Tirai No. 38 – Merajuk Kepada Tuhan

Dear Lord…
Help me…
Help me…
Please send me your help…

Dear Lord…
You know how broken I am…
You know how fragile I am…
You know that I need company to strengthen my mental health…

Dear Lord…
I am just a poor human…
I don’t have many good deeds to be traded for your help…
But aren’t You rich, My Lord? Aren’t You The Almighty?
Can’t you grant my wish? Just send me your help.

Just send me your help before I become more damaged than I am today.

Tirai No. 37 – Pagi Ini Aku Menyadari Sesuatu

“Tari…” begitulah aku mendengar namaku dipanggil lembut oleh ibuku. Ibuku berada di kamarnya dan aku berada di kamarku.

“Hemm?” aku menyaut sambil berusaha mendengar apa yang hendak ibuku katakan padaku dari seberang kamar. Aku bisa mendengar suaranya yang berbicara lembut padaku. Aku kira padaku. Ternyata aku salah.

Rupanya, ibuku sedang berbicara di telepon dengan sepupuku yang bernama Abi. Tari dan Abi, memang agak terdengar mirip di telingaku pada saat itu.

Seketika itu aku menyadari sesuatu…

Kenapa suara ibuku melembut ketika dia berbicara kepada orang lain yang bukan anaknya, sedangkan kepadaku intonasinya berubah seperti singa? Tidak selalu, tetapi seringkali. Membuat hati bertanya-tanya… Kenapa? Ada apa? Apa yang salah?

Kemudian aku cemburu.

Aku ingin dipanggil dan diajak berbincang dengan suara lembut yang aku dengar tadi. Aku tidak suka dengan intonasi panggilan dan cara berbincang ibuku yang biasa dia lakukan kepadaku.

Haaaahhhh… lucu sekali ya hidupku ini. Aku sudah berumur 28 tahun tetapi tetap masih saja bertingkah seperti anak kecil yang haus perhatian. Rasanya aku ingin keluar saja dari rumah ini supaya setidaknya aku berada di tempat yang tepat ketika aku merasa haus akan perhatian… because it’s normal to not feel at home when you’re not at home. Ya kan?

Sincerely yours,
Sitia GEL

Tirai No. 36 – Almost Is Never Enough

Hari ini adalah sebuah hari yang amat aku tunggu-tunggu… dimana pada hari inilah informasi kelanjutan Seleksi Kemampuan Bidang (SKB) CPNS diumumkan.

Yak.

Sesuai judul postingan kali ini, dapat diketahui bahwa aku tidak lolos lanjut SKB tsb. Seleksi lanjutan tsb hanya mengambil 3 orang dari 65 orang pelamar, dan aku berada pada peringkat 4 dengan selisih nilai 1 poin saja. Sesungguhnya aku kecewa. Ditambah lagi aku punya teman yang skornya di bawahku tapi dia lolos seleksi untuk lanjut SKB karena formasi yang dia lamar memiliki peminat yang sedikit. Jika formasi incaranku dilamar oleh 65 orang, formasi incaran dia dilamar oleh 3 orang saja. Sungguh membuat iri. Sudah pasti aku sedih, tapi ya… Mau gimana lagi? Konon katanya si bijak, “Ini bukan rejeki kamu. Ada rejeki yang lebih untuk kamu, tapi bukan di sini.” Dan seketika itu aku teringat dengan salah satu lirik lagu Kunto Aji yang judulnya Bungsu.

Cukupkanlah ikatanmu. Relakanlah yang tak seharusnya untukmu.

Emang salah aku sih. Aku kurang semua-semuanya. Kurang bersyukur, kurang ibadah, kurang percaya. Yaudahlah. Sedih. Tapi yaudahlah. Semoga beruntung di kemudian hari.

Sincerely yours,
Sitia GEL

Tirai No. 35 – A Change of Heart

Pagi ini aku terbangun dari tidurku ketika cahaya matahari menerobos masuk melalui celah tirai jendela kamarku dan sukses membangunkanku dengan kecerahannya. Setelah aku terbangun, seperti biasa, aku keluar rumah untuk menemui kucing liar yang biasa tidur di teras rumahku. Miku namanya.

