Kuri dan Maxie

Baru saja terbangun dari tidur siang, dan hal pertama yang muncul di otak saya adalah dia. (Atau lebih tepatnya, mereka)
Yaitu hewan-hewan yang pernah dekat dengan saya.
Untuk kasus paling baru saat ini adalah kura-kura saya dan seekor kuda.

Beberapa bulan lalu saya membeli seekor bayi kura-kura RES.
Kuri, begitu saya menamakannya.
Semua berjalan lancar ketika kami tinggal di Bekasi.
Masalah mulai muncul ketika kami pindah ke Bandung.
Seratus persen itu salah saya.

Saya tau bahwa Kuri tidak kuat dingin.
Dan dengan segala keegoisan saya, saya sengaja tidak membelikan heater untuk Kuri. “Dia harus belajar beradaptasi dengan cuaca dingin.” Begitu pikir saya. Saya bermain peran sebagai seorang ibu yang mempersiapkan anaknya untuk keadaan terburuk, padahal nyatanya saya justru mepertaruhkan nyawa Kuri.
Bahkan ketika Kuri mulai terlihat bersin-bersin, saya tidak membawanya ke dokter. Seseorang pernah satu kali mengatakan sesuatu ke saya tepat saat Kuri sakit mata untuk pertama kalinya. Kata-kata itu sangat menancap di otak saya sehingga saya memutuskan untuk mencoba “saran” tersebut. “Daripada kamu ke dokter hewan bayar mahal, mending kamu beli kura-kura baru.” Bahkan hingga titik terakhir saya sadar penyakit Kuri makin parah, kata-kata itu masih saja saya terapkan. Please do not judge me. I am still in pain.

Akhirnya, 5 hari lalu, Kuri mati. Bukan karena penyakitnya, melainkan karena saya yang dengan egoisnya membawa dia ke Bandung padahal saya tau dia tidak kuat dingin.
And it broke my heart melihat tubuh mungilnya tergelatak tanpa daya, tidak merespon sedikitpun dari segala cara yang saya lakukan untuk membangunkan dia.

Akhirnya…
Keegoisan saya menjadi bumerang untuk diri saya.
Saya yang patah hati dengan kematian Kuri.
Saya yang mengutuk kebodohan yang saya lakukan kepada Kuri.
Semua itu salah saya.

Dalam rangka menghibur hati, saya mendaftar kelas memanah dan berkuda di Daarussunnah Daarut Tauhid.

Di kelas berkuda itulah saya bertemu Max -saya lebih suka memanggil dia Maxie.
Kuda jantan berwarna coklat tua. Tubuhnya gagah, kekar, dan sangat tinggi besar.
Tidak… Maxie bukanlah kuda yang saya tunggangi. Terlalu besar resikonya bagi pemula untuk menunggani Maxie yang keturunan kuda non lokal.
Saya bertemu Maxie tidak disengaja.
Maxie dan penjaganya sedang jalan-jalan saja, melewati saya dan teman saya yang sedang sibuk mengabadikan momen menggunakan kamera.
Baiknya penjaga Maxie adalah dia menawarkan Maxie untuk difoto bersama.
Jadilah saya dan teman saya berfoto bersama Maxie.
Itulah awal saya mulai menyukai Maxie.

Maxie tidak seperti kuda-kuda lain yang saya lihat sebelumnya.
Maxie sangat tenang. Jauh lebih tenang dibandingkan dengan kuda-kuda lain.
Semakin saya mengusap-usap wajah Maxie, semakin saya merasa nyaman berada di dekat Maxie.
Semakin saya merasa nyaman, semakin saya ingin membawa Maxie jalan-jalan hanya berdua dengan saya.
Saya beranikan meminta izin penjaga Maxie untuk membawa Maxie jalan-jalan.
Saya pasti tampak seperti orang paling norak dan aneh pada saat itu. Tapi saya tidak peduli. Saya hanya ingin berdua saja dengan Maxie.
Penjaganya mengizinkan.
Jadilah saya dan Maxie menghabiskan waktu dengan jalan-jalan bersama.
Saya menyukainya.

