Tirai No. 32 – Mencoba Berpikir Rasional

Sebenarnya…

Kalau dipikir-pikir dengan kepala dingin lagi… hubungan kami dulu tidak semenyenangkan itu ya. Tidak semembahagiakan itu. Terlalu banyak jeda di antara obrolan-obrolan kami dulu. Terlalu banyak sunyi yang menyesakkan dada.

Kalaupun obrolan kami tak berjeda, terlalu banyak topik kosong tak bernyawa di antaranya. Terlalu banyak kata-kata yang terbuang tanpa makna.

Dan kalau dipikir-pikir lagi… Sepertinya memang perpisahan kami ini adalah yang terbaik untuk kami berdua.

Meski demikian… Kenapa ya terkadang (jika tidak mau dikatakan sering) rindu itu datang tiba-tiba tanpa diundang?

Membuat hati bertanya-tanya… Apa sih yang sebenarnya aku rindukan?

Tirai No. 31 – Weekend di Jogja (Day 2)

Masih ingat dengan tujuan liburan kami di Jogja, yaitu mengejar sunset di Pantai Greweng dan sunrise di Pantai Ngrawe? Apa kabar agenda hari pertama mengejar sunset di Pantai Greweng? Failed. Bagaimana dengan agenda hari ini mengejar sunrise di Pantai Ngrawe? No hope. Yah coba dibayangkan ya… Bagaimana ending ceritanya kalo kami baru berangkat ke Pantai Ngrawe sekitar jam 6-an? Masih kekejar ngga tuh sunrise? LOL.

Nasi sudah menjadi bubur, kami tetap berangkat ke Pantai Ngrawe meskipun langit sudah terang. Setidaknya, dengan kami berangkat pagi, Pantai Ngrawe masih belum terlalu ramai dan kami masih bisa menikmati Pantai Ngrawe lebih dulu daripada orang-orang lain.

Fyi, Pantai Ngrawe ini sangat bersebelahan dengan Pantai Kukup sehingga kami memarkirkan mobil di wilayah Pantai Kukup. Yap, semenjak insiden salah pantai, kami (khususnya aku) mulai aware tentang nama pantai yang aku kunjungi. LOL.

Kami menikmati waktu cukup lama di pantai ini. Dimulai dari makan mie dan minum es kelapa sebagai sarapan hingga duduk-duduk di puncak pantai memandangi lautan. My God, if only we could stay longer than that couple of hours!

This slideshow requires JavaScript.

Setelah kami merasa cukup, kami kembali ke penginapan untuk bebersih badan, sarapan (lagi), check-out dan langsung cus ke destinasi selanjutnya. Destinasi kedua untuk hari ini adalah Museum Ulen Sentalu yang konon katanya bagus. Apakah benar bagus? Jawabannya adalah… NGGA TAU! Begitu aku sampai di Ulen Sentalu, aku dan teman-temanku disambut dengan pengunjung museum yang sangat membludak! Saking membludaknya, pengelola museum harus memberlakukan shift masuk ke museum supaya pengunjung dapat bergantian masuk. Pokoknya waiting list saat itu tuh rame banget. Ada kali sampe 50 orang lebih nunggu di area masuk museum cuma buat ngeliat isi museumnya. And me and my friends, having a very tight timeline, decided not to continue our visit. Jadilah kami cuma numpang parkir, numpang solat, dan numpang foto tulisan Ulen Sentalu saja di sana. LOL.

Ulen Sentalu

Ohiya, di Ulen Sentanu ini kami juga ketemuan sama Kak Dika dan istrinya, Mba Galuh.

Dari Ulen Sentalu, kami lanjut ke restoran makanan Korea namanya Dae Jang Geum. Kalo kalian merasa namanya seperti familiar, ya… tidak heran… karena nama Dae jang Geum ini diambil dari drama Korea yang booming bertahun-tahun lalu.

This slideshow requires JavaScript.

Selesai makan, kami langsung menuju Stasiun Jogjakarta untuk mengantarku mengejar kereta kembali ke Jakarta.

Liburan singkat kali ini… sungguh membuat hati senang, bahagia, dan penuh syukur.

Sampai jumpa di liburan singkat dan dadakan lainnya!

