Tirai No. 10 – Do People Change?

“Bek, ngga mungkin Pak Okoj itu berubah sifatnya!” ujar Laniaz setelah mendengar kata-kataku yang mengharapkan Pak Okoj berubah menjadi lebih baik.

“Orang itu ngga akan berubah, Bek. Yang berubah itu cuma topengnya.” tambahnya lagi.

Benarkah begitu?

Menurutku, tidak.

Menurutku, pemikiran yang mempercayai bahwa seseorang tidak akan pernah berubah adalah salah satu contoh pemikiran yang menyedihkan. Mungkin dalam hidup temanku itu, dia tidak pernah melihat seseorang yang berubah secara ekstrem. Atau mungkin, dia tidak menyadari adanya perubahan itu. Tapi untukku, aku melihat sendiri perubahan itu. Aku melihat perubahan sifat seseorang dari negatif menjadi positif, meskipun itu membutuhkan waktu BERTAHUN-TAHUN.

Kata ‘bertahun-tahun’ tersebut aku garis bawahi, aku tebalkan, dan aku tulis dengan huruf kapital untuk menekankan bahwasannya seseorang itu membutuhkan proses untuk berubah. Dan proses di sini bisa membutuhkan waktu yang singkat maupun waktu yang lama. Jadi, menurutku, semua orang itu PASTI bisa berubah, hanya saja waktu yang dibutuhkan untuk tiap orang itu berbeda-beda.

Jadi ya… cuma karena sifat Pak Okoj yang saat ini agak-agak kurang mengenakkan, tidak semestinya Laniaz ini beranggapan kalo Pak Okoj akan seperti itu selamanya. Sesungguhnya menyedihkan sekali melihat betapa pesimisnya temanku ini. Melihat dia menutup kemungkinan adanya perubahan baik itu.

Ngomong-ngomong soal people change, aku jadi inget sesuatu.

Beberapa waktu lalu, ada seseorang yang menyatakan perasaannya sama aku. Kondisinya pada saat itu, aku dan orang ini, sebut saja Mr. Z, tinggal di daerah yang berbeda, which means aku dan Mr. Z jadi jarang bertemu dan bertukar pesan satu sama lain meskipun pada jaman dahulu kala, aku dan Mr. Z ini bisa bertatap muka dan berkomunikasi hampir setiap hari. But anyway, dia menyatakan perasaannya ke aku… and I rejected him. Setelah drama penolakan itu, aku dan Mr. Z dipertemukan kembali dalam sebuah pesta. Entah apa penilaian Mr. Z terhadap aku selama pertemuan di pesta itu, yang jelas setelah pesta berakhir dan kami kembali ke rumah masing-masing, aku menerima pesan singkat dari Mr. Z.

“Lo berubah. Gue ngga kenal siapa lo sekarang.”

Isi pesannya singkat ya? Meskipun singkat, namun pesan itu mampu mencerminkan kondisi aku dan Mr. Z yang sebenarnya. Aku akui, aku memang berubah. Namun, aku membalas pesannya dengan mengatakan bahwa aku merasa tidak berubah.

No. Aku tidak berbohong. Ada bagian dari diri aku yang berubah dan ada sebagian lain yang tetap sama. Aku merasa aku tidak berubah dalam hal memperlakukan teman-temanku secara equal. Dan Mr. Z adalah salah satu temanku yang hadir dalam pesta itu. Di sisi lain, aku juga merasa bahwa aku berubah dalam hal pemikiran. Hal-hal yang dulu aku anggap biasa, kini menjadi suatu hal yang aku hindari. Dan mungkin, perubahan pemikiranku itulah yang dirasakan Mr. Z, meskipun selama di pesta tidak ada diskusi yang berarti antara aku dan Mr. Z.

Well, the point is  that I believe that people change.

I change.

Dan wanita yang disukai Mr. Z pada saat dia menyatakan perasaannya bukanlah aku yang sekarang, melainkan aku yang dulu yang waktu itu masih sering bersama dia.

Bagaimana menurut kalian?

Apakah kalian setuju dengan kata-kata Laniaz bahwa seseorang itu tidak akan pernah bisa berubah, atau kalian setuju dengan aku yang mempercayai bahwa people change, sooner or later?