Seperti saya yang sangat ingin Kuri kembali,
saya pun ingin Maxie kembali.

Semoga nanti ketika kami bertemu lagi, mereka masih mengingat saya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Maafkan tulisan tanpa tujuan ini. *peace*

Tentang Driver Gojek, Map, dan Rumah Saya

Postingan kali ini berisi tulisan semua, agak panjang, tapi insyaAllah bermanfaat.

Pagi ini saya memesan layanan kurir gojek untuk mengantar pesanan kebab dari rumah saya ke rumah pembeli. Yap. Kami jualan kebab. Ada yang berminat? Dengan enam puluh ribu rupiah saja, Anda bisa mendapatkan satu kotak kebab mini isi sepuluh. *promosi*

Seperti biasa, setelah order saya ditangkap oleh salah satu driver, driver tersebut menelpon dan menanyakan lokasi persis rumah saya.

Yang tidak biasa kali itu adalah tiba-tiba saya ingin memantau posisi driver di map gojek selama perjalanan ke rumah saya. Penasaran saja apakah map gojek tersebut benar-benar bisa melihat posisi driver secara realtime.

Setelah saya amati…

Oh, ternyata mapnya benar-benar realtime. Benar-benar seperti GPS pada umumnya. -_-

Kemudian, saya amati lagi map tersebut.

Setelah driver masuk gerbang perumahan saya, driver tersebut tidak langsung menuju titik yang saya tunjukkan (rumah saya). Driver tersebut malah belok ke sebuah jalan yang namanya agak mirip dengan jalan rumah saya. Di situ saya merasa heran. Kenapa driver tersebut belok ke jalan yang salah, padahal di map sudah jelas terlihat bahwa rumah saya tidak terletak di jalan itu?

Oh. Mungkin tadi si driver bertanya dulu ke pak satpam di gerbang perumahan, namun petunjuk yang diberikan pak satpam tidak akurat. Mungkin.

Kemudian saya lihat melalui map, si driver berhenti sejenak di ujung jalan yang salah tadi.

Oh. Mungkin kali ini si driver sedang mengecek lokasi rumah saya melalui map di ponselnya. Mungkin.

Setelah berhenti sejenak, driver tersebut putar balik dan menuju arah yang sesuai dengan yang saya tunjukkan di map. Saya pikir, kali ini si driver tidak akan kesasar. Namun ternyata saya salah. Driver tersebut lagi-lagi salah ambil jalan. -_-

Saya lihat dia berhenti sejenak lagi. Ternyata dia berhenti untuk menelpon. Setelah diarahkan melalui telepon, akhirnya driver tersebut sampai juga di rumah saya.

Saat itu saya terus menerus bertanya-tanya. Kenapa driver tersebut tidak mengikuti arahan sesuai map? Kenapa? Kenapa? Dan kenapa?

Sampai akhirnya tebersit sebuah pemikiran di otak saya.

 

PERINGATAN:
Di bawah ini adalah sebuah perumpamaan SANGAT sederhana tanpa melibatkan variabel-varibel kompleks karena apabila variabel kompleks turut dilibatkan, perumpamaannya pun akan turut menjadi kompleks, dan otak saya tidak mampu untuk memikirkannya.

 

Bagaimana jika si driver adalah saya (bisa juga Anda), orang Islam yang sedang mencari surga Allah? Bagaimana jika rumah saya adalah surga Allah yang saya cari? Bagaimana jika map adalah petunjuk paling jelas untuk mencapai surga Allah, yaitu Al-Qur’an dan Al-Hadits?

Sangat lucu, mengherankan, sekaligus mengesalkan, untuk melihat saya yang mencari-cari surga Allah namun belum berpegangan penuh pada Al-Qur’an dan Al-Hadits. Jujur saja, menurut saya, menjalankan keduanya itu berat. Mungkin seperti si driver yang tidak mengikuti sesuai arah map dengan berbagai alasan, mulai dari alasan mapnya ada tapi susah menggunakannya, sampai alasan tidak ada map sama sekali.