Tirai No. 30 – Weekend di Jogja (Day 1)

Beberapa minggu lalu, aku berkesempatan untuk kembali ke Jogjakarta. Aku ingat sekali, ini adalah kali keempat aku berada di Jogja. Kali pertama aku ke Jogja, aku datang bersama teman-teman sekolahku. Berbeda dengan kali pertama, kali kedua aku ke Jogja, aku hanya sendirian saja. Untuk kali ketiga, aku kembali ke Jogja dengan teman-teman konferensiku (sayangnya tidak aku rekam di wordpress ini 😦 ). Nah, untuk kali ini, aku ke Jogja karena ada acara kantor di hari Jumat. Berhubung mepet weekend, sekalian sajalah aku liburan singkat dengan teman kuliahku yang tinggal di sekitar Jogja, yaitu Nurul, Ihsan, dan Bebek.

Pada hari Sabtu setelah check-out, aku langsung menuju hotel tempat Ihsan menginap. Hotel tempat Ihsan menginap ini memang menjadi meeting point kami berempat. Setelah Nurul dan Bebek datang, kami langsung menuju Gunung Kidul. Tujuan liburan kami ini sederhana saja, yaitu mengejar sunset di Pantai Greweng dan sunrise di Pantai Ngrawe.

Tempat pertama yang kami datangi adalah Griya Limasan Gunung Kidul, tempat kami menginap. Hanya dengan membayar Rp350.000,- kami mendapatkan satu kamar dengan fasilitas AC, kamar mandi dalam, air hangat, toilet duduk, dan dua set double bed, plus sarapan. Itungannya, per orang cukup bayar Rp87.500,- saja. Sebagai pecinta hal-hal murah, aku senang sekali~

Griya Limasan

Foto diambil dari Agoda

 

Setelah kami naro barang, kami langsung menuju Pantai Greweng. Nah, di sinilah “drama” dimulai. Ketika kami hampir sampai ke Pantai Greweng, tiba-tiba aku merasa dejavu.

“Kok rasanya aku pernah ngelewatin daerah ini ya? Ah kayaknya perasaanku aja deh,” begitu pikirku dalam hati.

Setelah mobil semakin dekat dengan Pantai Greweng, aku hanya bisa tertawa. Oh my God, I’ve been here before! I’ve been here but I didn’t know the name of this beach! Kemudian teman-temanku itu terkejut dengan pengakuanku. Harap diingat, ekspektasi kami untuk liburan kali ini adalah mengunjungi pantai yang belum pernah aku sambangi. Jadilah mereka malah ngeceng-ngecengin aku. Dan aku hanya bisa tertawa.

Setelah jalan-jalan sebentar di sekitar pantai sampai matahari terbenam, kami memutuskan untuk kembali ke penginapan. Namun, sebelum kami pulang, Bebek inisiatif nanya mastiin nama pantai itu ke tukang parkir sekitar. And guess what, ternyata nama pantainya adalah Pantai Jungwok! And I was like… SINI LU PADA MINTA MAAP SAMA GUE! Udahlah ngeceng-ngecengin gue, eh… salah pulak.

Jadi ternyata… pantai yang awalnya kami kira adalah Pantai Greweng, sebenarnya adalah Pantai Jungwok. Pantai Greweng dan Pantai Jungwok itu memang tetanggaan. Bedanya adalah Pantai Jungwok lebih mudah diakses dibandingkan dengan Pantai Greweng. Kami salah pantai. LOL.

Fyi aja, untuk mencapai Pantai Greweng, kami harus jalan kaki melewati kebun dan hutan dengan jalanan berbatu sekitar 1 km. Berhubung saat itu sudah malam tapi kami masih mau lihat Pantai Greweng, jadilah kami meminta tolong penduduk sekitar untuk mengantar kami ke Pantai Greweng… for fee. Dan aku… tidak menyesalinya. Kondisi di Pantai Greweng yang gelap gulita pada saat kami tiba justru memperjelas kerlap-kerlip cahaya bintang-bintang yang tidak pernah terlihat di perkotaan. Dan aku… sangat bersyukur atas momen itu. Di pantai, pada malam hari, bersama teman-teman satu frekuensi. I was just delighted and grateful.

Selesai menikmati suasana Pantai Greweng di malam hari, kami kembali ke penginapan untuk istirahat demi mengejar sunrise di Pantai Ngrawe. Apa kabar mengejar sunset di pantai tadi? Gagal. Alasannya? Mataharinya ketutupan bukit. Semoga kebayang ya.

Berhubung sekarang ini waktu menunjukkan pukul 23.41, cerita hari kedua akan dilanjut ke post selanjutnya ya. Stay tune!