Tirai No. 8 – One of The Most Sad Thing

I think one of the most sad thing the world is when you cannot be yourself because of social pressure or religious reason or anything else.

Like for examples…

One of my friend told me how badly he wants go out to night club, but he has never do it. His reason is simple. He doesn’t want to be judged as someone bad. Weird, I think. I mean like… how bad is that to go to a night club, listen to music, and dance???

Another friend of mine also told me how he misses drinking wine and smoking, things he used to do. He stop doing those things now, but one of the reason why he decided to stop is the pressure he felt from his circle when he did those things -other than health issue. Yes, tru, smoking and drinking are bad to your body, but what’s with the pressure? As long as he does not disturb other people with his smoke and drink.

And my lesbian and gay friends also told me how they keep on trying to hide their identity, their sex preference. I can see how hard they try to be seen as heterosexual people, like one of them decided to have opposite gender partner just to cover the real partner, and the other decided to introduce the partner as the bestfriend.

And last… Someone I know, once told me that sex before marriage should not be seen as something sinful or immoral. Why? Because she thinks that the desire to have sex is natural. It exist by nature, just like breathing. Immoral is when you force someone to have sex with you a.k.a you rape ’em. Immoral is when you decide to kill your own child just because you don’t want it. But the sex itself, it is not immoral, she said.

For all the examples above that happened to my friends, it doesn’t mean that I agree with them. But just because of my disagreement, it doesn’t mean that I can judge them negative easily, right? Like for example, I am a moeslem and I have no problem with people who have different believes from me, eventhough I don’t accept Chirstianity or Budism or other believes. I don’t jugde them by their religious view. It is simply called tolerance. When you don’t agree with something but you have to deal with it, you tolerate. And I think, they don’t have to feel scared or guilty for the thing they want to be. They don’t have to feel insecure just because they are minority. But I guess that’s the problem with being minority.

Agree?

Or still no? Haha.

And again… I hope y’all can be tru to yourself because it is just sad if you can’t be yourself.

Peace.

Kuri dan Maxie

Baru saja terbangun dari tidur siang, dan hal pertama yang muncul di otak saya adalah dia. (Atau lebih tepatnya, mereka)
Yaitu hewan-hewan yang pernah dekat dengan saya.
Untuk kasus paling baru saat ini adalah kura-kura saya dan seekor kuda.

Beberapa bulan lalu saya membeli seekor bayi kura-kura RES.
Kuri, begitu saya menamakannya.
Semua berjalan lancar ketika kami tinggal di Bekasi.
Masalah mulai muncul ketika kami pindah ke Bandung.
Seratus persen itu salah saya.

Saya tau bahwa Kuri tidak kuat dingin.
Dan dengan segala keegoisan saya, saya sengaja tidak membelikan heater untuk Kuri. “Dia harus belajar beradaptasi dengan cuaca dingin.” Begitu pikir saya. Saya bermain peran sebagai seorang ibu yang mempersiapkan anaknya untuk keadaan terburuk, padahal nyatanya saya justru mepertaruhkan nyawa Kuri.
Bahkan ketika Kuri mulai terlihat bersin-bersin, saya tidak membawanya ke dokter. Seseorang pernah satu kali mengatakan sesuatu ke saya tepat saat Kuri sakit mata untuk pertama kalinya. Kata-kata itu sangat menancap di otak saya sehingga saya memutuskan untuk mencoba “saran” tersebut. “Daripada kamu ke dokter hewan bayar mahal, mending kamu beli kura-kura baru.” Bahkan hingga titik terakhir saya sadar penyakit Kuri makin parah, kata-kata itu masih saja saya terapkan. Please do not judge me. I am still in pain.

Akhirnya, 5 hari lalu, Kuri mati. Bukan karena penyakitnya, melainkan karena saya yang dengan egoisnya membawa dia ke Bandung padahal saya tau dia tidak kuat dingin.
And it broke my heart melihat tubuh mungilnya tergelatak tanpa daya, tidak merespon sedikitpun dari segala cara yang saya lakukan untuk membangunkan dia.

Akhirnya…
Keegoisan saya menjadi bumerang untuk diri saya.
Saya yang patah hati dengan kematian Kuri.
Saya yang mengutuk kebodohan yang saya lakukan kepada Kuri.
Semua itu salah saya.