Ketika driver memasuki jalan yang salah, yang namanya mirip dengan nama jalan rumah saya, padahal mungkin sebelumnya sudah bertanya terlebih dahulu kepada pak satpam yang dianggapnya hafal jalan di perumahan, saya melihatnya seperti saya yang menuju arah yang salah saat mencari surga Allah, padahal saya sudah bertanya kepada orang yang saya anggap lebih berilmu dalam hal agama Islam daripada saya, seperti ustadz. Bisa saja, saya salah arah karena saya salah memahami jawaban ustadz. Bisa saja, saya salah arah karena ustadz salah menafsirkan pertanyaan saya. Atau bahkan, bisa saja, orang yang saya anggap ustadz tersebut ternyata tidak memiliki ilmu yang mumpuni dalam agama Islam, atau lebih parah, orang yang saya anggap ustadz tersebut ternyata tidak memiliki pemahaman ajaran Islam sesuai Al-Qur’an dan Al-Hadits.

Ketika driver berhenti sejenak untuk melihat lagi alamat lengkap rumah saya dan berusaha menafsirkan sendiri petunjuk map namun tetap kesasar, saya melihatnya seperti saya yang berusaha menafsirkan sendiri Al-Qur’an dan Al-Hadits padahal ilmu saya sangat dangkal. Yang oleh karena itu, setau saya, tidak sembarang orang boleh menafsirkan Al-Qur’an dan Al-Hadits. Hanya orang-orang yang berilmu agama yang sangat dalam yang bisa dan boleh menafsirkannya. Nah, apa kabar dengan orang-orang awam seperti saya? Itulah gunanya berguru. Berguru = belajar dengan guru, bukan belajar sendiri/otodidak. Dan ketika berguru pun harus peka melihat dan memilih mana guru yang benar dan mana guru yang tidak benar. Jangan hanya saklek berguru pada satu orang guru.

Jika saja driver tersebut benar-benar memahami cara menggunakan map maka driver tersebut akan tiba di rumah saya tanpa membuang-buang waktu, tenaga, pikiran, pulsa telepon, batere ponsel dan bensin motor. Mungkin sama seperti saya. Jika saja saya mengamalkan Al-Qur’an dan Al-Hadits sepenuhnya maka saya akan tiba di surga Allah tanpa perlu capek dan menyia-nyiakan banyak hal. Astagfirullah. 😦

Seperti manfaat map, yang saya anggap memberikan petunjuk jalan paling mudah ke lokasi tujuan, sudah pasti Al-Qur’an dan Al-Hadits pun memberikan petunjuk jalan paling mudah untuk mencapai surga Allah, melindungi diri dari hal-hal yang menyia-nyiakan seperti dunia yang fana dan melenakan ini contohnya.

Semoga pemikiran saya ini memberikan cara pandang baru bagi sesama pemeluk agama Islam sehingga menjadi semangat untuk mengikuti Al-Quran & Al-Hadits dan istiqomah dalam menjalani ajaran Islam yang sesungguhnya. Aamiin.

.

.

.

ps: maaf ya jika judulnya seperti clickbait 🙂

.

.

.

pps: saya tidak bermaksud menggurui ataupun sok tau ya, peace~ 

Sawarna, Aku Bahagia

Another short trip I recently did. Sawarna.

Trip kali ini bisa dibilang masih ada hubungannya dengan last trip. Jadi ceritanya, pas kemaren aku dan teman-temanku berlibur ke Pantai Santolo tanggal 31 Des ’14 – 1 Jan ’15, ada salah satu temanku yang harus rela ngga ikut ke Santolo karena dia ngejar sidang di bulan Januari. Jadi lah setelah selesai dia beres dengan sidangnya, dia ngajakin anak-anak ke pantai sebagai upaya “balas dendam” karena ngga bisa ikut ke Santolo sebelumnya.

