Tirai No. 18 – I Wanna Die

Yes. You read it right.

Beberapa hari ini keinginan untuk pergi sangatlah kuat. Sangat ingin mengakhiri semua ini. Berharap ketika pergi, dunia menjadi gelap seperti layar televisi ketika dimatikan. Selesai sudah.

Aku tau, secara agama, kematian tidak sesimpel itu. Tidak ada yang namanya layar turun ketika pertunjukan selesai. Yang ada justru pergantian penonton yang akan menatap tajam ke arah aku. Ya. Aku tau itu.

Hanya saja…

Aku merasa ngga berguna di dunia ini. Aku merasa bukan siapa-siapa di dunia. Dunia akan tetap berjalan tanpa aku kan? Ada dan tidak adanya aku tidak akan memberikan perbedaan yang berarti kan? Lalu kenapa aku harus hidup padahal aku merasa tidak bahagia?

Kemarin aku baca instastory-nya @catwomanizer . Dia sedang membuka topik tentang Depression and Suicide. Di situ aku baru ngeh… mungkin aku sedang depresi. Sebuah kesimpulan yang aku tarik setelah aku membaca gejala depresi dan ternyata 70% gejala-gejala tersebut aku rasakan pada diri aku. I know I shouldn’t have self-diaognosed. Kalaupun benar aku depresi, aku depresi karena apa? Aku bahkan ngga tau (atau ngga mau tau? atau pura-pura ngga tau?) aku depresi karena apa. Yang aku tau saat ini, aku cuma ngga mau hidup. Ingin tutup buku saja. Capek.

Setiap kali suicidal thought itu datang, entah kenapa selalu kebayang adegan gantung diri. Aku jadi ingat… Dulu aku pernah nyoba pergi dari dunia dengan minum obat-obatan. Segala obat yang ada di rumah aku minum. Berharap mati, tapi ternyata ngga berhasil. Lucu. Dan alasan aku ngga mau mati dengan cara motong nadi adalah karena aku tau kulit yang tersayat itu rasanya sakit. Jadi kayaknya yang paling gampang ya gantung diri. Iya ngga sih? Sakit jiwa ya aku? Haha. Dari dulu.

Dah lah. Bye aja.

Ingat aja satu hal. What doesn’t kill you fucks you up mentally. At least, in my case.