Dalam rangka menghibur hati, saya mendaftar kelas memanah dan berkuda di Daarussunnah Daarut Tauhid.

Di kelas berkuda itulah saya bertemu Max -saya lebih suka memanggil dia Maxie.
Kuda jantan berwarna coklat tua. Tubuhnya gagah, kekar, dan sangat tinggi besar.
Tidak… Maxie bukanlah kuda yang saya tunggangi. Terlalu besar resikonya bagi pemula untuk menunggani Maxie yang keturunan kuda non lokal.
Saya bertemu Maxie tidak disengaja.
Maxie dan penjaganya sedang jalan-jalan saja, melewati saya dan teman saya yang sedang sibuk mengabadikan momen menggunakan kamera.
Baiknya penjaga Maxie adalah dia menawarkan Maxie untuk difoto bersama.
Jadilah saya dan teman saya berfoto bersama Maxie.
Itulah awal saya mulai menyukai Maxie.

Maxie tidak seperti kuda-kuda lain yang saya lihat sebelumnya.
Maxie sangat tenang. Jauh lebih tenang dibandingkan dengan kuda-kuda lain.
Semakin saya mengusap-usap wajah Maxie, semakin saya merasa nyaman berada di dekat Maxie.
Semakin saya merasa nyaman, semakin saya ingin membawa Maxie jalan-jalan hanya berdua dengan saya.
Saya beranikan meminta izin penjaga Maxie untuk membawa Maxie jalan-jalan.
Saya pasti tampak seperti orang paling norak dan aneh pada saat itu. Tapi saya tidak peduli. Saya hanya ingin berdua saja dengan Maxie.
Penjaganya mengizinkan.
Jadilah saya dan Maxie menghabiskan waktu dengan jalan-jalan bersama.
Saya menyukainya.

Seperti saya yang sangat ingin Kuri kembali,
saya pun ingin Maxie kembali.

Semoga nanti ketika kami bertemu lagi, mereka masih mengingat saya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Maafkan tulisan tanpa tujuan ini. *peace*

Tentang Driver Gojek, Map, dan Rumah Saya

Postingan kali ini berisi tulisan semua, agak panjang, tapi insyaAllah bermanfaat.

Pagi ini saya memesan layanan kurir gojek untuk mengantar pesanan kebab dari rumah saya ke rumah pembeli. Yap. Kami jualan kebab. Ada yang berminat? Dengan enam puluh ribu rupiah saja, Anda bisa mendapatkan satu kotak kebab mini isi sepuluh. *promosi*

Seperti biasa, setelah order saya ditangkap oleh salah satu driver, driver tersebut menelpon dan menanyakan lokasi persis rumah saya.

Yang tidak biasa kali itu adalah tiba-tiba saya ingin memantau posisi driver di map gojek selama perjalanan ke rumah saya. Penasaran saja apakah map gojek tersebut benar-benar bisa melihat posisi driver secara realtime.

Setelah saya amati…

Oh, ternyata mapnya benar-benar realtime. Benar-benar seperti GPS pada umumnya. -_-

Kemudian, saya amati lagi map tersebut.

Setelah driver masuk gerbang perumahan saya, driver tersebut tidak langsung menuju titik yang saya tunjukkan (rumah saya). Driver tersebut malah belok ke sebuah jalan yang namanya agak mirip dengan jalan rumah saya. Di situ saya merasa heran. Kenapa driver tersebut belok ke jalan yang salah, padahal di map sudah jelas terlihat bahwa rumah saya tidak terletak di jalan itu?

Oh. Mungkin tadi si driver bertanya dulu ke pak satpam di gerbang perumahan, namun petunjuk yang diberikan pak satpam tidak akurat. Mungkin.

Kemudian saya lihat melalui map, si driver berhenti sejenak di ujung jalan yang salah tadi.

Oh. Mungkin kali ini si driver sedang mengecek lokasi rumah saya melalui map di ponselnya. Mungkin.