Satu pesan penting dari aku ketika jalan-jalan adalah… jangan lupa bawa fotografer beserta perlengkapannya! Karena sayang banget deh kalo jalan-jalan tapi ngga foto-foto. Perhatiin deh foto-foto last trip aku, kemudian bandingin sama foto-foto trip aku kali ini. BEDA BANGET KERENNYA. Pas aku ke Santolo itu, ngga ada yang namanya fotografer handal. Yah sekedar pencet tombol doang mah semua orang bisa… tapi kan ngga semua orang bisa ngatur settingan kamera, gimana bagusnya buat mengabadikan momen. Gitu-gitu deh… 🙂

Berikut foto-foto aku dan teman-temanku selama di Sawarna.

 

Timeline trip to Sawarna:

23.00 WIB – 05.45 WIB   Perjalanan ke Sawarna dengan 2 mobil

05.45 WIB – 16.00 WIB   Berbahagia menyambangi 4 pantai

16.00 WIB – 18.00 WIB   Perjalanan pulang ke Bandung

18.00 WIB – 18.15 WIB    Foto-foto sunset di pantai terakhir, selewatan jalan pulang -entah apa namanya

18.15 WIB – 01.30 WIB   Perjalanan pulang ke Bandung. MAAACEEEETTT!!!

 

IMG_0297Peta Lokasi Objek Wisata Sawarna

 

You

Biarkan aku mengenangmu. 🙂

Santolo. 31 Desember 2014 – 1 Januari 2015.

I Did Love You

Hari ini aku iseng buka folder-folder yang ada di laptop. Tak disangka, ternyata keisenganku berujung pada sebuah nostalgia.

Inisialnya adalah BPP. Mantan keduaku. Mantan terindah.
Aku dan dia berpacaran tanggal 1 September, dan memutuskan untuk berpisah pada hari ke-27 di bulan dan tahun yang sama. Terlalu singkat? Memang.

Saat ini aku sedang membaca chat antara aku dan dia yang sempat aku abadikan di laptopku.

hey hacker-ku sayang..
aku suka kamu deh.. hhi..

OH. MY. GOD. Aku penasaran, ketika aku bilang ke dia seperti itu, apakah dia hanya menganggap itu hanyalah sebuah candaan?
OH. MY. GOD. Aku berani jamin, bahwa saat itu aku benar-benar suka sama dia. I DID love him. Dan mungkin sampe sekarang aku masih suka sama dia, meskipun rasa suka saat ini sudah berbeda dibandingkan rasa suka pada waktu dulu.

Aku pernah cerita tentang BPP ini ke Danang. Kurang lebih seperti ini:

Aku: “Kita jadian cuma 27 hari. Gue ngga pernah tau dia suka juga atau ngga sama gue. Gue yang suka dia. Gue yang nembak. Dia nerima setelah gue ngajak jadian empat kali. Sampe hari ke-27, dia ngajakin putus. With no reason. Sejak beberapa hari sebelumnya dia udah ngajakin putus tapi gue ngga mau. Tapi ngga tau kenapa pas tanggal 27 itu gue malah ngelepasin dia. Ah stupid me. Sebel.”
Danang: “No, you did the right thing.”
Aku: “Really? Why?”
Danang: “Pertama, kamu udah jatuhin harga dirimu. Kedua, dia ngga tegas menentukan sikap. Ketiga, hidupmu masih panjang. Biasanya cowo kalo ngga yakin, lebih berharap nemu cewe yang lebih. Intinya cowok rata-rata suka kalo mendapatkan cewek dengan effort. Dan ketika ada cewe mendekat dan dia ngga srek, dia bakal geje antara iya atau tidak.”
Aku: “Lalu? Udah gitu aja? Mungkin dia belum yakin sama perasaannya kan? Mungkin kalo aku tahan dia agak lama, dia bakalan ngerasain hal yang sama kayak aku.”
Danang: “Udah, ngga bakal kok. Ngeperjuangin cinta itu hanya ada di ftv sama abg. Kalo udah gede kan bakal lebih rasional aja. Kalo suka bilang suka. Udah.”
Aku: “Hahahaha… Kamu sukses ngancurin imajinasi aku tentang dia. Hahahha… Sedih. Hahahha… Penyakit orang jatuh hati… Delusional. Hahhaha.”