Sesampainya aku di teras rumahku, alih-alih menemukan Miku, aku justru menemukan pemikiran baru. Bukan menemukan deh… Mungkin lebih tepatnya, aku mengalami perubahan pemikiran… tentang pernikahan.

Tiba-tiba sekali aku berpikir…

Sepertinya menyenangkan ya memiliki keluarga sendiri. Terbangun dari tidur di pagi hari dan memanjakan mata dengan melihat orang yang memberikan rasa nyaman dan aman berada dekat denganku. Apalagi jika ada malaikat kecil yang sedang sibuk mencoba menggigiti kaki kecilnya yang kemudian tersenyum ketika melihat ibunya terbangun. Rasanya aku ingin berkeluarga.

Kemudian realita itu menyeruak masuk…

Mau berkeluarga dengan siapa? Bahkan dengan aku mengompromi/mentolerir beberapa kriteria pasangan hidup yang bukan prinsip, aku tetap bertanya-tanya, apakah ada pria dengan kriteria itu yang mau menikahiku dengan aku yang seperti ini? Iya. Aku meragu. Aku pesimis dan aku minderan.

Tadinya aku ingin menulis post ini dengan nuansa akhir yang penuh optimisme… Ntah kenapa malah berakhir dengan pesimisme. Yaudahlah.

Sincerely yours,
Sitia GEL

Tirai No. 34 – Hai, Halo, Apa Kabar?

Post pertama di tahun 2020 setelah berbulan-bulan mogok menulis. Kembali menulis akibat dorongan obat flu, lagu, dan rindu.

===

Hai. Halo. Apa kabar?

Semoga baik-baik saja ya.

Sekarang aku lagi ngedengerin lagu Lee Hi yang judulnya Breath. Lagu yang dulu sering aku putar ketika mental kamu sedang berada di masa-masa terbawah kamu.

It’s okay to make mistakes sometimes. No one will blame you.”

Sepenggal lirik yang dulu pernah aku tujukan untuk kamu, tampaknya sekarang harus aku tujukan untuk diriku sendiri.

Tepat 1 tahun 3 hari yang lalu hubungan kita berakhir ya. Ternyata move-on itu tidak semudah menghapus coretan pensil di buku tulis ya. Konon katanya perlu bertahun-tahun untuk move-on ya? Kata temanku sih begitu. Ngga tau deh bener apa engga.

Kadang aku bertanya ke diriku sendiri… Do I still love you? Ngga. Do I hate you now? Ngga juga. Rasanya perasaan-perasaan itu sudah lepas, meskipun sesekali rindunya masih ada. Merindu kamu karena sesungguhnya kamu adalah teman yang baik. Ingin kembali berteman denganmu, tetapi rasanya sulit. Meskipun aku mau menjadi temanmu, aku tidak yakin aku bisa menjadi temanmu… dan kamu, aku yakin, sudah tidak ingin berteman denganku. Tidak bisa vs tidak mau. Klop.

Duh obatnya sudah mulai menyebabkan kantuk nih. Doakan ya… Semoga nanti ketika aku berada di titik terendah seperti kamu dahulu, akan ada orang2 yang mendukung aku seperti aku mendukungmu dulu.

Aku pamit.

Sincerely yours,
Sitia GEL.

Tirai No. 32 – Mencoba Berpikir Rasional

Sebenarnya…

Kalau dipikir-pikir dengan kepala dingin lagi… hubungan kami dulu tidak semenyenangkan itu ya. Tidak semembahagiakan itu. Terlalu banyak jeda di antara obrolan-obrolan kami dulu. Terlalu banyak sunyi yang menyesakkan dada.

Kalaupun obrolan kami tak berjeda, terlalu banyak topik kosong tak bernyawa di antaranya. Terlalu banyak kata-kata yang terbuang tanpa makna.

Dan kalau dipikir-pikir lagi… Sepertinya memang perpisahan kami ini adalah yang terbaik untuk kami berdua.

Meski demikian… Kenapa ya terkadang (jika tidak mau dikatakan sering) rindu itu datang tiba-tiba tanpa diundang?