Setelah berhenti sejenak, driver tersebut putar balik dan menuju arah yang sesuai dengan yang saya tunjukkan di map. Saya pikir, kali ini si driver tidak akan kesasar. Namun ternyata saya salah. Driver tersebut lagi-lagi salah ambil jalan. -_-

Saya lihat dia berhenti sejenak lagi. Ternyata dia berhenti untuk menelpon. Setelah diarahkan melalui telepon, akhirnya driver tersebut sampai juga di rumah saya.

Saat itu saya terus menerus bertanya-tanya. Kenapa driver tersebut tidak mengikuti arahan sesuai map? Kenapa? Kenapa? Dan kenapa?

Sampai akhirnya tebersit sebuah pemikiran di otak saya.

 

PERINGATAN:
Di bawah ini adalah sebuah perumpamaan SANGAT sederhana tanpa melibatkan variabel-varibel kompleks karena apabila variabel kompleks turut dilibatkan, perumpamaannya pun akan turut menjadi kompleks, dan otak saya tidak mampu untuk memikirkannya.

 

Bagaimana jika si driver adalah saya (bisa juga Anda), orang Islam yang sedang mencari surga Allah? Bagaimana jika rumah saya adalah surga Allah yang saya cari? Bagaimana jika map adalah petunjuk paling jelas untuk mencapai surga Allah, yaitu Al-Qur’an dan Al-Hadits?

Sangat lucu, mengherankan, sekaligus mengesalkan, untuk melihat saya yang mencari-cari surga Allah namun belum berpegangan penuh pada Al-Qur’an dan Al-Hadits. Jujur saja, menurut saya, menjalankan keduanya itu berat. Mungkin seperti si driver yang tidak mengikuti sesuai arah map dengan berbagai alasan, mulai dari alasan mapnya ada tapi susah menggunakannya, sampai alasan tidak ada map sama sekali.

Ketika driver memasuki jalan yang salah, yang namanya mirip dengan nama jalan rumah saya, padahal mungkin sebelumnya sudah bertanya terlebih dahulu kepada pak satpam yang dianggapnya hafal jalan di perumahan, saya melihatnya seperti saya yang menuju arah yang salah saat mencari surga Allah, padahal saya sudah bertanya kepada orang yang saya anggap lebih berilmu dalam hal agama Islam daripada saya, seperti ustadz. Bisa saja, saya salah arah karena saya salah memahami jawaban ustadz. Bisa saja, saya salah arah karena ustadz salah menafsirkan pertanyaan saya. Atau bahkan, bisa saja, orang yang saya anggap ustadz tersebut ternyata tidak memiliki ilmu yang mumpuni dalam agama Islam, atau lebih parah, orang yang saya anggap ustadz tersebut ternyata tidak memiliki pemahaman ajaran Islam sesuai Al-Qur’an dan Al-Hadits.

Ketika driver berhenti sejenak untuk melihat lagi alamat lengkap rumah saya dan berusaha menafsirkan sendiri petunjuk map namun tetap kesasar, saya melihatnya seperti saya yang berusaha menafsirkan sendiri Al-Qur’an dan Al-Hadits padahal ilmu saya sangat dangkal. Yang oleh karena itu, setau saya, tidak sembarang orang boleh menafsirkan Al-Qur’an dan Al-Hadits. Hanya orang-orang yang berilmu agama yang sangat dalam yang bisa dan boleh menafsirkannya. Nah, apa kabar dengan orang-orang awam seperti saya? Itulah gunanya berguru. Berguru = belajar dengan guru, bukan belajar sendiri/otodidak. Dan ketika berguru pun harus peka melihat dan memilih mana guru yang benar dan mana guru yang tidak benar. Jangan hanya saklek berguru pada satu orang guru.

Jika saja driver tersebut benar-benar memahami cara menggunakan map maka driver tersebut akan tiba di rumah saya tanpa membuang-buang waktu, tenaga, pikiran, pulsa telepon, batere ponsel dan bensin motor. Mungkin sama seperti saya. Jika saja saya mengamalkan Al-Qur’an dan Al-Hadits sepenuhnya maka saya akan tiba di surga Allah tanpa perlu capek dan menyia-nyiakan banyak hal. Astagfirullah. 😦

Seperti manfaat map, yang saya anggap memberikan petunjuk jalan paling mudah ke lokasi tujuan, sudah pasti Al-Qur’an dan Al-Hadits pun memberikan petunjuk jalan paling mudah untuk mencapai surga Allah, melindungi diri dari hal-hal yang menyia-nyiakan seperti dunia yang fana dan melenakan ini contohnya.