Kalian tau, aku ini orang yang cuek, tapi bisa saja sekali waktu aku menjadi sangat sensitif. 😦

Duh aku kangen dia.

Dan masih, aku baca chat antara aku dan dia. Dia terlalu sabar. Dia terlalu baik. Aku suka dia. Tapi mau gimana atuh? Da aku mah apa atuh? Dia anak baik dan aku super bandel. Ngga cocok banget. Yasudahlah.

Nur Rizki Yulizar

Kalian pernah ngga sih punya temen yang aneh, yang cupu, dan yang ngga ada apa-apanya? Gue sih yakin kalian pasti punya temen kayak gitu, atau minimal pernah kenal lah. Kalo gue? Gue punya. Nur Rizki Yulizar namanya. Panggil aja, Ijar.

Pertemanan pertama kita (kalo gue ngga salah inget) itu di kepanitiaan Elko Fair. Sebelumnya gue udah kenal sama dia, meskipun cuma sebatas tau doang sih, karena awalnya dia itu adalah temen sekelasnya temen gue. Dari dulu sampe beberapa bulan lalu, gue melihat Ijar ini sebagai anak biasa aja, cenderung cupu dan lemah, bahan ceng-cengan, sering aneh. Kok rasanya pandangan gue ke Ijar jelek-jelek semua ya? Hahahha… engga kok… Ijar juga baik kok, dan lucu lagi. Makanya gue mau temenan sama dia. 🙂

Pandangan jelek gue ke Ijar (Ijar lemah, dsb) beberapa bulan lalu berhasil terpatahkan. Ngga cuma terpatahkan, tapi juga berubah menjadi bentuk kekaguman. Iya Jar, kalo lo baca postingan gue kali ini, gue deklarasikan secara jelas bahwa GUE KAGUM SAMA ELU. Jangan kegeeran! 🙂

Gue ngga bilang kalo gue dan Ijar adalah temen deket ya, tapi gue berani memastikan bahwa hubungan pertemanan gue dan Ijar di saat ini jauh lebih deket, dibandingkan dengan pertemanan kita dulu. Gue mencoba mengingat-ingat awal mula gue dan Ijar mulai deket, tapi duh dasar gue pelupa jadi gue ngga bisa nge-trace nya. Yang gue inget justru pas gue dan Ijar makan capcay malem-malem di depan MSU. Sudahlah. -_-

Kekaguman pertama gue mulai tumbuh ketika dia bilang, dia bekerja. Fyi, dia tuh masih kuliah, sama seperti gue, bedanya adalah dia bekerja dan gue tidak. Dan pernyataan dia itu (bahwa dia sambil bekerja) membuat gue terkesima. Alasan dia bekerja sih simple menurut gue. Simple, dan so sweet. Dia bilang, dia bekerja karena pengen ngasih kado ke bokapnya pake uang dia sendiri. Aslina, eta so sweet pisan!

Karena Ijar cerita kalo dia nyambi kerja, nyeletuklah gue, “Ajak-ajak gue sih!”

Singkat cerita, jadilah gue direkrut Ijar untuk jadi dayang-dayangnya. -_- Dan menjadi dayang-dayangnya, secara perlahan membuka pintu-pintu kekaguman gue yang lainnya. Secara garis besar, ada dua kekaguman yang tumbuh sejak gue menjadi dayang-dayangnya. Yang pertama adalah tentang percintaan, dan yang kedua adalah tentang pekerjaan.

