Tirai No. 24 – Filosofi Teras

Babe, read this.

Sebuah pesan masuk ke WhatsApp-ku. Balasan atas unggahan status WhatsApp-ku yang berbunyi, “Berdamailah dengan diri sendiri.” Sebuah status yang kuunggah ketika aku merasa sangat membenci diriku sendiri atas semua hal-hal bodoh yang secara impulsif dan emosional aku lakukan dan berakibat buruk pada diriku sendiri.

Malam tadi… buku itu telah selesai kubaca. Buku Filosofi Teras, yang awalnya kubeli dan kubaca hanya sebagai pengalihan, ternyata memuat ajaran penting yang sangat relevan dengan keadaanku saat itu yang dipenuhi dengan kebencian, kegalauan, penyesalan, dan emosi negatif lainnya.

Filosofi Teras atau Filosofi Stoa atau Stoisisme mengajarkan kita untuk hidup selaras dengan alam, yang artinya kita harus hidup menggunakan nalar/rasio, demi mencapai ketenangan hidup, yakni terbebas dari emosi negatif. Bagaimanakah cara konkritnya?

Filsuf Stoa menjunjung tinggi prinsip dikotomi kendali, yakni menyadari bahwasannya di dalam hidup ini terdapat dua hal yang berbeda, yaitu hal yang bisa dikendalikan dan hal yang tidak bisa dikendalikan. Stoisisme mengajarkan bahwa kebahagiaan sejati hanya bisa datang dari hal-hal yang bisa dikendalikan, seperti opini/persepsi pribadi, keinginan pribadi, tujuan pribadi, pikiran pribadi, dan tindakan pribadi. Hal-hal selain itu dikategorikan sebagai hal-hal di luar kendali yang tidak seharusnya menjadi sumber kebahagiaan, contohnya adalah kekayaan pribadi, kesehatan pribadi, reputasi pribadi, hubungan dengan orang lain, opini/persepsi orang lain, jodoh, kematian, masa depan, masa lalu, dan lain sebagainya. Penting untuk memahami bahwasannya kata ‘kendali’ di sini tidak hanya sekedar ‘memperoleh’ tetapi juga ‘mempertahankan’. Kesehatan dan beberapa hal lainnya, yang dianggap bisa dibangun/ dikendalikan tetapi malah dikategorikan sebagai hal-hal di luar kendali, bisa dalam sekejap hilang. Jadi, buat apa menggantungkan kebahagiaan pada hal-hal yang sewaktu-waktu bisa hilang? (Cukup menohok aku yang saat itu sedang tidak bahagia karena putus cinta. Wk.)

“Siapapun yang mengingini atau menghindari hal-hal yang ada di luar kendalinya tidak pernah akan benar-benar merdeka dan bisa setia pada dirinya sendiri, tetapi akan terus terombang-ambing terseret hal-hal tersebut” Epictetus – Discourses.

William Irvine di dalam bukunya A Guide To Good Life: The Ancient Art of Stoic Joy merevisi dikotomi kendali menjadi trikotomi kendali. Trikotomi kendali ini dibagi menjadi: (1) Hal-hal yang bisa dikendalikan; (2) Hal-hal yang tidak bisa dikendalikan; dan (3) Hal-hal yang SEBAGIAN bisa dikendalikan. Nah kesehatan dan beberapa hal lainnya yang masih bisa diusahakan masuk ke dalam kategori hal-hal yang SEBAGIAN bisa dikendalikan. Untuk hal-hal yang masuk ke dalam kategori nomor tiga ini, kita harus bisa memisahkan antara target pribadi yang masih bisa kita kendalikan dan hasil akhir yang tidak bisa kita kendalikan. Contoh yang aku pernah alami adalah saat sidang tesis. Pernah ngga sih kalian ngomong ke diri sendiri kayak aku kurang lebih kayak gini, “Yang penting gue udah berusaha mempelajari topik presentasi semaksimal mungkin, gue udah berkali-kali latihan tanya jawab juga, dan gue udah bikin slide presentasi secantik mungkin. Masalah hasilnya nanti kayak apa, yaudahlah ya…” Nah di situ sebenarnya aku secara tidak sadar sudah memisahkan apa yang menjadi target pribadi dan menyadari bahwa hasil akhir, yaitu dapat nilai A, berada di luar kendaliku. Di buku Filosofi Teras ini diberikan juga contoh lain tentang hal-hal yang sebagian bisa dikendalikan, beserta target pribadi dan hasil akhirnya. Silakan dibeli dan dibaca bukunya ya!