Membuat hati bertanya-tanya… Apa sih yang sebenarnya aku rindukan?

Tirai No. 31 – Weekend di Jogja (Day 2)

Masih ingat dengan tujuan liburan kami di Jogja, yaitu mengejar sunset di Pantai Greweng dan sunrise di Pantai Ngrawe? Apa kabar agenda hari pertama mengejar sunset di Pantai Greweng? Failed. Bagaimana dengan agenda hari ini mengejar sunrise di Pantai Ngrawe? No hope. Yah coba dibayangkan ya… Bagaimana ending ceritanya kalo kami baru berangkat ke Pantai Ngrawe sekitar jam 6-an? Masih kekejar ngga tuh sunrise? LOL.

Nasi sudah menjadi bubur, kami tetap berangkat ke Pantai Ngrawe meskipun langit sudah terang. Setidaknya, dengan kami berangkat pagi, Pantai Ngrawe masih belum terlalu ramai dan kami masih bisa menikmati Pantai Ngrawe lebih dulu daripada orang-orang lain.

Fyi, Pantai Ngrawe ini sangat bersebelahan dengan Pantai Kukup sehingga kami memarkirkan mobil di wilayah Pantai Kukup. Yap, semenjak insiden salah pantai, kami (khususnya aku) mulai aware tentang nama pantai yang aku kunjungi. LOL.

Kami menikmati waktu cukup lama di pantai ini. Dimulai dari makan mie dan minum es kelapa sebagai sarapan hingga duduk-duduk di puncak pantai memandangi lautan. My God, if only we could stay longer than that couple of hours!

This slideshow requires JavaScript.

Setelah kami merasa cukup, kami kembali ke penginapan untuk bebersih badan, sarapan (lagi), check-out dan langsung cus ke destinasi selanjutnya. Destinasi kedua untuk hari ini adalah Museum Ulen Sentalu yang konon katanya bagus. Apakah benar bagus? Jawabannya adalah… NGGA TAU! Begitu aku sampai di Ulen Sentalu, aku dan teman-temanku disambut dengan pengunjung museum yang sangat membludak! Saking membludaknya, pengelola museum harus memberlakukan shift masuk ke museum supaya pengunjung dapat bergantian masuk. Pokoknya waiting list saat itu tuh rame banget. Ada kali sampe 50 orang lebih nunggu di area masuk museum cuma buat ngeliat isi museumnya. And me and my friends, having a very tight timeline, decided not to continue our visit. Jadilah kami cuma numpang parkir, numpang solat, dan numpang foto tulisan Ulen Sentalu saja di sana. LOL.

Ulen Sentalu

Ohiya, di Ulen Sentanu ini kami juga ketemuan sama Kak Dika dan istrinya, Mba Galuh.

Dari Ulen Sentalu, kami lanjut ke restoran makanan Korea namanya Dae Jang Geum. Kalo kalian merasa namanya seperti familiar, ya… tidak heran… karena nama Dae jang Geum ini diambil dari drama Korea yang booming bertahun-tahun lalu.

This slideshow requires JavaScript.

Selesai makan, kami langsung menuju Stasiun Jogjakarta untuk mengantarku mengejar kereta kembali ke Jakarta.

Liburan singkat kali ini… sungguh membuat hati senang, bahagia, dan penuh syukur.

Sampai jumpa di liburan singkat dan dadakan lainnya!

Tirai No. 30 – Weekend di Jogja (Day 1)

Beberapa minggu lalu, aku berkesempatan untuk kembali ke Jogjakarta. Aku ingat sekali, ini adalah kali keempat aku berada di Jogja. Kali pertama aku ke Jogja, aku datang bersama teman-teman sekolahku. Berbeda dengan kali pertama, kali kedua aku ke Jogja, aku hanya sendirian saja. Untuk kali ketiga, aku kembali ke Jogja dengan teman-teman konferensiku (sayangnya tidak aku rekam di wordpress ini 😦 ). Nah, untuk kali ini, aku ke Jogja karena ada acara kantor di hari Jumat. Berhubung mepet weekend, sekalian sajalah aku liburan singkat dengan teman kuliahku yang tinggal di sekitar Jogja, yaitu Nurul, Ihsan, dan Bebek.