Dimulai dari sisi pekerjaan aja dulu deh ya…

He is a hardworker. Pada dasarnya, sesama teman pekerja di tempat gue ini emang hebat-hebat kalo ngomongin soal kerjaan. Tapi… ini… Ijar loh… Nur Rizki Yulizar loh… temen yang gue anggap lemah. Jadi jatoh-jatohnya gue kagum karena gue ngga nyangka aja gitu si lemah ini ternyata jauh lebih strong dari apa yang gue pikirkan. (Suuzdzon sih lu!)
Sebenernya, pekerjaan gue dan Ijar itu mudah. Sangat mudah malah. Yang bikin sulit adalah ketika deadline udah deket, atau ketika tim kami harus komunikasi dengan Si Pocari Sweet. Ijar sanggup untuk tidur hanya satu jam sehari untuk menyelesaikan tugas-tugasnya. What the hell! Setiap kali Ijar bekerja, di mata gue, image si Ijar ini berubah drastis dari Ijar-si-lemah menjadi Ijar-si-pekerja-keras-yang-super-strong-dan-karismatik. Ngga kuat deh eyke.

Project Administration Team

Project Administration Team ❤

Lanjut ke kisah percintaannya.

Kalian udah liat kan foto di atas? Liat kan kalo di foto itu ada wanita lain selain gue? Itu lah sebut saja Eddu. Cewe yang dia suka. Kalo kalian mikir si Ijar ini cinlok di tempat kerja, gue akan dengan sangat ikhlas berusaha meluruskan pemikiran kalian.
Tidak… Ijar suka Eddu bukan karena mereka ketemu di tempat kerja ini. Ijar suka Eddu udah sejak lama. Ijar suka Eddu  sejak Eddu belum punya pacar, sampe Eddu punya pacar, sampe Eddu putus pula dari pacarnya itu. Duh. Ya kalo diitung-itung, mungkin rasa suka Ijar ke Eddu udah berjalan sekitar dua tahun. GIlak! Kalo kalian ngeh satu hal ttg gue, kalian pasti ngerti kalo untuk gue, yang jarang suka sama orang lebih dari enam bulan, menahan rasa suka selama itu bukanlah hal yang mudah.
Dan yang lebih gilak lagi, si Ijar ini NGGA berniat untuk macarin Eddu. Maka muncullah pertanyaan dari gue ke Ijar, “Jar… kalo lo ngga ada niatan untuk macarin si Eddu, buat apa lo deketin dia?”
Jawaban Ijar adalah: “Niat gue sih Bek, pengen gue deketin orangnya, sampe kalo udah jadi deket, gue pengen nanya boleh ngga gue main ke rumah dia buat ngelamar.” Gue… shock. Ohmen. Aaaakkk mauuuu… Aslina ya, di titik ini gue kagum sama Ijar sampe-sampe mungkin gue bisa jadi suka sama Ijar. Ehiya… OOT… gue heran deh, gue tuh udah mencapai titik kagum dan terpesona banget sama Ijar, tapi kenapa ya gue ngga sampe suka sama Ijar? Hahahaha… padahal kan biasanya gue lemah. Hahahahha.
Obrolan gue dan Ijar ngga berhenti sampe situ. Gue lemparlah pertanyaan lanjutan ke Ijar.
Gue : “Jar, seandainya si Eddu ternyata suka juga sama elu gimana?”
Ijar : “Ya gapapa.”
Gue : “Apakah bakalan lo pacarin?”
Ijar : “Ya engga. Gue suruh tunggu. Tunggu sampe gue siap. Kalo pas gue siap, dia malah udah ngga suka lagi, ya berarti dia bukan buat gue.” Oh God. JAR PLIS PACARIN GUE AJAH! Hahahahaha…
Salutlah gue ke dia. Beda banget sama gue yang bilangnya gamau pacaran, tapi kenyataannya agak melekong. Zzz…

Ohiya… berikut gue sertakan foto Ijar versi unyu yang sempet gue capture. Tadaaa~

Dear Ijar, semoga lo tetap bertahan pada prinsip lo itu. Aamiin.
Sincerely yours, Beki si dayang yang terbuang.