Tirai No. 12 – I Rarely Love Someone, But When I Do, I Love Hard

Rossa – Terlalu Cinta
 
Jangan dekat atau jangan datang kepadaku lagi
Aku semakin tersiksa karena tak memilikimu
Kucoba jalani hari dengan pengganti dirimu
Tapi hatiku selalu berpihak lagi padamu
Mengapa semua ini terjadi kepadaku
 
Tuhan maafkan diri ini
Yang tak pernah bisa menjauh dari angan tentangnya
Namun apalah daya ini
Bila ternyata sesungguhnya aku terlalu cinta dia

Lagu Rossa ini selalu mengingatkanku atas kakak aku yang udah ngga ada.

Liriknya benar-benar mencerminkan perasaanku ke kakak aku. Ketika Rossa menyanyikan bagian “Jangan dekat atau jangan datang kepadaku lagi”, aku benar-benar berharap memori aku tentang kakakku itu hilang karena, sesuai lirik, aku sangat tersiksa dengan memori itu dan fakta bahwa kakakku udah ngga ada. Yes, I love him that much sampai-sampai aku sulit merelakan dia hingga bertahun-tahun setelah dia pergi. Just like the lyric… Aku terlalu cinta dia, kakakku.

Belakangan, lirik lagu ini muncul lagi di otakku. Yang mengherankan adalah pemicu munculnya lirik ini di otakku. Jika biasanya aku teringat lagu ini karena aku kangen berat sama kakakku, kali ini aku teringat lagu ini karena mantan. Kesel.

Let me tell you the story in brief. Kami jadian cuma 27 hari, aku yang nembak, dia yang mutusin. Dari sini keliatan kan, siapa yang suka dan siapa yang biasa aja? (Aku yang suka dan dia yang biasa aja. Okesip.) Kami putus tahun 2009 dan aku baru bisa move on tahun 2015. Yes, aku baru bisa move on dari dia 6 tahun setelah kami putus.  Selama rentang 6 tahun itu, perasaan aku ke dia timbul tenggelam seperti ombak. Beberapa kali, aku membuat tulisan tentang dia di handphoneku. All of them udah keapus karena handphoneku rusak dan harus di-reset ulang tanpa sempat aku backup. Aku sempat membuat postingan di wordpress yang berhubungan dengan dia (silahkan cek: ini, ini, dan ini).

Setelah aku memutuskan bahwa enough is enough di tahun 2015 itu, aku berusaha untuk jaga jarak dari dia. Salah satu cara termudah yang aku tempuh adalah menghapus kontak dia. I didn’t even follow his instagram back then. Sounds childish? I knew, but I didn’t care. All I want was to remove this feeling and be back to normal. Ketika aku sudah merasa “sehat” dan normal lagi ke dia, barulah aku follow instagramnya. Let’s be friend with him in cyberspace, but remember to keep the distance!

Everything went smooth just like I wanted UNTIL one of my friend, Ridhwan, got married and invited me to his party. And there, at Ridhwan’s wedding party, I saw him, my ex. I really had no clue that they were friends! I was really shocked and super nervous because I knew that my friends would eventually know who my ex was, and I didn’t like that. Mungkin ada yang bertanya, kenapa aku ngga suka kalo teman-temanku kenal sama dia, bahkan sampai berteman? Easy sih, karena aku ngga mau diceng-cengin sama teman-temanku tentang dia. Paham kan kalo mainan ceng-cengan itu berpotensi bikin orang yang diceng-cengin baper? That’s why I didn’t like it. Dan benar saja kan, setelah party, teman-teman aku akhirnya jadi kenal dan berteman dengan mantanku. Dan mereka, teman-temanku tercinta itu, started being fussy about my past relationship, like asking 5W+1H questions. And deep down, I felt like, “Please, stop. I don’t wanna talk about him.”

Tapi okelah, ceng-cengan itu masih bisa aku handle as long as I didn’t meet him in person. But the thing is, life doesn’t always go the way I want it. Suatu hari aku ngepost instastory isinya tentang sebuah film horror, dan di instastory itu aku nulis kata, “Kuy”. Dilalah, justru muncul DM dari si mantan. “Yuk,” balasnya. Duh. -_- I didn’t wanna meet him but at the same time, I also didn’t want to eat my words, so I said, “Yuk. Tapi di Bandung.” (Fyi, I was in Bekasi at time, way closer to his place, than in Bandung.) I said so, simply because I was hoping he wouldn’t make it. I was wrong. Long story short, I met him and that’s my mistake.

I started thinking about him again, and I fucking hate it. I mean, it took me 6 fucking years to move on from him and I fucking ruined it by posting an instastory. And because of that one night mistake, I had to go through the same phase again? Please, get yourself together, Bek! Let’s just be friend with him! No more than that!

So, I tried to be friendly with him.

