue duduki sejak 6.45 sampai nanti gue tiba di Jogja pukul 15.05.

@Gajahwong 20160115

Masih ada 33 menit sebelum kereta berangkat. Selfie dulu~

Selama perjalanan, gue masih berharap akan datangnya keajaiban yang membuat gue tetap bisa ikut tes tertulis di ECC UGM. Keajaiban yang mungkin aja berupa kereta yang nyampe jauh lebih cepat daripada perkiraan (kereta diperkirakan akan sampai pukul 15.05 sedangkan tes tertulis diadakan pukul 15.00), atau berupa reschedule kembali ke jadwal awal, atau berupa bolehnya tes susulan. Entah apapun itu, gue berharap gue masih bisa ikut tes tertulis.

BAB II – Solitude Doesn’t Mean Loneliness

Seperti yang gue mention tadi, gue akan duduk di Gerbong 5 – Kursi 11D. Berhubung gue beli tiket kereta via tiket.kereta-api.co.id, gue bisa milih sendiri lokasi kursi yang gue suka. Gue milih Gerbong 5 – Kursi 11D karena pada saat gue pesan online, di gerbong tersebut baru ada 2 penumpang. I love calm surrounding, so that’s why I chose Gerbong 5. But I don’t like being alone all by myself, so I chose Kursi 11D tepat disebelah Kursi 11A dan 11B yang udah terisi.

Diceritakan sejak pukul 06.12 gue sudah duduk manis di singgasana gue. Di dalam hati, gue agak excited dan penasaran, apakah akan ada penumpang lain yang duduknya berhadapan atau bersebelahan dengan gue, apakah mereka adalah orang-orang yang menyenangkan, atau apakah perjalanan gue kali ini akan didominasi oleh baca buku, kemudian bosan, kemudian tidur???

Ngga lama setelah gue duduk, datanglah seorang pria yang  seat-nya berhadapan dengan gue. Dia berkulit coklat agak gelap, berjenggot, dan bercelana cingkrang. I am sorry for being judgy, but I thought, this kind of guy would not interested in having a little chat with a stranger girl. Dan benar saja perkiraan gue. Pria tersebut langsung duduk di Kursi 11A yang masih kosong, menghindari gue. Okelah, it’s understandable. Everyone needs its privacy. I bet, this time would be a full-of-sleep journey.

Sekitar pukul 06.45, kereta berangkat. Ohiya, untuk yang belum tau, kereta ekonomi sekarang udah tergolong nyaman loh. Kereta ekonomi jaman sekarang udah bersih, ber-AC, dan tersedia colokan listrik, meskipun kursinya tegak agak kurang nyaman untuk tidur.

Pemberhentian pertama adalah Stasiun Haurgeulis. Dari sana, naiklah sepasang suami istri yang ternyata adalah pemilik Kursi 11A dan 11B. Otomatis pria yang tadi duduk di Kursi 11A, pindah ke kursinya sendiri, which was in front of me. And… awkward. *sigh*

Yaudahlah, daripada awkward, mending gue baca buku. Duh.

Pemberhentian kedua adalah Cirebon Prujakan. Dari sana, naiklah seorang Ibu pemilik Kursi 12A yang malah duduk di Kursi 11B, tepat di samping kiri gue. Ibu tersebut, sebut saja Ibu Adi, adalah orang yang menyenangkan. Dialah yang membuat perjalanan gue ngga membosankan. Kita berdua saling cerita kisah masing… mostly dia sih yang cerita, aku kan kalem. :3

Bu Adi cerita banyak hal.

Awalnya Bu Adi cerita kalo suaminya kerja di Telkom dan dia sendiri adalah pengurus Forsikatel (Forum Silaturahmi Istri Karyawan Telkom). What a coincidence! Ketemu orang Telkom di kereta.

Terus Bu Adi cerita lagi kalo lokasi kerja suaminya adalah di Cirebon. Gue bilang ke Bu Adi kalo gue punya temen yang ayahnya kerja di Telkom Cirebon Kuningan, namanya Pak Irusaw. Nah ternyata Bu Ida ini kenal sama Pak Irusaw, orang SDM, kantor di Cirebon, tapi rumah di kuningan. Bener banget, dunia sempit!

Selanjutnya kita cerita panjang lebar  sampe capek, mulai dari kisah cinta antara Bu Adi dan suaminya, sampe rencana bisnis Bu Adi dan anak perempuannya. Asli… berhubung gue adalah orang yang suka kepo, jadi cerita2 Bu Ida terdengar seru banget buat gue. Hahaha.

Obrolan seru kita berdua berakhir ketika kereta memasuki Stasiun Jogja. Bu Ida harus turun, begitu juga dengan Mas2 yang duduk depan gue. Tinggallah gue yang harus siap-siap turun di Stasiun Lempuyangan.