Pada hari Sabtu setelah check-out, aku langsung menuju hotel tempat Ihsan menginap. Hotel tempat Ihsan menginap ini memang menjadi meeting point kami berempat. Setelah Nurul dan Bebek datang, kami langsung menuju Gunung Kidul. Tujuan liburan kami ini sederhana saja, yaitu mengejar sunset di Pantai Greweng dan sunrise di Pantai Ngrawe.

Tempat pertama yang kami datangi adalah Griya Limasan Gunung Kidul, tempat kami menginap. Hanya dengan membayar Rp350.000,- kami mendapatkan satu kamar dengan fasilitas AC, kamar mandi dalam, air hangat, toilet duduk, dan dua set double bed, plus sarapan. Itungannya, per orang cukup bayar Rp87.500,- saja. Sebagai pecinta hal-hal murah, aku senang sekali~

Griya Limasan

Foto diambil dari Agoda

 

Setelah kami naro barang, kami langsung menuju Pantai Greweng. Nah, di sinilah “drama” dimulai. Ketika kami hampir sampai ke Pantai Greweng, tiba-tiba aku merasa dejavu.

“Kok rasanya aku pernah ngelewatin daerah ini ya? Ah kayaknya perasaanku aja deh,” begitu pikirku dalam hati.

Setelah mobil semakin dekat dengan Pantai Greweng, aku hanya bisa tertawa. Oh my God, I’ve been here before! I’ve been here but I didn’t know the name of this beach! Kemudian teman-temanku itu terkejut dengan pengakuanku. Harap diingat, ekspektasi kami untuk liburan kali ini adalah mengunjungi pantai yang belum pernah aku sambangi. Jadilah mereka malah ngeceng-ngecengin aku. Dan aku hanya bisa tertawa.

Setelah jalan-jalan sebentar di sekitar pantai sampai matahari terbenam, kami memutuskan untuk kembali ke penginapan. Namun, sebelum kami pulang, Bebek inisiatif nanya mastiin nama pantai itu ke tukang parkir sekitar. And guess what, ternyata nama pantainya adalah Pantai Jungwok! And I was like… SINI LU PADA MINTA MAAP SAMA GUE! Udahlah ngeceng-ngecengin gue, eh… salah pulak.

Jadi ternyata… pantai yang awalnya kami kira adalah Pantai Greweng, sebenarnya adalah Pantai Jungwok. Pantai Greweng dan Pantai Jungwok itu memang tetanggaan. Bedanya adalah Pantai Jungwok lebih mudah diakses dibandingkan dengan Pantai Greweng. Kami salah pantai. LOL.

Fyi aja, untuk mencapai Pantai Greweng, kami harus jalan kaki melewati kebun dan hutan dengan jalanan berbatu sekitar 1 km. Berhubung saat itu sudah malam tapi kami masih mau lihat Pantai Greweng, jadilah kami meminta tolong penduduk sekitar untuk mengantar kami ke Pantai Greweng… for fee. Dan aku… tidak menyesalinya. Kondisi di Pantai Greweng yang gelap gulita pada saat kami tiba justru memperjelas kerlap-kerlip cahaya bintang-bintang yang tidak pernah terlihat di perkotaan. Dan aku… sangat bersyukur atas momen itu. Di pantai, pada malam hari, bersama teman-teman satu frekuensi. I was just delighted and grateful.

Selesai menikmati suasana Pantai Greweng di malam hari, kami kembali ke penginapan untuk istirahat demi mengejar sunrise di Pantai Ngrawe. Apa kabar mengejar sunset di pantai tadi? Gagal. Alasannya? Mataharinya ketutupan bukit. Semoga kebayang ya.

Berhubung sekarang ini waktu menunjukkan pukul 23.41, cerita hari kedua akan dilanjut ke post selanjutnya ya. Stay tune!