The thing is, just like in the title, I think I loved him way harder than I thought. So it’s hard for me just to be friend with him, because I have to constantly remind myself that we are just friends and I have to immediately shut down my feeling when I am with him, and honestly, it’s tiring.

And yesterday, he called me, suddenly asking me about why I kept my distance. In my mind, I was like, “Why do you think I did? Do you really not know?” Duh. Kesal. And at the end of the call, he asked me, “What if I like you too?” Duh, honey, please stop. I didn’t believe you. And let’s not play that game anymore. It’s really tired me out.

Nah, jadi hubungan antara lagu Rossa dan dia adalah… the lyric. Read it. That’s how I feel. So, please keep your distance, if you read it. 😀

 

Tirai No. 11 – Cobaan Banget, Sis

Aku kesal sekali. Mengingat fakta bahwa sekarang ini sudah tengah semester dan tesisku belum menghasilkan sesuatu itu rasanya sungguh menguras energi. Sungguh menguji kesabaran. Cobaannya ada aja.

Dimulai dari cobaan klasik, yaitu malas. Itu sebenarnya bukan cobaan sih ya, tapi… ya kita anggap sajalah itu bagian dari cobaan. Cobaan dari faktor internal. Well, you know, sesungguhnya mengumpulkan niat untuk mengerjakan tesis ini tidak mudah. But I got it. Malas itu sudah hilang dan berubah jadi super semangat dan rajin.

Cobaan kedua adalah, dosen pembimbing yang selalu memintaku untuk mengubah desain tesis setiap kali bimbingan selesai. Well, ini bukan cobaan yang berarti sih buatku. Cukup dengan kesabaran dan mengingat bahwa maksud dosenku memberiku banyak tugas adalah agar aku belajar aku dapat melalui cobaan kedua ini dengan santai.

Cobaan ketiga adalah TeamViewer komputer lab yang sering nyala mati udah kayak lampu disko. Jadi untuk mengerjakan tesisku ini, aku harus menggunakan komputer lab yang kondisinya lebih mendukung daripada laptop aku, which means, I have to remote it using software TeamViewer. Kalau TeamViewernya mati saat weekday, aku masih fine karena aku hanya perlu datang ke lab, nyalain TeamViewer sekaligus langsung ngerjain di komputer lab. Tapi masalahnya adalah… TeamViewer ini jarang mati kalo pas weekday. Dia selalu mati ketika weekend, which is lab ditutup and I can’t get in. Dan jadilah weekend aku terbuang sia-sia. But still, I can handle it. Mungkin itu pertanda bahwa aku harus take a break dari mikirin tesis.

Lain halnya dengan cobaan pertama, kedua, dan ketiga yang masih bisa aku atasi, cobaan keempat dan kelimaku ini sungguh menguras hati dan pikiran.

Data lost is the most fcking test for myself. Yes, you read it right. Data lost. Kalian tau, untuk mendapatkan satu data utuh, aku perlu melakukan simulasi selama tiga hari dua malam. Yes, again, you read it right. TIGA HARI DUA MALAM. Setelah simulasi selesai, aku selalu memastikan untuk menyimpannya. SELALU. But somehow, data-data itu, menghilang ketika aku membutuhkannya. To make it worse, data itu hilang ketika aku hendak bimbingan, which means, I had to postpone my thesis discussion with my supervisor. Kesal nggak sih? Okelah data lost itu bisa didapatkan kembali dengan melakukan simulasi ulang, tapi kan tetep aja aku harus membuang waktuku selama tiga hari dua malam untuk satu data yang udah pernah ada. (Tetiba keinget mantan. Lha…)

Data lost tadi adalah cobaan keempat. Sekarang let me tell you about my cobaan kelima.

Cobaan kelimaku adalah ketika simulasi berjalan lancar, dataku tidak hilang , TAPI dataku tidak bisa dipindahkan ke harddrive untuk aku proses lebih lanjut. That’s fkcing fck up. Kesal kali Ya Allah… Ini maunya apa sih… Tesis ini maunya diapain… Aku pagi-pagi bela-belain ke lab demi memproses tesis, tapi dia, tesisku yang tercinta itu, ngga mau diproses. Aku kudu piye. 😦

Haaaaaaaahhhh… kesal kali rasanya hati awak ini.

Tetiba aku teringat pas kemaren data tesisku hilang. Aku sangat marah sampai-sampai aku memukul tembok sampai-sampai bergetar pintu disebelah tembok itu saking kerasnya aku memukul tembok. And then I realized, “Bek, jangan nambah satu cobaan lagi dengan membuat tembok beserta pintu ini roboh gara-gara lo pukul.” LOL.

Anyway, it’s 8.40 am now and I have to go.

Thank you for reading keluh kesahku.

See you di lain cerita!

Sesungguhnya, semua niat itu akan diuji.  – Beki, 25 tahun, pejuang tesis