Dikotomi kendali dalam Stoisisme ini tidak sama seperti pasrah dengan keadaan ya (baik pasrah sebelum keadaan itu terjadi maupun pasrah setelah keadaan itu terjadi)!  Sederhananya begini, ketika sesuatu terjadi pada kita, misalkan baru putus cinta (permisalannya sesuai kondisi aku ya… hehe…), kita harus bisa menyadari bahwasannya putus cinta itu berada di luar kendali kita. Kenapa begitu? Karena kita ngga bisa mengendalikan orang lain sesuai kemauan kita. Kita ngga bisa menahan orang lain untuk tetap bersama dengan kita. Maka jadilah putus cinta itu sebagai hal yang tidak bisa dikendalikan. Lalu apa yang bisa kendalikan? Persepsi kita. Sebenarnya ketika kita putus cinta dan bersedih, pikiran kita secara tidak sadar mengartikan bahwa “Dengan putus cinta, aku kehilangan orang yang disayang.” atau persepsi-persepsi buruk lainnya yang membuat kita menjadi sedih atau memaksa kita untuk pasrah. Padahal, ada loh opsi persepsi lain yang bisa membuat kita justru bersyukur dan bahagia karena putus cinta. Buatku, contohnya adalah, dengan putus cinta aku kembali mengasah bakat menggambarku (aku kembali menggambar, setelah bertahun-tahun berhenti menggambar, sebagai bentuk pengalihan dari rasa sedihku), lalu aku kembali menjalin hubungan pertemanan dengan orang-orang yang sengaja aku hindari saat menjalin cinta dengan si PKW demi menjaga perasaan PKW, lalu aku menyadari betapa berharganya memiliki support system, lalu aku berkenalan dengan buku Filosofi Teras ini yang rasanya seperti mencerahkanku tentang bagaimana menghadapi emosi negatif. And now, I end up with being happy and grateful with that putus cinta moment.

Ingat ya… Kunci penting dalam mengaplikasikan Stoisisme dalam hidup ketika emosi negatif datang adalah dengan memisahkan fakta objektif dan persepsi/opini pribadi dari sebuah peristiwa yang membangkitkan emosi negatif tersebut. Dalam kasusku, faktanya adalah aku dan PKW tidak lagi menjalin cinta karena kesalahanku yang impulsif dan emosional. Apakah putus cinta itu membuatku sedih atau malah membuatku bahagia, semua itu bergantung pada persepsi/opini pribadi yang ada dalam kendali aku. Aku bisa memilih antara: (1) meratapi kesalahanku yang telah lalu kemudian menjadi sedih; atau (2) memahami bahwa masa lalu itu tidak bisa diubah kemudian memperbaiki diri/ belajar dari kesalahan dan menjadi bersyukur dan bahagia. Sekali lagi ya… kebahagiaan sejati itu hanya bisa datang dari hal-hal yang bisa dikendalikan. Dan persepsi/opini pribadi adalah hal yang bisa dikendalikan.

“Manusia tidak memiliki kuasa untuk memiliki apapun yang dia inginkan, tetapi dia memiliki kuasa untuk tidak menginginkan apapun yang dia tidak miliki, dan dengan gembira memaksimalkan apa yang dia terima.” Seneca – Letters from a Stoic.