Tirai No. 29 – 1 dari 64

Takdir itu lucu ya. Mungkin, kalau kisah hidup seorang manusia benar-benar secara detil dibukukan maka akan ada banyak volume yang masing-masing menceritakan tentang kisah keluarga, kisah pertemanan, kisah pendidikan, kisah percintaan, kisah pekerjaan, dll.

Ngomong-ngomong soal kisah pekerjaan, biasanya setiap anak kecil punya pekerjaan impiannya masing-masing. Dulu aku pengen banget jadi dokter. Sayangnya, ketika kesempatan untuk mengenyam pendidikan kedokteran itu datang, kondisi keluarga sedang tidak memungkinkan aku untuk mengambil kesempatan itu. Jadilah dengan berat hati, kulepas kesempatan itu. Gapapa kok… namanya juga takdir.

Setelah hilang keinginan bekerja sebagai dokter, muncullah ketertarikan dengan profesi lain, yaitu menjadi dosen. Kayaknya hampir semua temen deket aku tau deh kalo aku ini suka mengajar dan pengen jadi dosen. Akupun lanjut sekolah S2 karena alasan itu. Tapi… coba tengok sekarang ini aku jadi apa. Aku jadi pegawai kantoran, which is very funny for me. Wkwkwk.

No, aku tidak menghina pekerjaan pegawai kantoran. Yang menurutku lucu adalah fakta bahwa aku harus ngalamin drama terlebih dahulu (keukeuh kuliah S2 di Bandung, kemudian patah hati di Bandung, ngga mau lagi tinggal di Bandung, dan hilang minat menjadi dosen di Bandung) sebelum akhirnya memantapkan hati jadi pegawai kantoran. Yang mana, kalo aku dibandingin sama teman-teman seumuranku maka itungannya aku ini TELAT BANGET. Ketika teman-temanku sudah di naik level atau jabatan beberapa kali, eh aku malah baru masuk kantor. Apa aku iri sama teman-temanku? Errr… engga juga sih. Mungkin Tuhan tau bahwa aku ini drama queen jadi dituliskanlah garis takdirku muter-muter. Wkwkwk. Looking back, I admit that my looking-for-a-job journey wasn’t that bad because I enjoyed every process.

Proses itu dimulai sejak bulan Desember 2018 lalu ketika aku selesai sidang dan revisi tesis. I was unofficially unemployed at that time. Kenapa unofficially? Karena jika dilihat dari sisi status maka aku masih mahasiswa, tapi jika dilihat dari sisi aktivitas maka aku adalah pengangguran. Pada saat itu, aku masih tertarik untuk menjadi dosen. Sayangnya, bulan Desember bukanlah bulan yang tepat untuk mengajukan lamaran sebagai dosen karena biasanya di bulan tersebut lowongan posisi mengajar sudah terisi dan diatur sedemikian rupa sebagai persiapan semester baru. Jadilah aku memutuskan untuk menunggu kemungkinan lowongan baru di semester selanjutnya pada bulan April 2019.

Nah, sembari menunggu bulan April itulah aku random apply kesana kemari dengan niat untuk latihan tes tertulis dan tes wawancara. I know my weakness and my fear, and I also know that to conquer my fear, I have to face it. Jadilah niat aku saat itu adalah untuk latihan tes tertulis dan wawancara karena aku takut banget sama sesi wawancara (because I mostly failed in this session in the past) dan aku lemah sama tes tertulis paulinya salah satu perusahaan favorit. Pfft.

Aku ingat, 8 Januari 2019 adalah awal aku submit lamaran kerja dan bikin logbook daftar pekerjaan yang aku lamar. Dalam satu waktu itu, tercatat aku masukin lamaran ke 14 lowongan. Mantapkan? Wkwkwk. Seiring berjalannya waktu, aku semakin rajin submit lamaran dan daftar pekerjaan yang aku lamar pun otomatis semakin bertambah. Beberapa lamaran ada yang mengundangku untuk ikut online test, beberapa juga mengundangku technical test, tapi saat itu belum ada yang sampai ke tahap wawancara. It’s either because I didn’t pass the former test or I turned down the interview invitation. Why did I turn down the invitation? Pertama, karena aku tidak benar-benar ingin jadi pegawai. Kedua, karena aku belum siap untuk menghadapi ketakutanku itu. Jadilah tawaran wawancara selalu aku tolak dengan alasan aku masih ada proyek dengan dosenku (not a lie tho, I did have a project with my prof).

