Tirai No. 17 – Kata “Pintar” Itu

“Beki pinter deh!”

“Lo kan pinter, Bek.”

“Kamu pinter.”

Sering banget gue denger kata-kata yang mirip kayak gitu dari orang-orang di sekitar gue.

Little did they know, sesungguhnya, perasaan gue ketika mendengar kata-kata ini bukanlah senang atau tersanjung, melainkan kebalikannya.

Kata-kata itu pujian kan ya? Harusnya gue senang kan ya kalo dipuji? But no. Buat gue, kata-kata itu bukan pujian. Di otak gue, kata-kata itu adalah sebuah tantangan sekaligus tekanan.  Well… lebih ke tekanan sih.

Ketika orang-orang memuji gue dengan kata pintar, gue sesungguhnya merasa tertekan. Gue merasa gue wajib menjadi Beki yang pintar. Gue merasa kalo gue ngga pintar maka senyuman-senyuman yang mereka tunjukkan ketika mereka memuji gue itu akan hilang… karena… sesungguhnya gue tau, gue ini ngga pintar.

Coba bayangkan kekhawatiran gue gimana ketika orang-orang bilang gue pintar padahal gue ngga pintar. Rasanya itu kayak maling yang takut ketauan kalo dirinya itu maling. Gue jadi takut. Dan rasanya itu kayak, “Ini orang ngejek atau gimana sih?” Gue jadi kesal. Dan rasanya itu kayak, “Duh, gue harus jadi pinter gimana pun caranya.” Gue jadi tertekan.

Aneh ya?

Iya aku emang aneh.

I hope they stop telling me that I’m smart. It makes me feel like a smartass, not a smart one.

Sincerely yours,
Beki

Tirai No. 16 – What Am I Doing?

Things happen very fast and it’s confusing.

If this is just a phase, I hope that this confusing feelings will fade away. I hope that it will end soon.

This… is the reason why I prefer fast-forward time ability rather than move-backward time ability. I just want to meet its end without having trouble of going through all of this.

Tirai No. 15 – Memori Tengah Malam

Di sana, di salah satu anak tangga yang berwarna hitam, dia mengajakku berbicara empat mata. Awalnya dia mengajakku membicarakan hal-hal remeh. Katanya, dia sedang ingin mengobrol berdua saja denganku, tanpa ada maksud lain.

Aku tau pasti sedang ada masalah. Dia tidak pernah mengajakku bicara berdua saja seperti ini. Pasti ada sesuatu!

Dan benar saja.

Tidak perlu waktu lama, dia mulai menyisipkan petunjuk-petunjuk tentang alasan utama dia berada di sebelahku saat itu. Pada akhirnya, dia dengan terang-terangan memintaku untuk meninggalkan kekasih baruku. Katanya, dia khawatir fokusku akan terpecah jika aku mempunyai dua kekasih. Dia, dengan caranya yang selalu kukagumi, membujukku agar aku hanya hidup dengan satu kekasih, dia salah satunya. Dan aku, tanpa mampu melawan pesonanya, mengabulkan permintaannya. Aku berjanji akan meninggalkan kekasih baruku segera setelah kami meninggalkan anak tangga itu

Segera, seperti janjiku padanya, setelah anak tangga itu tidak lagi terlihat, aku menekan tombol telepon genggamku dan menghubungi kekasih baruku. Kujelaskan padanya duduk permasalahannya. Kukatakan bahwa kekasih lamaku tidak menyetujui aku menjalin hubungan baru. Kekasih baruku mengerti dan dapat menerima keputusanku untuk menghentikan hubungan ini. Aku ucapkan terima kasih dengan berat hati.

Tidak ada yang tau betapa aku menangis dalam diam setelahnya. Aku menangis karena aku harus meninggalkan kekasih baruku. Dan aku menangis, karena dari sekian banyak orang yang memiliki wewenang untuk menghentikanku mendua, dia yang kukagumilah yang datang dan meminta itu. Jikalau bukan dia yang datang, aku bisa dengan mudah menggerutu, menyumpah serapah, dan tetap pada keinginanku untuk berkekasih baru. Tapi saat itu, dialah yang bicara. Aku bisa apa? Di depan orang yang sangat aku kagumi sifatnya, aku bisa apa jika dia yang meminta?

Entah kenapa, malam ini tiba-tiba memori tentang Kisah Sedih di Anak Tangga itu kembali menyeruak.

Ps: aku tidak berbicara tentang kekasih dalam arti yang sesungguhnya since I don’t have one.

Tirai No. 14 – I Need to Know, Then I Will

Til my body is dust
Til my soul is no more
I will love you

Til the sun starts to cry
And the moon turns to rust
I will love you

Til the storms fill my eyes
And we touch the last time
I will love you

But I need to know
Will you stay for all time
Forever and a day
Then I’ll give my heart
’til the end of all time
Forever and a day

Fisher – I Will Love You