Stoisisme mengajarkan kita bahwa segala sesuatu di dunia ini bersifat netral. Tidak lebih baik dan tidak lebih buruk. Yang membuat sesuatu menjadi lebih baik dan lebih buruk adalah persepsi kita. Ibarat batu yang dilempar ke udara, tidak lebih buruk atau lebih baik ketika sedang naik ataupun turun. Ya batu adalah batu. Netral aja gitu. Stoisisme mengajarkan kita untuk selalu mengingat sifat sebenarnya benda-benda dan manusia. Ketika keramik kesayanganmu pecah, ya… itu cuma keramik yang pecah. Ketika kakakmu satu-satunya meninggal, ya… itu cuma manusia yang tidak hidup. Ketika kekasihmu tidak mau lagi bersamamu, ya… itu cuma manusia yang tidak mencintaimu. Kejam ya? Iya, kejam memang. Tapi dengan begitu, kita jadi belajar untuk tidak meletakkan kebahagiaan pada hal-hal yang tidak bisa kita kendalikan (keramik kesayangan, kakak satu-satunya, dan kekasih) dan belajar untuk lebih menghargai eksistensi hal-hal tersebut (contoh: tidak sembarangan meletakkan keramik kesayangan, tidak bertengkar dengan kakak satu-satunya, dan tidak menyakiti perasaan kekasih).

Stoisisme juga mengajarkan tentang kemanusiaan. Bahwasannya kita adalah warga dunia, yang mana hal ini sejalan dengan pemikiranku selama ini. Untuk lebih lengkapnya tentang Stoisisme, silakan beli dan baca buku ini ya! Ini bukan paid-promote loh. Hehe… Menurutku pribadi, buku ini sangat bagus dibaca oleh orang-orang yang sedang berada di titik bawah dalam hidupnya. Bab 1 nya aja dimulai dengan Survei Khawatir Nasional. Lalu ada wawancara dengan psikolog dan psikiater juga. Untuk yang sedang depresi, buku ini sangat mampu “mewaraskan pikiran-pikiran tidak waras” saat berada dalam kegelapan.

Sesungguhnya aku sangat berterima kasih pada temanku yang memperkenalkanku dengan buku ini dan juga pada Henry Manampiring selaku penulis buku ini.

I am glad I can get through all of this.

Tirai No. 23 – A Face of A Pervert

A face of a pervert.

Pagi itu aku menumpangi bus yang membawaku menuju Grogol. Saat itu adalah Rabu sekitar 10.30, bukan jam dimana bus sedang sepi. Terlihat 30% dari kursi-kursi penumpang terisi. Aku mengisi kebosananku selama perjalanan dengan membaca buku. Setelah lama membaca, aku memutuskan untuk menutup mata sejenak untuk merehatkan mataku yang lelah. Kemudian aku tertidur.

Tidak lama tertidur, aku terbangun oleh sentuhan di daerah sensitifku. Payudara. Kubuka mataku dan kulihat sebuah tangan dari belakang kursiku muncul di antara sela-sela kursiku dengan jendela. Terkejut dan reflek, aku pukul tangan itu sambil berdiri dan berkata agak kencang, “Ngapain Mas? Ngga sopan tau pegang-pegang!” Penumpang lain menengok ke arahku.

Ku tatap tajam wajah lelaki yang sepertinya tidak menyangka aku akan bereaksi seperti itu. Lalu aku putuskan untuk pindah tempat duduk dan memfoto wajah lelaki itu secara terang-terangan.

Tirai No. 22 – Tertidur di Pelukmu

“Tidak,” jawabmu sambil menggelengkan kepala ketika aku menanyakan kesediaanmu melanjutkan hubungan kita. Dalam sekejap, kamu kembali menjadi sesuatu yang tidak akan pernah bisa aku raih.

Mungkin memang tidak pernah ada kata “kita” tertulis di atas sana.
Mungkin kamu hanyalah iba dan derma Sang Pencipta pada ciptaannya yang mencinta dan terluka lebih dari setengah dasawarsa tanpa dirasa.
Mungkin aku dan kamu diadu untuk menyadarkanku bahwa mencintai sesuatu yang semu hanya akan mengasah rindu yang berbalik menusuk kalbu.

Kini…
Mengubur harapan dan kenangan bersama kekecewaan dan penyesalan merupakan satu-satunya jalan agar aku bisa mengikhlaskan dan memaafkan kejadian-kejadian yang tak akan bisa diulang.

Dan mungkin…
Mimpi sederhanaku untuk bisa tertidur di pelukmu dengan tenang (dengan tenang, sayang) hanya akan menjadi impian semata tanpa pernah menjadi nyata.

Dear Putra K. Widodo.