Semua berubah ketika di sekitar bulan Februari 2019. Silakan baca postingan aku yang ini dan ini. I was brokenhearted. Dan aku ngga nyangka ya, betapa patah hati itu benar-benar bisa merubah cara pandang seseorang. Ketika aku patah hati itu, aku kehilangan minat untuk tinggal di Bandung karena most of our happy memories (and my sad memory) happened in Bandung. Cupu banget yak? Wkwkwk. Gapapa… namanya juga takdir. Hilangnya minat menetap di Bandung itu otomatis menghapus minat aku mengajar di universitas.  Kenapa begitu? Karena aku selalu membayangkan diri aku mengajar di Bandung, lebih spesifik lagi di Telkom University, almamater S1 tercintaku. Nah, setelah fase patah hati itu barulah aku serius nyari kerja sebagai pegawai kantoran. Tapi emang dasar Tuhan tuh suka bercanda ya… giliran aku serius mau kerja kantoran eh tawaran wawancara malah sepi banget. Ahahahahaha.

Suatu hari, tepatnya tanggal 9 April 2019, ada panggilan masuk tidak terjawab dari nomor tak dikenal ke ponselku. Ketika aku cek di Google, ternyata itu adalah nomor telepon Kominfo. Bau-baunya undangan tes tertulis lagi nih. I didn’t call back as I was sure that if they wanted me to take a written test, they would send me an email regarding the detail. Tapi ternyata… tidak ada email masuk dan aku ngga enak mau nelpon balik lagi. Hilanglah kesempatan kerja di Kominfo. Duh. Dasar Beki! Wkwkwk.

Harap diingat, pada saat itu aku sudah hopeless. Keluarga besar sudah mulai mendoakan supaya aku cepat dapat kerja mengingat pada tanggal 6 April 2019 itu aku udah wisuda dan udah officially pengangguran. Hopeless jobless. Wkwkwk.

Ketika harapan untuk kerja di Kominfo hilang, muncullah harapan baru untuk kerja di Huawei. Kebetulan, Huawei ini lagi bukaan besar-besaran dan ngadain walk-in interview pada tanggal 11-12 April 2019. Datanglah aku di waktu dan tempat walk-in interview yang ditentukan. So far… seleksi masuk perusahaan Huawei ini terlihat memberikan secercah harapan karena aku lulus interview HR, user, dan kepala HR sbg perwakilan pimpinan. Aku hanya butuh kepastian offering.

Kemudian pada tanggal 21 April 2019, aku mendapat email baru… sebuah undangan wawancara dari Kominfo. When I read that, I was like… What the heck? I thought I was automatically rejected for not answering their call! But then, things happened so fast. Tanggal 24 April 2019 aku wawancara di Kominfo. Tanggal 6 Mei 2019 aku first day di Kominfo. Dan sesungguhnya, tulisan ini dibuat secara random karena hari ini untuk pertama kalinya aku lembur. Lembur pulang 18.20. Biasanya teng go. Wkwkwk.

Lucu ya. Akhirnya aku kerja di Kominfo. Sebuah tempat yang katanya kalo ngga kenal orang dalem maka ngga bakalan bisa kerja di sana. Sebuah tempat dimana pertanyaan, “Kamu titipan siapa?” itu umum didengar. Apalah aku ini… Ayahku seorang pensiunan dan Ibuku seorang ibu rumah tangga biasa. Ingin sekali sesekali kujawab, “Titipan Yang Maha Kuasa!” Tapi males. Nanti jadi jangkrik. Krik krik.

Kominfo. Sebuah tempat yang ngga pernah aku bayangin bakalan jadi tempat kerja aku. The one out of 64 job applications that I submitted. Alhamdulillah.

Dear Kominfo… Semoga langgeng ya sama aku. ❤

Orientasi Pegawai Baru

Find me if you can!