Semoga pemikiran saya ini memberikan cara pandang baru bagi sesama pemeluk agama Islam sehingga menjadi semangat untuk mengikuti Al-Quran & Al-Hadits dan istiqomah dalam menjalani ajaran Islam yang sesungguhnya. Aamiin.

.

.

.

ps: maaf ya jika judulnya seperti clickbait 🙂

.

.

.

pps: saya tidak bermaksud menggurui ataupun sok tau ya, peace~ 

Astagfirullah

I love my family so much to the point where I am afraid that I love them more than I love my God, Allah.

I love to sing so much to the point where I am afraid that I love to sing more than I love to recite my Holy Book, AlQuran.

There are many things in this world that I love so much that I am afraid that this world becomes my ultimate goal in life while it has to be the afterlife.

Astagfirullah.

I Did Love You

Hari ini aku iseng buka folder-folder yang ada di laptop. Tak disangka, ternyata keisenganku berujung pada sebuah nostalgia.

Inisialnya adalah BPP. Mantan keduaku. Mantan terindah.
Aku dan dia berpacaran tanggal 1 September, dan memutuskan untuk berpisah pada hari ke-27 di bulan dan tahun yang sama. Terlalu singkat? Memang.

Saat ini aku sedang membaca chat antara aku dan dia yang sempat aku abadikan di laptopku.

hey hacker-ku sayang..
aku suka kamu deh.. hhi..

OH. MY. GOD. Aku penasaran, ketika aku bilang ke dia seperti itu, apakah dia hanya menganggap itu hanyalah sebuah candaan?
OH. MY. GOD. Aku berani jamin, bahwa saat itu aku benar-benar suka sama dia. I DID love him. Dan mungkin sampe sekarang aku masih suka sama dia, meskipun rasa suka saat ini sudah berbeda dibandingkan rasa suka pada waktu dulu.

Aku pernah cerita tentang BPP ini ke Danang. Kurang lebih seperti ini:

Aku: “Kita jadian cuma 27 hari. Gue ngga pernah tau dia suka juga atau ngga sama gue. Gue yang suka dia. Gue yang nembak. Dia nerima setelah gue ngajak jadian empat kali. Sampe hari ke-27, dia ngajakin putus. With no reason. Sejak beberapa hari sebelumnya dia udah ngajakin putus tapi gue ngga mau. Tapi ngga tau kenapa pas tanggal 27 itu gue malah ngelepasin dia. Ah stupid me. Sebel.”
Danang: “No, you did the right thing.”
Aku: “Really? Why?”
Danang: “Pertama, kamu udah jatuhin harga dirimu. Kedua, dia ngga tegas menentukan sikap. Ketiga, hidupmu masih panjang. Biasanya cowo kalo ngga yakin, lebih berharap nemu cewe yang lebih. Intinya cowok rata-rata suka kalo mendapatkan cewek dengan effort. Dan ketika ada cewe mendekat dan dia ngga srek, dia bakal geje antara iya atau tidak.”
Aku: “Lalu? Udah gitu aja? Mungkin dia belum yakin sama perasaannya kan? Mungkin kalo aku tahan dia agak lama, dia bakalan ngerasain hal yang sama kayak aku.”
Danang: “Udah, ngga bakal kok. Ngeperjuangin cinta itu hanya ada di ftv sama abg. Kalo udah gede kan bakal lebih rasional aja. Kalo suka bilang suka. Udah.”
Aku: “Hahahaha… Kamu sukses ngancurin imajinasi aku tentang dia. Hahahha… Sedih. Hahahha… Penyakit orang jatuh hati… Delusional. Hahhaha.”

Kalian tau, aku ini orang yang cuek, tapi bisa saja sekali waktu aku menjadi sangat sensitif. 😦

Duh aku kangen dia.

Dan masih, aku baca chat antara aku dan dia. Dia terlalu sabar. Dia terlalu baik. Aku suka dia. Tapi mau gimana atuh? Da aku mah apa atuh? Dia anak baik dan aku super bandel. Ngga cocok banget. Yasudahlah.