BAB III – Wa Jada…

Gue tiba di Stasiun Lempuyangan sekitar pukul 15.20. Gue inget banget, pas gue nyampe stasiun itu, gue galau antara mau langsung ke hotel atau coba dulu ke ECC UGM. Setelah gue pikir-pikir, gue putuskan untuk coba dulu dateng ke ECC UGM. Toh, nothing to lose.

Sekitar 5 menit kemudian gue udah tiba di ECC UGM. Naik ojek. Bayar 15rebu dari Stasiun Lempuyangan ke Jalan Krasak, yang jaraknya ngga nyampe 1km. *sigh*

Kesan pertama yang gue inget pas ngeliat sesama pejuang pencari kerja adalah:
Gile! Penampilan gue kayak ngga niat mau tes kerja!

Dresscode gue saat itu adalah kaos lengan panjang, plus bergo, plus celana jins. Dan jangan lupa sama 1 tas isi baju yang gue tenteng dan 1 tas punggung isi barang berharga yang gue taro di bagian depan badan. Mungkin saat itu gue lebih mirip ibu-ibu hamil yang bawa tas untuk persiapan lahiran di rumah sakit. Duh.

Terus gue nanya ke Mas Resepsionis tentang tes tertulis PT PJA tersebut.

“Coba aja langsung masuk, tapi udah mulai daritadi sih,” jawab Mas Resepsionis sambil ngasih tau ruangan letak tes berlangsung.

Harap diingat bahwa tes dijadwalkan pukul 15.00, sedangkan gue tiba sekitar pukul 15.25. Gue udah telat 25 menit yang artinya gue kehilangan waktu 25 menit yang berharga untuk ngerjain soal tes tertulis. But then again… This thought came to my mind. “Nothing to lose. Gue udah sampe sejauh ini. Kalo emang gue ga lulus karena telat, biarlah jadi pengalaman. Anggap saja latihan tes kerja.” Begitu pikir gue. Kemudian gue buka pintu ruangan tes tsb.

Ketika tangan gue membuka pintu, kemudian kepala gue nongol di pintu, semua mata tertuju pada gue. Rupanya posisi pintu ruangan tersebut sejajar dengan posisi Staf HRD PT PJA. Pas gue jalan ngelewatin peserta di kursi-kursi bagian depan, itu rasanya malu banget. Gue telat dan penampilan gue ngga oke banget. Bahkan sangat mungkin gue bau keringat karena cuma mandi pagi doang. But again… Nothing to lose. Kalo gue sampe ngga lolos, yaudah, mereka ngga bakal inget ada makhluk aneh yang telat dateng dan ngga merhatiin dresscode. Setidaknya gue udah usaha ke Jogja dan udah berhasil nyampe lokasi tes dan ikut tes.

BAB IV – Man Jadda Wa Jada

Keajaiban itu datang. Iya benar, gue telat datang sesuai jadwal. Tapi alhamdulillah, gue ngga telat ikut tes tertulis karena ketika gue masuk ruangan, kondisinya saat itu adalah si Staf HRD PT PJA sedang melakukan presentasi perusahaan. Ya Allah alhamdulillah banget.

Tes tertulis berlangsung selama kurang lebih satu setengah jam. Hasil dari tes tersebut bisa langsung diperoleh sekitar pukul 18.00 di hari yang sama. Bagi mereka yang lulus, akan diwawancara pada hari Sabtu, 16 Januari, pukul 08.30.

Ini daftar peserta yang lulus.

Pengumuman Seleksi Psikotes

Hasil Seleksi Psikotes. Ada nama Beki~

Alhamdulillah… Gue lolos ke seleksi selanjutnya, yaitu wawancara, yang akan dilaksanakan keesokan harinya, pada tanggal 16 Januari.

Man jadda wa jada. Ngga sia-sia gue keukeuh ke Jogja.

EPILOG

Wawancara pada hari Sabtu, 16 Januari, berjalan lancar. Wawancaranya terlalu lancar, sampe-sampe gue merasa wawancara tersebut bukanlah wawancara yang sukses. Astagfirullah, belum apa-apa udah suudzon duluan. -____-

Hasil wawancara akan diumumkan pada bulan Februari nanti. Semoga gue diberikan keputusan yang terbaik oleh Allah. Aamiin.

Sembari nunggu keputusan Allah dan mumpung gue lagi di Jogja, gue sempetin main ke Museum Sonobudoyo di sekitar alun-alun utara Jogja. Berdasarkan informasi di websitenya, setiap hari Senin – Sabtu pukul 20.00 – 22.00, pertunjukkan wayang digelar di museum tersebut. Tiketnya pun murah. Menarik.

 

Malem mingguan di museum nonton wayang sendirian. Menarik. LOL.

See you again Jogja! Semoga nanti aku ke sana ngga sendirian ya!

Advertisements

5 thoughts on “Short Trip To Jogja in Solitude

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s