Tirai No. 37 – Pagi Ini Aku Menyadari Sesuatu

“Tari…” begitulah aku mendengar namaku dipanggil lembut oleh ibuku. Ibuku berada di kamarnya dan aku berada di kamarku.

“Hemm?” aku menyaut sambil berusaha mendengar apa yang hendak ibuku katakan padaku dari seberang kamar. Aku bisa mendengar suaranya yang berbicara lembut padaku. Aku kira padaku. Ternyata aku salah.

Rupanya, ibuku sedang berbicara di telepon dengan sepupuku yang bernama Abi. Tari dan Abi, memang agak terdengar mirip di telingaku pada saat itu.

Seketika itu aku menyadari sesuatu…

Kenapa suara ibuku melembut ketika dia berbicara kepada orang lain yang bukan anaknya, sedangkan kepadaku intonasinya berubah seperti singa? Tidak selalu, tetapi seringkali. Membuat hati bertanya-tanya… Kenapa? Ada apa? Apa yang salah?

Kemudian aku cemburu.

Aku ingin dipanggil dan diajak berbincang dengan suara lembut yang aku dengar tadi. Aku tidak suka dengan intonasi panggilan dan cara berbincang ibuku yang biasa dia lakukan kepadaku.

Haaaahhhh… lucu sekali ya hidupku ini. Aku sudah berumur 28 tahun tetapi tetap masih saja bertingkah seperti anak kecil yang haus perhatian. Rasanya aku ingin keluar saja dari rumah ini supaya setidaknya aku berada di tempat yang tepat ketika aku merasa haus akan perhatian… because it’s normal to not feel at home when you’re not at home. Ya kan?

Sincerely yours,
Sitia GEL

Tirai No. 36 – Almost Is Never Enough

Hari ini adalah sebuah hari yang amat aku tunggu-tunggu… dimana pada hari inilah informasi kelanjutan Seleksi Kemampuan Bidang (SKB) CPNS diumumkan.

Yak.

Sesuai judul postingan kali ini, dapat diketahui bahwa aku tidak lolos lanjut SKB tsb. Seleksi lanjutan tsb hanya mengambil 3 orang dari 65 orang pelamar, dan aku berada pada peringkat 4 dengan selisih nilai 1 poin saja. Sesungguhnya aku kecewa. Ditambah lagi aku punya teman yang skornya di bawahku tapi dia lolos seleksi untuk lanjut SKB karena formasi yang dia lamar memiliki peminat yang sedikit. Jika formasi incaranku dilamar oleh 65 orang, formasi incaran dia dilamar oleh 3 orang saja. Sungguh membuat iri. Sudah pasti aku sedih, tapi ya… Mau gimana lagi? Konon katanya si bijak, “Ini bukan rejeki kamu. Ada rejeki yang lebih untuk kamu, tapi bukan di sini.” Dan seketika itu aku teringat dengan salah satu lirik lagu Kunto Aji yang judulnya Bungsu.

Cukupkanlah ikatanmu. Relakanlah yang tak seharusnya untukmu.

Emang salah aku sih. Aku kurang semua-semuanya. Kurang bersyukur, kurang ibadah, kurang percaya. Yaudahlah. Sedih. Tapi yaudahlah. Semoga beruntung di kemudian hari.

Sincerely yours,
Sitia GEL

Tirai No. 35 – A Change of Heart

Pagi ini aku terbangun dari tidurku ketika cahaya matahari menerobos masuk melalui celah tirai jendela kamarku dan sukses membangunkanku dengan kecerahannya. Setelah aku terbangun, seperti biasa, aku keluar rumah untuk menemui kucing liar yang biasa tidur di teras rumahku. Miku namanya.

Sesampainya aku di teras rumahku, alih-alih menemukan Miku, aku justru menemukan pemikiran baru. Bukan menemukan deh… Mungkin lebih tepatnya, aku mengalami perubahan pemikiran… tentang pernikahan.

Tiba-tiba sekali aku berpikir…

Sepertinya menyenangkan ya memiliki keluarga sendiri. Terbangun dari tidur di pagi hari dan memanjakan mata dengan melihat orang yang memberikan rasa nyaman dan aman berada dekat denganku. Apalagi jika ada malaikat kecil yang sedang sibuk mencoba menggigiti kaki kecilnya yang kemudian tersenyum ketika melihat ibunya terbangun. Rasanya aku ingin berkeluarga.

Kemudian realita itu menyeruak masuk…

Mau berkeluarga dengan siapa? Bahkan dengan aku mengompromi/mentolerir beberapa kriteria pasangan hidup yang bukan prinsip, aku tetap bertanya-tanya, apakah ada pria dengan kriteria itu yang mau menikahiku dengan aku yang seperti ini? Iya. Aku meragu. Aku pesimis dan aku minderan.

Tadinya aku ingin menulis post ini dengan nuansa akhir yang penuh optimisme… Ntah kenapa malah berakhir dengan pesimisme. Yaudahlah.

Sincerely yours,
Sitia GEL

Tirai No. 34 – Hai, Halo, Apa Kabar?

Post pertama di tahun 2020 setelah berbulan-bulan mogok menulis. Kembali menulis akibat dorongan obat flu, lagu, dan rindu.

===

Hai. Halo. Apa kabar?

Semoga baik-baik saja ya.

Sekarang aku lagi ngedengerin lagu Lee Hi yang judulnya Breath. Lagu yang dulu sering aku putar ketika mental kamu sedang berada di masa-masa terbawah kamu.

It’s okay to make mistakes sometimes. No one will blame you.”

Sepenggal lirik yang dulu pernah aku tujukan untuk kamu, tampaknya sekarang harus aku tujukan untuk diriku sendiri.

Tepat 1 tahun 3 hari yang lalu hubungan kita berakhir ya. Ternyata move-on itu tidak semudah menghapus coretan pensil di buku tulis ya. Konon katanya perlu bertahun-tahun untuk move-on ya? Kata temanku sih begitu. Ngga tau deh bener apa engga.

Kadang aku bertanya ke diriku sendiri… Do I still love you? Ngga. Do I hate you now? Ngga juga. Rasanya perasaan-perasaan itu sudah lepas, meskipun sesekali rindunya masih ada. Merindu kamu karena sesungguhnya kamu adalah teman yang baik. Ingin kembali berteman denganmu, tetapi rasanya sulit. Meskipun aku mau menjadi temanmu, aku tidak yakin aku bisa menjadi temanmu… dan kamu, aku yakin, sudah tidak ingin berteman denganku. Tidak bisa vs tidak mau. Klop.

Duh obatnya sudah mulai menyebabkan kantuk nih. Doakan ya… Semoga nanti ketika aku berada di titik terendah seperti kamu dahulu, akan ada orang2 yang mendukung aku seperti aku mendukungmu dulu.

Aku pamit.

Sincerely yours,
Sitia GEL.